Aug 25, 2010

SBY vs. Obama

Politik pencitraan vs. politik pasang badan

* tulisan straight to the point yg akan direspon oleh tulisan juga *

Presiden dan Evasi Eksekutif
Kompas, Senin, 23 Agustus 2010 | 02:45 WIB
Mochtar Pabottingi

PADA peringatan Hari Konstitusi di Gedung MPR/DPR, Presiden SBY melontarkan suatu wacana yang mengundang tanda tanya.

Dia menegaskan "akan mengakhiri masa jabatannya sebagai presiden pada akhir periode kedua dan tidak akan memperpanjang masa kepemimpinannya dengan mengubah konstitusi" (Kompas, 19/8). Weleh! Weleh! Pernyataan ini seperti mendadak turun dari langit. Nalarnya lemah, terasa dicari-cari, dan karena itu langsung mengguratkan kernyit di kening.

Dalam wacana publik sepanjang pemerintahannya tak pernah terbetik adanya kekhawatiran mendasar bahwa Presiden SBY akan mengubah konstitusi untuk kembali berkuasa hingga 2019. Kita dapat memahami jika imbauan untuk mempertahankannya satu periode lagi datang dari Ruhut Sitompul—dan tampaknya memang hanya dia yang bisa melontarkan imbauan demikian.

Kita juga mengerti jika benar Lee Kuan Yew melontarkan imbauan serupa. Kita cukup tahu siapa Lee bagi Indonesia. Bagi saya, Ruhut maupun Lee mengimbau ke negeri antah berantah. Disayangkan, lagi-lagi, mengapa Presiden menanggapinya secara serius di tempat yang serius.

Jika Presiden SBY beserta segenap pendamping, pengiring, dan juru bicara setianya mau benar-benar menyimak lubuk hati masyarakat bangsa kita terutama dalam setahun terakhir ini, maka mereka rata-rata akan berjumpa dengan sesuatu yang sama sekali lain dari "wacana lima tahun lagi". Mereka umumnya akan berhadap-hadapan dengan keresahan dan keprihatinan yang begitu luas bukan hanya tentang ke mana negara kita mau dibawa oleh para pelaksananya, melainkan lebih-lebih sampai seberapa jauh lagi bangsa kita bisa tahan dengan pembiaran negara yang skalanya kian meluas.

Dalamnya keresahan dan keprihatinan ini juga tergambar pada harian Kompas yang bahasanya selama ini selalu santun. Harian ini tak urung menulis bahwa "potensi kemungkinan Indonesia menjadi 'negara gagal' semakin besar" ("Kesalehan Sosial Bangkrut") dan bahwa negara kita memerlukan "terobosan radikal dengan prioritas jelas" (Tajuk "Persoalan Berlapis-Lapis", Kompas, 10/8). Dengan tingkat keresahan dan keprihatinan ini, "lima tahun lagi" adalah sungguh jauh panggang dari api.

Tantangan terbesar

Tantangan terbesar Presiden SBY datang dari atau berada dalam dirinya sendiri. Dia terlalu kerap berwacana sebagai pengamat, terlalu sering mengimbau dan mengadu, dan terlalu banyak menghabiskan waktu membangun citra ilusif. Kesibukan demikian membuatnya hampir selalu bersikap evasif, menunda konfrontasi dengan masalah, dan keranjingan mendelegasikan persoalan—sama sekali tidak fully in charge.

Presiden seolah-olah tidak menyadari bahwa dialah pemimpin eksekutif—pengambil keputusan, bukan pemimpin pengelak, juru tunda, atau solisitor keputusan dari para bawahannya. Inisiatif utama dan eksekusi tegas untuk mengatasi simpul- simpul persoalan kenegaraan yang selama ini mendera masyarakat semestinya berasal, bertumpu, dan bertolak dari diri dan kantor presiden, sebab memang itulah tugas inheren kepresidenan.

Jika Presiden SBY benar pengagum Amerika Serikat, dia bisa menarik rangkaian pelajaran segar-prima dari Presiden Obama. Setelah setahun lebih memimpin Amerika, kita tahu bahwa Obama telah tampil sebagai "logam mulia". Ia tak gentar berhadap-hadapan langsung dengan lawan-lawan utama politiknya atau dengan tantangan-tantangan besar yang kini dihadapi bangsanya.

Dia tidak memasuki gelanggang hanya untuk membangun citra dari soal-soal sepele yang kebetulan menyita perhatian publik. Dia memprakarsai dan melancarkan solusi-solusi centennial atas tantangan-tantangan besar tadi. Sudah dua tiga kali dia memasang badan tepat di ujung tombak tantangan.

Pemahaman konsisten-progresif

Kontras dengan SBY, Obama sama sekali tidak sibuk membangun citra, apalagi dari mengurusi soal-soal yang bisa ditangani jenjang otoritas bertingkat-tingkat di bawahnya. Dia tak takut kehilangan popularitas. Ketegasan pendiriannya menyangkut rencana pembangunan The Cordoba Islamic Center dengan masjid di dalamnya yang diprakarsai oleh Imam Feisal Abdul Rauf dua blok dari "Ground Zero" 9/11 kembali membuktikan hal itu.

Landasan utama Obama adalah pemahaman konsisten-progresifnya akan konstitusi Amerika serta ketegaran-tulusnya berdiri di situ. Bebas dari rekayasa pepesan kosong, darinya terpancar hati yang teguh dan bersih, kerja yang penuh dan gigih. Maka, tanpa dipoles-poles, adicitra yang menyata dari sosok Obama sejauh ini adalah benar-benar sebagai "logam mulia".

Tanpa pemenuhan harapan rakyat dari Presiden SBY, sulit membayangkan kemurnian dan signifikansi pengikut Lee-Ruhut, jika pun ada, dengan lantunan koor "Encore!" Sejujurnya, dari suara-suara di sekitar kita, yang terbetik dominan justru adalah kecemasan merata tentang apakah bangsa kita sanggup menanggungkan begitu banyak pembiaran dari mayoritas pelaksana pemerintahan, terutama di jajaran eksekutif, selama empat tahun lagi! Alih-alih mendengarkan lagu-lagu melankolis dari istana, yang justru sudah terus mengentak adalah lagu Barbara Streissand, "Enough is enough!"

Jika kita ikhlas mau menyelamatkan republik kita dari nasib "negara gagal", mari bersama mengimbau Presiden untuk berhenti bercitra-hampa, berhenti terus menghindar ("Itu bukan wilayah saya, itu bukan wewenang saya"), dan mulai sungguh-sungguh memasuki gelanggang sebagai pemimpin eksekutif sejati.

Percayalah bahwa jika pun ada, amat sangat sedikit rakyat yang menginginkan Pak SBY terus repot memimpin Indonesia hingga 2019. Tetapi darinya seluruh rakyat sudah lama merindukan rangkaian langkah yang konkret meringankan beban mereka dan tidak melulu memedulikan mereka dalam citra, yang riil memberantas korupsi dan tidak melulu memberantasnya dalam citra—apalagi sembari terus membiarkan KPK diobok-obok dalam babak-babak dagelan pengadilan yang sama sekali tidak lucu!

Mochtar Pabottingi Peneliti Senior


Aug 24, 2010

Indonesianist Peneliti Keraton Yogyakarta

"Saya sebenarnya sudah separuh pensiun, tetapi tidak bisa diam dan ingin terus belajar..."


Menggelar Indonesia di Mancanegara
Selasa, 24 Agustus 2010 | 02:43 WIB
KOMPAS/MAWAR KUSUMA WULAN
JENNIFER LINDSAY

MAWAR KUSUMA

Abdi dalem Keraton Yogyakarta, KRT Rintaiswara, menyodorkan buku katalog karya Jennifer Lindsay saat menjelaskan kekayaan koleksi manuskrip di Kewedanaan Hageng Punakawan Perpustakaan Widya Budaya. Buku itu menjadi panduan bagi mereka yang ingin mempelajari manuskrip tentang Keraton Yogyakarta.

Lindsay, peneliti Australia itu, membuat buku proyek mikrofilm naskah di Keraton Yogyakarta dibantu dua rekannya, RM Soetanto dan Alan Feinstein, tahun 1985. Proyek itu atas permintaan Sultan Hamengku Buwono IX. Setelah 20 tahun kemudian buku karyanya itu masih menjadi satu-satunya katalog manuskrip Keraton Yogyakarta.

Tak berhenti pada manuskrip keraton, dia terus menunjukkan ketertarikannya pada budaya dan sejarah Indonesia. Kini perempuan kelahiran Selandia Baru itu memimpin proyek penelitian "Indonesia's Cultural History 1950-1965: in Search of a Lost Legacy". Pada proyek ini dia meneliti dan menulis misi kesenian Indonesia ke luar negeri.

Ia mewawancarai langsung para pelaku seni budaya era 1950-1965-an yang merupakan duta Indonesia ke berbagai negara. Dia menangkap, betapa pentingnya budaya sebagai alat diplomasi saat Indonesia masih berusia muda.

"Dari awal, saya sangat menghargai mereka yang memilih hidup tidak gampang," ujarnya.

Selain menghasilkan buku penelitian 20 penulis, dibantu Australia-Netherlands Research Collaboration Scheme, Lindsay juga menyutradarai film dokumenter, Menggelar Indonesia. Film ini berisi wawancara dengan 30 duta seni budaya Indonesia pada awal kemerdekaan, yang menjadi produk sampingan penelitiannya.

Film itu diputar gratis di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surakarta, dan Bali. Rencananya, Menggelar Indonesia juga akan diputar di perguruan tinggi dan komunitas lain di luar negeri. Ia mengaku senang karena para pelaku sejarah itu kembali diperhatikan, sekaligus menginspirasi kaum muda untuk menghargai sejarah.

Bersama Bulantrisna Djelantik, Irawati Durban Ardjo, dan Menul Robi Sularto, Lindsay memproduksi film dokumenter berdurasi 90 menit itu. Sebelumnya, ia meneliti periode awal kemerdekaan Indonesia selama setahun. Buku hasil penelitian kolaborasi baru itu akan dirilis awal September nanti. "Film ini arsip sejarah. Tak hanya sejarah Indonesia, tapi sejarah dunia," katanya.

Lindsay prihatin sebab perhatian masyarakat pada era 1950-1965 amat kurang. "Saya terkesan, pada awal berdirinya Republik ini, budaya begitu penting. Budaya yang membawa Indonesia ke luar negeri sekaligus membentuk rasa Indonesia di dalam negeri," tambahnya.

Kecintaan bertahap

Kecintaannya kepada Indonesia dibangun bertahap. Pertama kali menjejakkan kaki di Indonesia pada usia 19 tahun, Lindsay jatuh cinta pada budaya Indonesia. Itulah kali pertama dia ke luar negeri. Ia tinggal di Yogyakarta selama enam tahun, sejak 1971. Di sini Lindsay belajar gamelan, bahasa Indonesia, dan bahasa Jawa.

Ingin semakin mengenal Indonesia, ia melanjutkan kuliah S-2 di Cornell University, Amerika Serikat, pada 1978-1980. Ia mengambil jurusan Sejarah Asia Tenggara. Pemilihan jurusan Sejarah itu, diakuinya, sebenarnya aneh. Sebab, ia pernah tak lulus mata kuliah Sejarah saat kuliah S-1 Sastra Inggris di Victoria University of Wellington, Selandia Baru.

Lindsay lalu melanjutkan S-3 jurusan Kajian Indonesia di University of Sydney, Australia. Katalog mikrofilm naskah Keraton Yogyakarta adalah buku pertama yang ditulisnya, ketika menggelar penelitian PhD pada 1981-1983. Disertasinya diterbitkan tahun 1991, berjudul Klasik, Kitsch, Kontemporer: Sebuah Studi Mengenai Pertunjukan Jawa.

Setelah menyelesaikan S-3, ia bekerja pada Australia Council, membidangi kebijakan kesenian dengan pendanaan dari pemerintah. Dia lalu diangkat sebagai Atase Kebudayaan Australia di Kedutaan Australia di Jakarta pada 1989-1992. Dia juga sempat bekerja di Ford Foundation, Jakarta. Selanjutnya, Lindsay mengajar pada program Asia Tenggara di National University of Singapore, menjadi peneliti tamu pada Asia Research Institute, serta dosen Kajian Pagelaran Asia di University of Sydney. Karier mengajarnya berhenti tahun 2006 ketika ia memutuskan pensiun dan fokus sebagai penulis, penerjemah, dan peneliti.

Kini dia menjadi peneliti tamu pada School of Culture, History and Language, College of Asia and the Pacific, di Australia National University (ANU). Sejak tahun 2008 ia juga menjadi peneliti tamu pada International Institute of Asian Studies and KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal, Land en Volkenkunde) Leiden, Belanda.

Menguasai segudang pengetahuan tentang sejarah dan budaya Indonesia, Lindsay merasa semakin tidak tahu apa-apa. Semua pelajaran tentang budaya ataupun sejarah yang telah dipelajarinya, semuanya terasa baru dan menarik.

"Semakin tua, semakin belajar sesuatu yang baru, saya semakin merasa tidak tahu," katanya.

Ia yakin, setiap orang tak akan bisa memahami masa sekarang tanpa melirik masa lalu. Sejatinya, sejarah adalah sesuatu yang mengasyikkan dan menarik. Sejarah sama sekali tidak kering. Sejarah bukan sekadar masa lalu, melainkan menjadi bagian dari kekinian.

Jennifer Lindsay bercerita, kecintaannya terhadap seni budaya sudah tertanam sejak masih kanak-kanak. Orangtuanya berprofesi sebagai pemusik. Ayahnya dirigen orkes dan pemain violin, sedangkan ibunya antara lain bermain piano. Lindsay kecil pun belajar bermain piano dan selo. Maka dia juga menyukai hampir semua jenis musik, bukan hanya gamelan Jawa.

Perempuan yang lebih senang disebut sebagai pemerhati budaya itu mengatakan, ia akan terus memberikan pemikirannya bagi Indonesia. Ikatan batin Lindsay dengan Indonesia dan teman-temannya di Indonesia membuat dia lebih sering menghabiskan waktu di Indonesia dibandingkan di Selandia Baru atau Australia.

"Saya sebenarnya sudah separuh pensiun, tetapi tidak bisa diam dan ingin terus belajar (tentang Indonesia)," katanya menegaskan.

Sumber: Kompas, 24/8/10

Aug 17, 2010

Kicauan Seputar Makna Kemerdekaan

Selected Tweets seputar Peringatan Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 2010

hattarajasa Kemerdekaan itu mustahil bila kita tak percaya pada kemampuan dan kekuatan tangan kita sendiri. Dirgahayu Negeriku #Indonesia65

desianwar Merdeka itu kedewasaan. Membakar bendera negara tetangga menunjukkan kita belum dewasa

NajwaShihab Dear Pak Beye, ini acara kenegaraan bkn arisan keluarga. RT @VIVAnewsGroup: Buku Anak Sulung SBY Jadi Souvenir Istana http://bit.ly/9MTiyE

ulil Inget guyonan alm. KH. Qosim Nurseha: kalau sedang puasa, dilarang menjunjung tinggi tanah air. | Tanah air=kendi. Maksudnya: minum.

pramonoanung Yg membanggakan dr upacara di Istana ; tampilan Paskibraka dan paduan suara anak2 yg bagus... Eh Kapolri hadir, sehat dan banyak senyum.

ulil Hubbul watan minal iman: cinta tanah air adalah bagian dari iman. #merdeka

NajwaShihab Merdeka itu bisa kritis tanpa takut dituding tidak patriotis. #Indonesia65

anasurbaningrum Kemerdekaan adalah terbebas dari perpecahan, dendam, korupsi, ketakutan, kemiskinan dan keterbelakangan. Merdeka!

ulil Ini bangsa besar, jangan sampai ada bangsa2 lain yg meremehkan dan men-tetek-bengek-kan bangsa ini!" kata Surya Paloh.

gm_gm Bisakah kita, bbrp menit ini, berhenti mencemooh sesama kita, dari posisi politik manapun, selama ia tak menentang ke-Indonesia-an kita?

tifsembiring Kemerdekaan bukan hadiah, tapi hasil perjuangan, pengorbanan darah, harta, air mata dan nyawa. Kita berdaulat, tdk boleh didikte bgs lain

bangfauzibowo Dirgahayu HUT RI ke-65. Amanah Reformasi tanggungjawab kita bersama. Mari berperan aktif sukseskan pembangunan. Wujudkan Indonesia sejahtera

komar_hidayat Org yg ditahanan demi membela kbenaran, membela rakyat dan bangsa adl org yg merdeka ketimbang pejabat korup meski dg fasilitas hidup mewah.