Mar 20, 2012
Dec 5, 2010
Kiat Membaca Buku Tebal
Speed reading is indeed a skill to die for...
Murid yang pandai di sekolah pasti karena rajin membaca. Mereka rajin membaca buku-buku pelajarannya.
Selain itu, mereka juga suka membaca buku-buku di luar pelajaran. Tentu saja buku-buku yang bermanfaat untuk menambah ilmu pengetahuan, dan yang pasti ada hubungannya secara tak langsung dengan pelajaran di sekolah.
Karena itu, membaca adalah sangat penting. Masalahnya, selain suka membaca adalah mencari cara agar kita dapat membaca dengan cepat. Masih banyak buku yang belum kita baca masih berderet menunggu giliran.
Di bawah ini ada beberapa kiat agar kita dapat membaca cepat dan menguasai bahan bacaan dalam waktu singkat:
Biasakan berdoa sebelum membaca. Berdoa ini penting agar niat kita membaca buku untuk menambah ilmu pengetahuan dapat tercapai.
Apabila kita sudah berniat perlu konsentrasi. Tanpa konsentrasi, sulit bagi kita untuk dapat menyerap isi bacaan. Untuk itu buatlah suasana tempat membaca dalam keadaan tenang, sehingga tanpa gangguan apa pun.
Kebiasaan membaca dengan bersuara justru mengurangi konsentrasi karena perhatian kita terganggu oleh suara kita sendiri.
Dengan tanpa suara, maka mata, hati, dan pikiran dapat tertuju sepenuhnya pada apa yang kita baca. Isi bacaan dapat langsung masuk ke dalam otak.
Salah satu penyebab lambatnya kita membaca karena kita membaca kata demi kata. Biasakan membaca kalimat per kalimat, karena setiap kalimat mengandung suatu pengertian yang utuh.
Bagi kita yang sedang belajar bahasa asing, hal ini justru menjadi kebiasaan yang baik. Karena apabila kita hanya terpaku pada satu kata yang tidak kita mengerti, akan menghambat proses bacaan selanjutnya.
Cara ini juga akan mempercepat kemahiran bahasa, baik yang kita pakai sehari-hari maupun bahasa asing yang baru dipelajari.
Membaca sudah pasti dengan mata, tetapi ada sebagian dari kita yang mempunyai kebiasaan membaca sembari jari tangan diletakkan di atas kata-kata yang kita baca.
Penggunaan jari tangan atau alat lain yang semula dimaksudkan untuk mempermudah kita membaca, justru akan mengganggu proses membaca itu sendiri.
Biarkanlah mata kita berjalan sendiri mengikuti arah huruf.
Membuat catatan ringkas tentang apa yang kita baca berguna untuk mempermudah mengingat kembali. Hal ini juga bisa dibantu dengan melihat ulang daftar isi.
Mungkin ada bagian yang kurang kita pahami atau cepat lupa. Bagian tersebut dapat dibaca ulang sehingga kita akan lebih memahami apa yang baru dibaca.
Membaca cepat perlu banyak latihan. Baik waktu belajar di sekolah, di rumah, maupun di luar waktu pelajaran.
Kita dapat mempergunakan cara ini dengan sebaik-baiknya untuk melatih diri membaca cepat.
Semakin terlatih akan semakin ringan tugas-tugas kita membaca buku, baik pelajaran sekolah maupun bacaan tambahan.
Jangan Takut Buku Tebal
Semakin kita bertambah usia, dari anak-anak ke masa remaja, apalagi setelah menginjak dewasa, pasti beban bacaan akan semakin berat. Akan tetapi, kita tidak perlu takut apabila suatu ketika nanti akan dihadang oleh buku-buku tebal yang wajib di- baca. Di perpustakaan sekolah atau perpustakaan umum lazim terdapat deretan buku-buku tebal.
Kita juga tidak perlu khawatir apabila kita sudah membiasakan diri membaca cepat. Jadi kita tidak perlu kagum lagi apabila melihat orang-orang pandai yang kaya ilmu menekuni buku-buku tebal karena mereka sudah tahu kiatnya membaca dengan cepat.
Selain itu, kita juga perlu memilih buku-buku yang sesuai dengan kebutuhan usia. Semakin banyak buku yang kita miliki di rumah, kita akan semakin bangga di depan teman-teman sekolah.
Apabila sebagian buku tidak sempat kita beli, perpustakaan di sekolah atau perpustakaan umum dapat kita manfaatkan sebaik-baiknya.
Marilah mulai sekarang kita jadikan membaca cepat sebagai kebiasaan yang positif.
Pramudito, Penulis Lepas Tinggal di Depok, Jawa Barat
Sumber: Kompas, 5 Dec 10
Posted by
Emil Jayaputra
at
Sunday, December 05, 2010
1 comments
Labels: Sastra
Kwik Ing Hoo - Ilustrator Wiro, Anak Rimba Indonesia
Seno Gumira Ajidarma Kwik Ing Hoo meninggalkan dunia ini pada Minggu 28 November setelah mencapai usia 89 tahun. Para pelayat di rumah duka Dharma Agung, Teluk Buyung, Bekasi, pada hari itu kemungkinan besar hanya mengenalnya sebagai seorang Rahmat Junus, ayahanda Toni Junus, dan bukan ilustrator komik Wiro, Anak Rimba Indonesia, yang digubahnya bersama Lie Djoen Liem sebagai penulis teks, yang telah pindah ke Amerika Serikat. Padahal, Wiro adalah komik Indonesia yang monumental. Ada selapis generasi di Indonesia, yang pada masa kecilnya di tahun '50-'60-an begitu bangga berkalung katapel sembari berayun dari dahan ke dahan, tiada lain karena membaca Wiro. Komik seri Wiro yang terbit dalam sepuluh jilid sejak tahun 1956 adalah komik Indonesia yang paling unik, paling terkenal, dan paling penting di antara para "Tarzan lokal" karena keberhasilannya membumikan karakter Tarzan ke dalam sebuah konteks Indonesia. Dengan pengakuan terbuka di dalam naratif atas sumber inspirasinya, yakni komik dan film-film tentang Tarzan dari Amerika Serikat, Wiro bahkan seperti membalikkan sudut pandang "meniru" itu dengan pembukaan: berbagai surat kabar "di seluruh dunia", seperti Herald, World Gazette, Saturday Post, dan Morning Post, memberitakan ditemukannya Wiro, yang film tentang dirinya itu, Wiro, The Jungle Boy, diputar di bioskop Rex, Luxor, ataupun Capitol. Bioskop itu tentulah maksudnya berada di Amerika Serikat, dan film itu tentulah sebuah film dokumenter produksi The American Motion Picture Coy, hasil pekerjaan Dr Watson, yang bersama Miss Lana, seorang ahli serangga, melakukan perjalanan keluar-masuk rimba raya Indonesia. Mereka nyaris terbunuh ketika ditawan "gerombolan orang-orang liar" di dalam hutan Sumatera Utara jika tidak diselamatkan Wiro, yang kemudian bergabung untuk menjelajahi rimba seperti cita-citanya. Ya, Wiro adalah seorang murid sekolah dasar yang kurang bagus prestasinya di kelas, tetapi akrab dengan binatang, hebat dalam olahraga, dan selalu membaca komik-komik Tarzan di bawah sinar lampu tempel sampai jauh malam. "Mungkinkah aku berhadapan dengan Tarzan? Siapakah dikau adanya," tanya Dr Watson ketika ikatan tangannya dibuka Wiro. "Aku bukan Tarzan, tetapi …. Wiro anak Indonesia," jawab Wiro dengan tenang. Prasangka rasis dan eksotisisme Berbeda dengan pendahulunya, Tarzan of the Apes karya Edgar-Rice Burroughs pada 1912 yang tidak luput dari prasangka rasis, bahwa orang kulit putih lebih superior dibandingkan dengan orang kulit hitam, maka keberadaan Wiro sebagai anak Indonesia yang menggantikan posisi Tarzan jelas mengubah oposisi tersebut, karena dalam perubahan dari wacana kolonial menuju wacana pascakolonial memang tampak berlangsung politik identitasnya sendiri dalam proses pelepasan ikatan dari sindrom kolonial. Dalam proses, prasangka tidak langsung menghilang. Jika Tarzan adalah bayi manusia yang dirawat kera, maka Wiro meninggalkan rumah dan masuk hutan setelah mengalami tindak kekerasan dari ayah tirinya. Melalui pengembaraannya di dalam hutan, para penggubah komik ini berpeluang menampilkan segenap fauna dengan semangat majalah National Geographic (meski terdapatnya badak di Papua tentu menimbulkan tanda tanya), yakni memperkenalkannya sebagai bagian dari keindahan alam ataupun hukum rimba, yang terpaksa dicampuri Wiro ketika mendapatkan sahabat-sahabatnya: Tesar, harimau yang terjebak akar; Kongga, induk orangutan yang anaknya diselamatkan Wiro dari sambaran ular; dan Sambo, gajah sumatera yang ditolongnya setelah tertimpa batu besar. Adapun monyet kecil Kala, didapatkan Wiro pertama kali sebelum masuk hutan, karena memang dijual di pasar. Demikianlah Wiro menjadi komik Tarzan yang Indonesia sentris. Dalam jenis ilustrasi naratif alias komik tanpa balon, teks dan gambar tampak cocok, seperti ada kerja sama yang saling menanggapi, sehingga bagaikan tiada bagian gambar yang tidak dijelaskan. Segala kewajaran yang membuat pembacaan tidak terganggu, menunjukkan keterampilan tinggi yang tidak begitu mudah ditandingi, yang tentu juga menunjuk kepada tingkat keahlian Kwik Ing Hoo sebagai ilustrator yang tidak dapat pula diingkari. Namun, justru terhadap "kewajaran" sebagai wacana, pendekatan realisme yang meyakinkan sebagai "kenyataan" ini, harus dilakukan sikap kritis. Posisi Dr Watson dan Miss Lana, misalnya, jelas tetap teracu kepada wacana kolonial, dalam oposisi biner klasik bahwa kulit putih superior dan dalam Wiro ini "pribumi" tetap inferior; seperti ditunjukkan dalam berbagai bentuk: teknologi kamera, buku-buku ilmu pengetahuan, arsenal senapan dan tank, para portir yang mirip "jongos" (selalu berpeci), dan apalagi penggambaran suku-suku di pedalaman ataupun di pantai, yang lebih teracu kepada eksotisisme dalam komik dan film Tarzan dari Hollywood daripada suku-suku di pedalaman Indonesia itu sendiri. Apabila kemudian rombongan ini lantas "membasmi" sisa serdadu Jepang di Papua, semakin jelas dalam wacana pascakolonial ini pun posisi superior kulit putih tidak tergoyahkan. Masalahnya, bagaimana dengan posisi Wiro sebagai protagonis? Tidakkah Wiro bisa dianggap berada dalam posisi yang tidak lagi inferior berhadapan Dr Watson dan Miss Lana? Sejumlah kajian di lingkungan akademik tentang komik Wiro, berdasarkan penanda bahwa Wiro makan daging babi hutan, membagikan dan menjualnya kepada penduduk kampung yang tidak menolaknya, dan ketika melewati kota selalu terlihat pula arsitektur bangunan kelompok etnik Tionghoa, menyatakan bahwa Wiro berasal dari kelompok etnik tersebut. Namun, pembuktian semacam itu belum cukup karena rumah dan kampung halaman Wiro sendiri tidak memperlihatkan penanda yang terarah ke sana. Betapa pun, karena Wiro pasti juga bukan bagian dari suku-suku pedalaman atau pantai, mungkinkah karena itu sahih sebagai representasi karakter Indonesia? Pada tahun 1956, baru 11 tahun dari proklamasi 1945, dari para penggubah berlatar etnik Tionghoa, sebuah proyek identitas setelah runtuhnya bentuk tradisional atas identitas akibat modernitas, setidaknya telah menyumbangkan salah satu sumber alternatif bagi konstruksi identitas kebangsaan Indonesia. SENO GUMIRA AJIDARMA, Wartawan
Posted by
Emil Jayaputra
at
Sunday, December 05, 2010
0
comments
Labels: Sastra
Nov 29, 2010
Kolektor Pantun & Peribahasa
KHAERUDIN
Jika ingin melihat betapa bijaknya orang-orang yang tinggal di Nusantara ini memandang alam dan kehidupan, bacalah ribuan pantun dan peribahasa yang tersebar mulai dari semenanjung di Malaysia hingga perairan Laut Sulawesi yang menjadi rumah suku Bajo. Bagi ahli perbandingan sastra Indonesia-Malaysia, Muhammad Haji Salleh, pantun dan peribahasa merupakan khazanah sastra yang tak ada bandingannya di dunia.
Haiku dari Jepang boleh dibilang canggih, tetapi tak seindah dan sekaya pantun. Dalam pantun, ada ajaran agama, filosofi, lagu, ada juga mainannya. Pantun ada dalam banyak suku di Nusantara Raya," ujar Muhammad. Dia mengabdikan hampir separuh hidupnya dalam pencarian berbagai jenis pantun dan peribahasa pada suku bangsa di Malaysia dan Indonesia.
Sesungguhnya, dasar pendidikan kesarjanaan Muhammad adalah Sastra Inggris. Ketika menempuh gelar master dan doktoralnya di University of Michigan, Amerika Serikat, selama kurun 1970-1973, Muhammad merasakan kerinduan kampung halaman setelah meresapi berbagai bentuk pantun dan peribahasa. "Saya ini awalnya sarjana Sastra Inggris, tetapi ketika berada jauh dari kampung halaman, saya merasakan betul betapa eksotisnya sastra negeri sendiri," ujarnya.
Dia sempat mengenyam pendidikan singkat kesusastraan Indonesia di Universitas Indonesia begitu tamat dari Universiti Malaya. Di AS pun Muhammad mengonsentrasikan studi doktoral dalam perbandingan puisi Indonesia-Malaysia. Kecintaan akan segala bentuk karya sastra Nusantara, khususnya puisi, pantun, dan peribahasa, membuat dia bersahabat dengan banyak sastrawan Indonesia. "Saya pernah bertandang ke rumah Rendra saat masih di Solo. Rumahnya ketika itu hanya beralas tanah," kenangnya.
Pemersatu serumpun
Sastra bagi Muhammad menjadi pemersatu Malaysia dan Indonesia sebagai bangsa serumpun di gugusan Nusantara. Meski Malaysia seolah berada terpisah karena terletak di semenanjung, bagian paling tenggara dari daratan Benua Asia, menurut Muhammad, tak ada sempadan atau batas dalam khazanah sastra kedua negara.
Dia mencontohkan, babad atau hikayat Melayu, Sulalat al-Salatin karangan Tun Seri Lanang. Tun sebenarnya adalah bendahara Kesultanan Pahang. Namun, saat Pahang diserang Kesultanan Samudra Pasai, hampir semua bangsawan Melayu Pahang—termasuk Tun—dibawa ke Aceh. Karena kecerdikan Tun, penguasa Aceh menjadikannya penasihat dan diberi wilayah kuasa di Samalanga. "Separuh masa Tun Seri Lanang mengarang Sulalat al Salatin dilakukannya ketika di Samalanga. Jadi, karya itu tak bisa diklaim milik Malaysia semata. Itu karya besar dua bangsa serumpun ini," katanya.
Itulah yang mendorong Muhammad selama 25 tahun lebih mengumpulkan sedikit demi sedikit pantun dan peribahasa yang terserak pada banyak suku bangsa di kepulauan Nusantara. Dia mau bersusah payah datang berkunjung ke Bali hingga Nusa Tenggara Timur. Muhammad rela menyusuri perairan Sulawesi Tenggara untuk mengoleksi pantun suku Bajo hingga mengumpulkan pantun yang ada pada suku Minahasa di Sulawesi Utara.
Koleksi pantun yang dikumpulkan Muhammad meretas dari Pulau Adang di Thailand hingga Bunaken di Sulawesi Utara. Hasil koleksinya sebagian telah dibukukan.
"Ada tiga buah buku yang telah terbit. Satu buku kira-kira berisi 1.000 pantun. Akan ada empat buku pantun lagi yang menyusul terbit," ujarnya. Dia mengumpulkan semua jenis pantun, dari pantun peranakan hingga pantun orang asli (suku asli di Malaysia). Dia juga mengoleksi pantun dari Pulau Adang hingga Bunaken. Ada sekitar 30 ragam daerah Nusantara yang memiliki koleksi pantun.
Muhammad juga tekun mengumpulkan peribahasa, bentuk sastra Nusantara lain yang tak kalah elok dan kaya akan ilmu kehidupan. Muhammad memilah peribahasa dalam 21 kategori yang berhubungan dengan ilmu dan pekerjaan, sikap manusia terhadap ilmu, hingga fungsi ilmu dalam masyarakat. Satu kesimpulan Muhammad setelah mengoleksi tak kurang dari 8.000 peribahasa adalah orang Melayu, dan banyak suku bangsa lain di Nusantara, tidak hanya menjadikan ilmu dan pekerjaan sebagai pusat hidup, tetapi juga merenungkan bagaimana ilmu dan pekerjaan dibuat sebagai solusi menyelesaikan masalah.
Muhammad mencontohkan peribahasa dari Brunei yang mengajarkan betapa manusia harus cukup ilmu jika ingin berhasil, "mun (jikalau) rotan panjang sejengkal, jangan mendaluh (menduga) lautan dalam".
Peribahasa pula yang menurut Muhammad membuat orang di Nusantara sangat demokratis dalam belajar dan berani berargumentasi meski dengan gurunya sekalipun. Dia mencontohkan peribahasa dari Sumatera Barat, "melawan guru dengan kajinya, melawan mamak dengan adatnya".
Kepandaian suku bangsa di Nusantara ini dalam merangkai kata hingga menjadi karya sastra indah penuh ilmu, menurut Muhammad, karena alamlah yang dijadikan guru. Dia mencontohkan peribahasa Melayu, "kais pagi, makan pagi", yang menggunakan kata untuk binatang (ayam), tetapi dipakai untuk menggambarkan nasib manusia. "Kata kais kan semestinya untuk ayam yang mencari makanan, tetapi itu yang orang lihat setiap hari sehingga dipakai juga untuk manusia," ujarnya.
Pada intinya, lanjut Muhammad, kepandaian berbahasa adalah elemen penting bagi banyak suku bangsa di Nusantara. Pada kasus orang Melayu, kata dia, suasana kosmopolitan di hampir semua bandar Melayu sejak dulu menjadikan orang-orangnya pandai berbahasa.
Meski tak berhubungan secara langsung, ketekunan Muhammad mengoleksi pantun dan peribahasa di Nusantara, baik yang terserak di Malaysia maupun di kepulauan Indonesia, sedikit banyak dipengaruhi oleh keyakinannya bahwa adalah sastra yang mempersatukan dua jiran yang kadang suka "berkelahi" ini. Dan tentu saja, meski berkewarganegaraan Malaysia, Muhammad pun tak lupa kampung sebenarnya nenek moyangnya di Bandar Khalipah, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara.
"Ayah saya merantau dari Bandar Khalipah ke Pulau Pinang tahun 1920-an. Pada banyak orang yang tinggal di Semenanjung (Malaysia) ataupun di Sumatera, ulang alik seperti yang dilakukan ayah saya lazim adanya," kata Muhammad.
Sumber: Kompas, 29/11/10
Posted by
Emil Jayaputra
at
Monday, November 29, 2010
0
comments
Jun 30, 2010
Tulisan sebagai Instrumen Berpikir
Jumat, 18 Juni 2010 | 03:39 WIB
SAMSUDIN BERLIAN
"…bahasa pada hakikatnya adalah lisan, bukan tulis," kata Lie Charlie dalam kolom Bahasa edisi Jumat, 11 Juni 2010. Ini hanya benar secara kronologis. Bahasa memang berevolusi dari lisan ke tulisan, budaya bergerak dari orality ke literacy. Dengan percetakan, teks menjadi makin utama. Kini radio, televisi, dan internet pun hanya bisa ada dan berfungsi dengan tulisan. Tulisan tidak akan ada tanpa lisan, tetapi bahasa tulisan bukan sekadar bahasa lisan yang dituliskan. Hakikat bahasa tidak lagi lisan.
Baik dunia oral maupun literer kaya makna, tetapi ciri dan dampaknya pada proses pikiran manusia, dan sebagai kekuatan pengarah evolusi sosial, sangat berbeda. Bukan hanya itu, sejak tulisan pertama lahir lebih dari 5.000 tahun lalu di Sumeria (Irak Selatan), disusul Mesir, China, dst, dan sampai detik ini, sejarah mencatat bahwa bangsa bertulisan lebih unggul daripada bangsa berlisan saja. Nyatanya, sejarah adalah tulisan. Tulisan adalah cikal-bakal peradaban. Tulisan tinggal, lisan tanggal.
Tulisan jauh lebih akurat, tahan lama, dan efisien dalam melahirkan, menyimpan, memproses, dan memperkembangkan gagasan, sampai yang serumit-rumitnya dan seluas-luasnya. Dari gagasan ke tindakan hanya selangkah. Tanpa tulisan, tidak ada dunia modern, ilmu pengetahuan lambat berkembang, teknologi sebatas sederhana, komunikasi sejauh teriakan, transportasi sekuat tungkai selebar layar. Buta tulisan, biarpun kaya lisan, adalah resep kemiskinan dan ketakberdayaan.
Filsuf Yesuit dan pakar ilmu bahasa, Walter Ong, mendaftarkan beberapa ciri oralitas yang berkontras dengan budaya tulisan. Karena ingatan adalah satu-satunya alat memelihara pengetahuan, dalam dunia lisan kosakata sedikit, tata bahasa sederhana, kata dan konsep diulang-ulang, dan gaya formula umum dipakai, ciri-ciri yang memang masih kental dalam bahasa Indonesia. Formula seperti pantun dan syair misalnya sangat terkenal di dunia Melayu, yang tidak asing dengan pidato, pepatah-petitih, dan silat lidah.
Guru-guru yang hidup dalam dunia lisan selalu menuntut murid-murid menghafal, bahkan menghafal mati, sampai hal-hal yang seremeh-remehnya. Dalam dunia tulisan, hanya hal-hal mendasar yang perlu dihafal. Yang perlu adalah mengasah pemahaman, ketajaman berpikir, kemampuan analitis, abstraksi, dan seterusnya. Dalam lisan yang penting data. Dalam tulisan yang utama olah-data. Akibatnya, lisan itu statis menoleh ke belakang. Tulisan itu dinamis menatap masa depan.
Dunia oralitas juga penuh dengan ungkapan-ungkapan ekspresif seperti adil makmur, aman sentosa, dan lain-lain. Klise memang berkembang dalam dunia lisan. Dengan tulisan, kata-kata dalam ungkapan-ungkapan seperti itu bisa dipecah dan dianalisis sehingga timbul kompleksitas yang merombak dan memperkaya makna. Yang perlu bukan hanya kemampuan baca tulis, melainkan memfungsikan tulisan sebagai instrumen berpikir. Misalnya, hanya dengan tulisanlah bisa dikembangkan daftar, tabel, dan statistik. Bukan berpikir lalu menulis, melainkan menulis sebagai bagian dari proses berpikir canggih.
Tulisan meningkatkan pikiran. Pikiran meningkatkan tulisan. Pemikir adalah penulis.
SAMSUDIN BERLIAN Pemerhati Makna Kata
Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/18/03391992/lisan.dan.tulisan
Posted by
Emil Jayaputra
at
Wednesday, June 30, 2010
0
comments
Labels: Sastra
Apr 16, 2010
Pemilihan kata dalam liputan olahraga
Jumat, 16 April 2010 | 03:01 WIB LIE CHARLIE Semakin suka wartawan menggunakan kata mempermalukan dalam ranah olahraga. Kecenderungan ini perlu dicermati dan dikritik. Dalam olahraga yang menjunjung tinggi kesportifan, semestinya tidak dikenal kata malu, mempermalukan, atau dipermalukan. Kalah itu soal biasa sebab dalam pertandingan atau perlombaan selalu ada pihak yang menang dan kalah. Kata-kata tendensius yang juga digemari wartawan olahraga kita antara lain menghabisi, menggilas, memecundangi, atau menghancurkan. Tujuannya, menarik perhatian pembaca. Semakin keras kata yang digunakan sebagai judul berita diharapkan semakin banyak mengundang pembaca. Bertekuk lutut niscaya lebih menohok daripada menyerah dan membantai dianggap lebih mengesankan dibandingkan dengan mengalahkan saja. Baiklah, tetapi apakah masih layak menggunakan kata menaklukkan apabila suatu kesebelasan hanya menang 1-0 atas kesebelasan lain? Biasanya wartawan yang memihak kesebelasan tertentu memilih kata-kata yang bersifat menekan kesebelasan lawannya dan sebaliknya. Bila kesebelasan kesayangannya kalah, ia akan memakai kata-kata kalah terhormat atau kalah tipis dalam menulis laporannya biarpun skor akhir menunjukkan kesebelasan yang dibelanya kalah telak 0-4. Berimbang bagi wartawan olahraga—normalnya—berarti menyerang tim musuh dengan kata-kata tajam dan memuji tim sendiri setinggi langit. Penyerang lawan diejek malas, pemain belakangnya dikatakan gugup, dan pelatihnya disebut hijau. Sementara itu, penyerang tim favoritnya dipuji gigih, beknya tangguh, dan pelatihnya bertangan dingin. Tak heran olahraga Indonesia, teristimewa sepak bola, ribut melulu dan sering dilanda perkelahian sebab khazanah bahasa Indonesia memang tidak mengenal padanan untuk kata Inggris sportive yang terpaksa kita alih eja menjadi sportif saja. Kita juga tak mengenal terjemahan terhadap kata fair atau frase fair play. Kata fair ada kalanya diindonesiakan menjadi adil saja, padahal masalahnya bukan keadilan yang membutuhkan penghakiman, melainkan berbuat adil atas dasar ikhlas dengan sadar. Kita juga sering kebablasan asal mencopot kata untuk membangun makna asosiatif dan menulis: "Markus berhasil menjaga gawangnya tetap perawan hingga pertandingan berakhir." Penggunaan kata perawan di sini sebenarnya kurang kena, kurang tepat, dan kurang ajar. Baguslah kalau wartawan menggali lebih banyak kata untuk menulis laporan yang nikmat dibaca asal tidak asal-asalan. Pemakaian kata merumput ("Ronaldo masih betah merumput di Real Madrid"), misalnya, sangat tepat dan segar. Menggetarkan jala, menembus pertahanan, mengecoh bek kanan, menggunting langkah, mengoyak barisan belakang, atau memberikan umpan terobosan merupakan beberapa rangkaian kata hasil galian wartawan yang cukup menggugah dan enak dibaca. Gerakan pemain sepak bola di lapangan dapat diumpamakan seperti kendaraan, kapal, atau macan sehingga lahirlah kata-kata menyalip, melaju, dan menerkam yang imajinatif. Namun, bila pikiran wartawan sudah kacau, kita akan membaca kata mengganyang, menyobek, atau memerkosa dipertuliskan dalam ulasan sepak bola. Lie Charlie Sarjana Bahasa Indonesia, Tinggal di Bandung Source: http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/16/03011985/bahasa.sepak.bola
Posted by
Emil Jayaputra
at
Friday, April 16, 2010
0
comments
Labels: Sastra
Apr 10, 2010
'Angelology': A Novel
Other vogues evidently pale beside fusion in this day and age. On literature front it's this genre: fictional, theological, historical; all three in one. (EJ)
Angelology: Wings of Desire
Danielle Trussoni at home in the south of France.
Lately we've been fighting off an infestation of angels. Swarms of these winged pests have invaded the movie Legion, the video game Bayonetta and the TV series Supernatural, and now they've turned up in a book called Angelology by Danielle Trussoni. They're like cicadas. And these aren't the good kind of angel either. They're the fallen kind.
Trussoni is a bit of a fallen angel herself. In 2006 her memoir Falling Through the Earth put her in the upper echelons of the literary heavens, but with Angelology she has voluntarily consigned herself to the infernal realm of the commercial thriller. Angelology is based on a literal interpretation of a passage in Genesis that describes angels interbreeding with human women to produce powerful hybrid beings called Nephilim. Trussoni supposes — and why shouldn't she? — that the Nephilim are still among us, a wealthy, evil élite who secretly guide the affairs of men. It's a killer premise. That peal of thunder you just heard was the sound of Dan Brown smiting himself on the forehead for spending the past six years writing about Freemasons.(See the top 10 fiction books of 2009.)
Our hero is a graduate student in art history named Verlaine, who's doing research on behalf of a mysterious client. Said research takes him to a convent in upstate New York, where he meets Evangeline, a bookish young nun whose chaste habit conceals a passionate heart. Verlaine and Evangeline feel an unspoken connection. She's got the secret coded documents he's looking for. If you know what I mean. And I think you do.
But Verlaine's employer is actually a powerful Nephilim (Trussoni uses this word as both singular and plural, which I'm not sure I buy) named Percival, who suffers from a disease that has rotted his once glorious wings into gross little stumps. He's searching for a divine lyre that could cure him. Evangeline, meanwhile, turns out to be from a family of angelologists, a secret order devoted to studying angels and opposing the Nephilim.
At times Angelology is little more than a light scaffolding built around the glittering edifice of its genuinely compelling premise. Trussoni's handling of action is not deft, and the romance between Verlaine and Evangeline makes you long for the raw erotic chemistry between Robert Langdon and Sophie Neveu.(See pictures of Hollywood vampires.)
But at other times, Angelology finds an almost hallucinatory power. In a flashback, a 9-year-old Evangeline tails her mysterious father to a darkened warehouse in lower Manhattan. Inside, three cages hang from the ceiling. In each cage is a giant, resplendently winged angel. "One of them appeared to be nearly insane with rage," she recalls. "It clutched the bars and screamed obscenities at its captors standing below. The other two were listless, lying limp and sullen, as if drugged or beaten into submission."
It's about as compelling an image as you'll find in popular fiction, fusing the divine and the debased, the psychological and the theological, into a single rich, strange tableau that transmits a shock of truth. The institutions that we're used to thinking of as numinous and divine — churches, banks, governments, Tiger Woods — are showing disturbingly mortal tendencies. These days anyone can be dragged to earth, and when fools rush in, the angels are usually right behind them.
Read more: http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,1969720,00.html#ixzz0kYE5Iroj
Posted by
Emil Jayaputra
at
Saturday, April 10, 2010
0
comments
Labels: Resensi buku, Sastra
Jan 9, 2008
Nyai Dasima: Sang Peretas Jalan Menuju Sastra Modern Indonesia
Kesusastraan Indonesia sebetulnya amat kaya terlebih apabila kita menggali pusaka warisan bangsa yg tak pudar dilekang zaman, bahkan sudah "mendunia" dengan keberadaan terjemahan bahasa asingnya. / EJ
Fenomena Dasima
Oleh IBNU WAHYUDI
DENGAN dibincangkannya Nyai Dasima karya S.M. Ardan (Masup Jakarta, Februari 2007) di TIM, Jakarta, 23 Februari lalu, kian jelaslah posisi penting cerita tragis Dasima dalam lintasan sejarah sastra Indonesia modern.
Memang, masih banyak yang enggan memasukkan Nyai Dasima menjadi bagian integral sastra Indonesia modern, namun realitas kesastraan ternyata jelas menunjukkan gambaran berbeda.
Lebih-lebih kalau kita sempat menonton tayangan "Nyai Dasima" lewat Trans TV, 2 Maret, tak ada lain yang barangkali akan kita bilang, kenapa tragedi yang konon betul terjadi pada awal abad ke-19 ini bisa begitu tenarnya? Apa istimewanya?
Novel Nyai Dasima ini bukan versi terbaru dari perjalanan dramatis seorang nyai bernama Dasima itu. Kendati begitu, diterbitkannya kembali Nyai Dasima versi S.M. Ardan, yang dilengkapi karya G. Francis, menegaskan lagi perihal kesohoran sebuah fiksi yang terbit pertama kali tahun 1896 itu.
Perjalanan Nyai Dasima
Seperti disebutkan, Nyai Dasima ini muncul atau dipublikasi pada tahun 1896 dan setakat ini dapat disebut sebagai prosa pertama dalam entitas sastra Indonesia modern. Dinyata-kan demikian lantaran sebelumnya tidak dapat dijumpai adanya prosa de-ngan bahasa Melayu serta diekspresikan lewat cetakan berhuruf latin. Memang, kalau untuk puisi, telah jauh mendahului penerbitan prosa. Setidak-tidaknya, kumpulan puisi Indonesia modern pertama telah terbit pada tahun 1857. Munculnya ragam puisi mendahului prosa ini secara genealogis maupun nalar-sastra, tidak mengherankan mengingat dalam ranah lisan, pola syair atau pantun juga jauh lebih dikenal dan dikuasai masyarakat Indonesia ketika itu dibandingkan dengan hikayat atau prosa pada umumnya.
Dalam cetak ulang Nyai Dasima ini dinyatakan bahwa pengarangnya adalah G. Francis dan penerbitnya adalah Kho Tjeng Bie & Co. Namun buku berjudul lengkap Tjerita Njai Dasima: Soewatoe Korban daripada Pemboedjoek, nama G. Francis tertera hanya sebagai "jang mengeloewarken". Sementara, nama penerbit Kho Tjeng Bie & Co. tidak ada. Tidak mengherankan jika W.V. Sykorsky dalam tulisannya berjudul "Some Additional Remarks on Antecedents of Modern Indonesian Literature" (BKI, 1980) me-ragukan sosok G. Francis sebagai penulis Nyai Dasima. Kendati demikian, tetap banyak yang meyakini bahwa G. Francis adalah pengarang yang mungkin sekaligus penerbit, sebab akhir abad ke-19 itu sudah dikenal luas adanya toko buku G. Francis, berlokasi di "Molenvliet (Kebon Djeroek) 10/63, Batavia".
Setahun setelah terbitnya Tjerita Njai Dasima, prosa ini mengalami transformasi menjadi syair yang ditulis O.S. Tjiang. Pengarang ini mengaku bahwa Nyai Dasima yang terbit tahun 1896 itu adalah babon syairnya. Beberapa tahun kemudian, Nyai Dasima yang berupa syair ini ditulis ulang oleh Akhmad Beramka yang menurut dugaan telah menyalinnya antara tahun 1906-1909. Demikian pula dengan Lie Kim Hok, telah menerbitkan syair ini yang selengkapnya berbunyi Sjair Tjerita di Tempo Tahon 1813, Soeda Kadjadian di Betawi, Terpoengoet dari Boekoenja Njai Dasima, sampai mengalami cetakan keenam (1922). Bahkan orang yang hanya memahami bahasa Belanda pun dapat menikmati kisah ini lewat karya A. Th. Manusama dengan judul Nyai Dasima: Het Slachtoffer vanbedrog en misleiding, een historische zeden roman van Batavia (1926).
Transformasi yang terjadi bukan sebatas dalam genre yang sama, melainkan sungguh-sungguh beralih "bahasa", seperti menjadi film, sinetron, atau sandiwara. Dalam bentuk gambar hidup, tercatat pertama kali dibuat tahun 1929 dengan judul "Njai Dasima". Film ini diproduksi oleh Tan's Film dengan sutradara Lie Tek Swie. Oleh produser dan sutradara yang sama, dibuat pula "Njai Dasima" (II) tahun 1930, dan diakhiri dengan "Pembalesan Nancy" (Nancy Bikin Pembalesan) atau "Njai Dasima III" pada tahun yang sama. Ketiga film ini selain masih hitam-putih juga belum bersuara. Baru pada tahun 1932, masih oleh produser sama tapi dengan sutradara berbeda (Bachtiar Effendy), dibuatlah film "Njai Dasima" yang telah memasukkan teknologi suara. Sementara itu, kendati kisahnya agak berbeda, pada tahun 1940 telah diproduksi sebuah film berjudul "Dasima" oleh Java Industrial Film dengan sutradara Tan Tjoei Hock. Akhirnya, untuk produksi layar lebar, tercatat pula sebuah film yang cukup berani pada masanya, berjudul "Samiun dan Dasima" yang dibuat oleh Chitra Dewi Film Production tahun 1970 dengan sutradara Hasmanan.
Kisah Dasima ini memang telah dibuat dalam format sinetron. Selain itu, tahun 1996, tragedi Dasima ini pernah dibuat berseri dan ditayangkan RCTI dengan arahan Ali Shahab. Untuk dunia panggung, cerita wanita cantik dari Curug, yang dipiara Edward W. ini tergolong populer. Setidak-tidaknya tahun 1960-an, perkumpulan "Kuncup Harapan" yang dimotori S.M. Ardan telah pentas keliling dengan kisah ini. Tentu, pementasan lain sangat mungkin telah berlangsung di mana-mana baik yang tradisional maupun modern. Untuk yang tradisional, misalnya pementasan oleh Komedie Stambul seperti diungkapkan oleh Kenji Tsuchiya dalam "On Cerita Nyai Dasima" (Sejarah, No. 7).
Demikian pula dengan Opera Miss Riboet, di masa penjajahan konon sudah mementaskan "Nyai Dasima" sebanyak 127 kali, selain tradisi sahibul hikayat dengan tukang cerita yang sering menampilkan kisah melodramatis ini. Sementara yang berpentas belakangan adalah EKI (Eksotika Karmawibhangga Indonesia) yang mengangkat judul "Madame Dasima" dalam bentuk drama musikal tahun 2001, meski sesungguhnya drama ini tidak langsung diangkat dari karya G. Francis, S.M. Ardan, atau Rachmat Ali.
Rachmat Ali? Ya, tahun 2000, gubahan Rachmat Ali dalam bentuk novel yang juga berjudul Nyai Dasima, diterbitkan Grasindo. Sedangkan S.M. Ardan sendiri telah menerbitkan karya ini dengan nada yang berbeda dari karya G. Francis, pada tahun 1965 (Penerbit Triwarsa) lalu di-cetak ulang tahun 1971 oleh Pustaka Jaya.
Kalau sejak akhir tahun 1920-an pembaca Belanda telah dapat mengonsumsi kisah ini, pembaca berbahasa Inggris dapat mengapresiasinya melalui terjemahan Harry Aveling, yang terbit tahun 1988. Perjalanan hidup Dasima pun ada yang digubah dalam lagu keroncong yang sering hanya merupakan bagian dari suatu pertunjukan. Kepopuleran Nyai Dasima, secara tersurat termaktub pula dalam beberapa karya fiksi, misalnya menjadi karya yang dibaca oleh Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia karya Pram atau sebagai drama yang disinggung dalam karya Du Perron.
Sastra populer
Jelas Nyai Dasima masih luas dikenal dan kerap mewujud menjadi semacam mitos atau legenda, beredar di khalayak dengan bermacam bumbu. Namun, apa sesungguhnya daya tarik Nyai Dasima sehingga ia mampu melintasi waktu dan bermetamorfosis dalam wujud narasi yang berbagai ini? Jawabannya, agaknya tidak lain karena karya ini merepresentasi formula sastra populer yang salah satu tekanannya adalah mengharu-biru emosi pembaca lewat sensitivitas latar multietnis dan bahkan bersentuhan dengan religiusitas yang dikemas dengan bungkus kesetiaan dan perselingkuhan. Pola ini, dalam zaman yang bagaimanapun, rasanya akan selalu menawan.
Ditilik dari aspek penceritaan, Nyai Dasima tidak ada "istimewa"-nya. Terlebih jika didekati dan dikomparasi dengan karya-karya yang terbit setelahnya, yang se-ring diperkaya dengan eksperimentasi dan inovasi, lagi-lagi karya ini memang biasa saja. Tapi, nyatanya, karya ini mampu bertahan untuk sekian lama, bahkan hingga tahun 2007 ini. Tentu kenyataan ini ada musababnya. Agaknya, memang ada sejumlah aspek formal yang beroperasi mengendalikan "kelanggengan" kisah ini di samping sisi romantik yang niscaya telah menjadi stimulator narasi.
Paling kentara, walau hanya sebuah melodrama biasa, tema dalam Nyai Dasima ini niscaya cenderung awet dan berpeluang mampu menggelitik emosi. Perbedaan etnis atau ras, cinta, selingkuh, diskriminasi, pemengaruhan sikap, keirihatian, penaklukan lewat guna-guna, peracunan, penistaan, dan pembunuhan, yang terdapat sekaligus di dalamnya, adalah tema-tema menggoda. Tema-tema "inti" itu, secara implisit memosisikan dirinya sebagai cerita yang selalu menarik perhatian atau menjadi semacam rambu moral.
Adanya stereotif tokoh-tokoh yang berlebihan, bisa saja "jatuh" secara kualitatif, tapi secara atraktif, sangat mungkin mampu memenuhi ekspektasi pembaca. Sebagai karya yang muncul dalam masyarakat yang umumnya masih niraksara (akhir abad ke-19), hadirnya karakter budiman, menawan, atau kebalikannya, kelewat dengki, tega dalam menista, serta kejam, merupakan semacam keharusan yang diam-diam dituntut pembaca. Semua ini ada dalam Nyai Dasima dan pembaca seperti memperoleh tempat pelarian yang menyenangkan. Penampilan tokoh-tokoh yang hitam-putih semacam itu, jangan dikira akan dijauhi oleh pembaca; justru sebaliknya, ia dapat menjadi ruang yang berfungsi sebagai semacam katarsis, meskipun hanya kuasi.
Kelinearan alur yang sederhana tidak berarti membuat pembaca bosan, tapi malahan "memaksa" pembaca masuk ke teras persoalan secara intensif; menyebabkan pembaca masuk dalam penglibatan tak berjarak, sehingga sentimentalitas teraduk-aduk secara efektif. Kondisi semacam ini memang tidak mengarahkan pembaca kepada kekritisan, melainkan hanya pada peluapan emosional belaka.
Melihat faktor-faktor ini saja, tidak salah jika Nyai Dasima dapat diindikasi sebagai karya populer. Namun, kecenderungan "populer" pada sebuah karya tidak semestinya lantas mengarahkan kita kepada sikap "menganggap" atau "menafikan" yang bersifat sosiohistoris. Dinamika khazanah sastra, secara esensial, tidak lain (merupakan) cerminan perjalanan intelektualitas, paling kurang dari kesahajaan menuju ke kekompleksan.
Oleh karena itu, jika Nyai Dasima secara stilistik bersahaja, itu pun merupakan ekspresi jujur dalam menampilkan dirinya bersangkutan dengan lingkungan intelektual saat itu. Semua ini tentu harus dipandang dalam kaitannya dengan tradisi penulisan saat itu, kemelekhurufan atau situasi kependidikan, taraf apresiasi masyarakat semasa, sistem penerbitan atau reproduksi yang ada, maupun sistem-sistem lain yang secara alami membentuk suatu kondisi. Kelahiran Nyai Dasima, sekali lagi, berkaitan dengan situasi intelektualitas yang masih berada dalam taraf "rendah" itu dan tidak berasal dari suatu tradisi penulisan fiksi yang telah mapan.
Bagaimanapun, Nyai Dasima yang memang sebuah karya sastra populer, justru dapat dikatakan sebagai yang meretas jalan kepada hadirnya kesusastraan Indonesia modern.***
Penulis, peminat sastra, tinggal di Depok.
Sumber: Pikiran Rakyat, 10 Maret 2007
Posted by
Emil Jayaputra
at
Wednesday, January 09, 2008
0
comments
Labels: Sastra
Jan 8, 2008
Ketidakpastian peradaban dalam bungkus science fiction
Bukan hanya Narnia, karya fiksi CS Lewis yg satu ini pun membukakan cakrawala pemikiran kita mengenai satu lagi aspek kehidupan... ketidakpastian hidup manusia, ketidakpastian budaya, ketidakpastian peradaban. / EJ
PS:
Perelandra atau juga dikenal sbg Voyage to Venus (on Venus) adalah buku ke-2 dari Cosmic Trilogy. Buku pertamanya adalah Out of the Silent Planet (on Mars) dan buku terakhirnya adalah That Hideous Strength (on Earth).
Fiksi Perelandra
Mikhael Dua
PERELANDRA adalah sebuah planet yang tidak memiliki daratan. Semuanya terdiri dari air yang mengalir tak berhenti. Karena itu tidak ada sesuatu pun yang berdiri tegak di atasnya. Makhluk-makhluk di atasnya harus memiliki kemampuan untuk meloncat dari satu pulau ke pulau yang lain, tanpa pernah bisa bertahan lama dalam pulau yang tidak memiliki daratan tersebut.
Ini adalah deskripsi figuratif mengenai sebuah planet dalam karya fiktif ilmu pengetahuan CS Lewis, penulis berkebangsaan Irlandia, pertengahan abad lalu. Para pembaca tentu terkagum-kagum dengan cara Lewis melukiskan planet yang diberi nama Perelandra itu. Bayangkan jika Anda diajak ke sana. Anda mungkin harus belajar menjaga keseimbangan agar tidak terpelosok dalam-dalam karena planet itu tidak memiliki basis tanah yang padat. Maka Anda mungkin akan tenggelam secara tak berhingga.
Bagi banyak orang, fiksi planet Perelandra tersebut bersifat omong kosong dan mengawang-awang. Penulisnya hanyalah seorang sastrawan yang tidak mengenal ilmu pengetahuan dan kosmologi, demikian penilaian mereka. Memang, Lewis bukanlah seorang ilmuwan beken seperti Einstein, Heisenberg, Bohr, dan Crick & Watson yang memiliki teori-teori yang dapat diuji kebenarannya. Lalu, apa pentingnya kita berbicara tentang fiksi Perelandra tersebut dalam sebuah refleksi etika di harian ini, justru pada awal tahun penuh optimisme ini?
Sebagai seorang sastrawan Lewis tidak ingin berargumen dengan cara sebagai ilmuwan. Alih-alih berbicara tentang dunia konkret, ia malah mengalihkan perhatian kita pada dunia astrologi dan mengajak kita untuk berjalan-jalan ke planet Venus imajiner, yang ia beri nama Perelandra. Sebagai seorang sastrawan ia berminat dengan narasi kemanusiaan kita. Karena itu, melalui fiksi Perelandra ia ingin berceritera tentang hidup manusia yang sebenarnya.
Makhluk-makhluk yang berdiam di Perelandra selalu hidup dalam alam yang tidak pasti, persis seperti yang kita alami sekarang, ketika kita menghadapi tsunami, banjir, tanah longsor, dan gempa. Semua bencana itu sama seperti air dalam dunia Perelandra, yang harus kita alami tanpa harus memahami dasarnya secara mendalam. Bantuan dan penanganan pemulihan yang dilakukan oleh pemerintah maupun swasta tidak pernah dapat mengembalikan kita ke situasi awal. Kita tidak pernah berpijak pada dasar tanah yang kering dan kokoh yang sebenarnya. Sebab yang kita alami adalah peruba- han dan ketidakpastian tak henti-hentinya.
Kepastian Ilmiah
Dengan analogi ini, Lewis ingin menertawakan semua doktrin kepastian sebagaimana didukung oleh ilmu pengetahuan modern. Sebagaimana diasumsikan Lewis, ilmu modern telah membangun dirinya di atas basis idea clara et distincta, teori-teori yang jelas dan kasatmata yang dibantu oleh logika klasifikasi yang memetakan dunia secara rasional. Program riset ilmiah sepanjang kurang lebih tiga setengah abad belakangan ini jika kita menghitung dari munculnya karya-karya John Locke, R Descartes, dan Adam Smith, telah memitoskan kepastian ilmiah itu. Masyarakat dan agama kita pun dibangun di atas cita-cita idea clara et distincta gaya Descartes tersebut. Keduanya menentukan standar yang dapat dipakai untuk menghukum mereka yang menyimpang dalam masyarakat dan agama.
Lewis, dengan demikian, mengintip apa yang dikatakan para antropolog tahun 1950-an, yang berpendapat bahwa kepastian adalah cita-cita dalam hampir semua kebudayaan. Kepastian kultural tersebut bukanlah masalah perasaan individual, melainkan sebuah masalah lembaga. Setiap masyarakat ingin kepastian, sehingga setiap keraguan yang ditimbulkan oleh individu atau kelompok akan segera diblokir secara institusional. Banyak keputusan individu yang membawa resiko bagi masyarakat luas akan selalu ditekan lembaga.
Tetapi, mengapa ketidakpastian kita bertambah dewasa ini? Para ilmuwan tahu bahwa dalam 300 tahun terakhir ini cita-cita Descartes mengenai kepastian tidak pernah terpenuhi. Dunia kedokteran harus mengeluarkan banyak dana penelitian untuk mendapatkan kepastian pengobatan yang tidak pernah memuaskan secara tuntas. Resep- resep dokter tidak lebih dari tebakan profesional, dengan harapan dan doa agar pasiennya benar-benar sembuh. Begitu juga kehidupan demokrasi yang kita dukung habis-habisan belum pasti memberikan kepastian politik, jika tidak didukung oleh otoritas pengambil keputusan yang dapat mengatasi semua perbedaan.
Oleh karena itu, karya Lewis menjelaskan kepada kita bahwa cita-cita kepastian berakhir sinis. Kita harus bergerak meninggalkan fundamentalisme ilmiah dan moral yang percaya bahwa ada kepastian mutlak. Alih-alih membawa kepastian ilmiah dan moral, menggunakan gaya Karl Popper, semua metode ilmiah dan moral yang kita gunakan hanya memberikan kepada kita conjectures, rekaan ilmiah yang dapat ditolak dengan bukti-bukti yang empiris.
Kepemimpinan
Mitos Perelandra menjelaskan kepada kita bahwa gagasan kepastian sedang mengalami pasang surut dalam kebudayaan kita dewasa ini, karena faktor ekonomi dan teknologi. Jika ini benar, barangkali tidak berguna jika kita merekomendasikan perubahan yang mendudukkan kembali posisi rasionalisme ilmiah yang menyisihkan penjelasan-penjelasan lain.
Dalam kesadaran akan sinisme kepastian itu, Lewis secara diam- diam ingin mengusulkan agar kita melakukan sebuah transformasi dalam diri kita sendiri untuk mengakui ketidakpastian.
Secara konkret, pengakuan terhadap ketidakpastian ini berarti sebuah ajakan agar kita secara sadar memasuki dunia yang tidak kita ketahui secara pasti, menjauhkan diri dari sikap penyensuran yang radikal, dan bersedia menerima gagasan lain yang merembes masuk dalam pikiran kita tanpa harus mengabaikannya atas nama rigorisme intelektual yang kita miliki.
Etos ketidakpastian ini memiliki urgensinya: tidak untuk menimbulkan pesimisme melainkan membangkitkan optimisme terhadap sebuah kepastian. Sejak kebudayaan modern bercita-cita untuk melahirkan homo economicus, manusia individu rasional yang memiliki ambisi untuk mengenal seluk-beluk hukum-hukum alam, dan sang pahlawan kebudayaan liberal, sejak saat itu pula manusia hanya memiliki satu tuntutan, yaitu kebebasan untuk berkuasa. Cara hidup tersebut menjebak kita ke dalam penghancuran alam, kecurigaan terhadap bangsa dan kebudayaan yang berbeda, dan fanatisme yang berkelebihan.
Penelitian antropologi menjelaskan bahwa manusia di seluruh dunia selalu sama. Kita adalah manusia rasional yang membutuhkan koordinasi. Kita membutuhkan kepemimpinan yang dapat membawa perubahan, janji, jaminan sosial, dan hidup. Jika dewasa ini kita sedang mengalami krisis yang berkepanjangan, kita sebenarnya mengharapkan sebuah kepemimpinan yang dapat mengembalikan kepastian hidup sebagai masyarakat. Tanpa itu setiap orang dan suku akan berjalan sendiri-sendiri. Itu berarti ketidakpastian Perelandra benar-benar terjadi. Mudah-mudahan hal itu tidak akan terjadi dalam tahun-tahun yang akan datang.
Penulis adalah Kepala Pusat Pengembangan Etika Atma Jaya dan pengajar fil safat ilmu pengetahuan di Fakultas Teknik Unika Atma Jaya
Sumber: Suara Pembaruan, 5/1/08
Posted by
Emil Jayaputra
at
Tuesday, January 08, 2008
0
comments
Labels: Sastra
Dec 21, 2007
Polemik muatan religi dalam kesusasteraan anak
Pullman, Agama, dan Dongeng Pascamodern
TRISNO S SUTANTO
Trilogi His Dark Materials karya Philip Pullman, yang edisi Indonesia-nya baru-baru ini diterbitkan oleh Gramedia, boleh jadi akan dicatat sebagai tonggak baru sejarah kesusastraan anak berbahasa Inggris bersama Alice's Adventures in Wonderland (1865) karya Lewis Carroll, trilogi The Lord of the Rings (1954-1955) dari JRR Tolkien, dan tujuh jilid Chronicles of Narnia (1950-1956) karya CS Lewis.
Sedikitnya sudah tujuh juta eksemplar trilogi ini terjual, diterjemahkan ke dalam lebih dari 37 bahasa, dan rencananya akan diadaptasi menjadi film layar lebar akhir tahun ini oleh produser The Lord of the Rings.
Akan tetapi, berbeda dengan mereka semua, karya Pullman lebih memancing banyak kontroversi, khususnya dari kalangan Kristen konservatif karena secara blak-blakan menyerang otoritas gereja. Apalagi, dalam soal agama, posisi Pullman memang sangat jelas.
"Saya seorang ateis," kata Pullman dalam konferensi di Oxford, Agustus 2000. "Tetapi, bagaimanapun juga, kita membutuhkan surga, kita membutuhkan segala hal yang dirujuk oleh (kata) surga, kita butuh kegembiraan, makna dan tujuan dalam kehidupan kita, ketersambungan dengan alam semesta, segala hal yang dulu dijanjikan oleh Kerajaan Surga pada kita tetapi gagal dipenuhinya." Tidak heran jika Peter Hitchens, seorang penulis Kristen konservatif, menyebut Pullman sebagai "Penulis paling berbahaya di Inggris", dan menuduh adanya "konspirasi kaum ateis" untuk membuang sisa-sisa terakhir kekristenan (Baca: The Mail on Sunday, 27 Januari 2002, hal 63).
Saya tidak ingin menyibukkan diri dengan urusan konspirasi itu, yang jelas tidak dapat dicari bukti pembenarannya. Lagi pula, seperti dilaporkan ensiklopedia online wikipedia.org, tokoh sekaliber Rowan Williams, Uskup Agung Canterbury, malah menganjurkan agar trilogi His Dark Materials dijadikan bahan ajar untuk pendidikan agama di sekolah-sekolah! Sebab apa yang disajikan Pullman adalah sebuah dongeng pascamodern tentang pergolakan jiwa menuju kematangan, semacam bildungsroman bagi mereka yang merasa bahwa dunia agama tradisional tidak lagi mampu memuaskan kebutuhan terdalam manusia.
Membunuh "Otoritas"
Trilogi His Dark Materials adalah cerita anak-anak. Tidak lebih dari itu. Tetapi, sama seperti karya-karya lain yang bermutu, His Dark Materials menggabungkan berbagai unsur, mulai dari mitologi, agama, fisika kuantum, sampai permenungan filosofis yang memukau.
Dalam bagian pertama trilogi ini, The Golden Compass (judul Inggris: Northern Lights) yang menyabet The Carnegie Medal dan The Guardian Award untuk fiksi anak-anak, Pullman memulai kisahnya ketika Lyra Belacqua bersama Pantalaimon, daemonnya, bersembunyi di lemari pakaian dan tanpa sengaja mencuri dengar cerita pengembaraan Lord Asriel ke wilayah Utara kepada para Cendekiawan Akademi Jordan di Oxford. Cerita Lord Asriel tentang "Debu" dan praktik kejam di Bolvangar, di mana anak-anak diputuskan hubungannya dari "daemon" mereka, serta lenyapnya Roger, teman bermain Lyra, karena diculik "para pelahap", membuat Lyra dan Pantalaimon memutuskan untuk memulai pengembaraan mereka. Dan bekal Lyra hanya satu: kompas emas yang disebut "alethiometer" yang selalu memberi jawaban yang benar.
Bagian kedua, The Subtle Knife, menambah kompleks plot kisah petualangan yang tampak sederhana itu, dengan masuknya dua tokoh utama lain: Will Parry, seorang anak yang tanpa sengaja menjadi pembunuh dan menemukan "jendela" untuk memasuki "dunia lain", serta Mary Malone, seorang peneliti fisika, tetapi menyukai I Ching yang mencurahkan upayanya untuk membuka misteri "Bayangan", atau "materi gelap" dalam istilah fisika kuantum. Tanpa sepengetahuannya, Will ditakdirkan menjadi "pembawa pisau gaib" yang mampu membuka jendela-jendela penghubung antardunia.
Di kota Città gazze yang berada di dunia lain, Will bertemu Lyra, bersahabat, dan memulai petualangan mereka. Keduanya mencari sang ayah. Lyra mencari Lord Asriel yang memasuki dunia lain dengan mengorbankan Roger, sementara Will mencari ayah yang tidak pernah dikenalnya, John Parry, perwira Marinir Kerajaan yang tiba-tiba lenyap dalam ekspedisi penelitian di Utara. Dan Pullman perlahan-lahan membuat kita menyadari kerangka besar yang mendasari triloginya. Setiap tokoh, termasuk para penyihir maupun malaikat, sesungguhnya berada di dalam jalinan ambisi puncak Lord Asriel untuk memberontak terhadap kekuasaan tertinggi, yakni mencari dan membunuh Sang Otoritas!
Baru dalam bagian ketiga, The Amber Spyglass, buku fiksi anak- anak pertama yang menyabet sekaligus penghargaan Whitbread tahun 2001 maupun Whitebread Book of the Year tahun 2002, seluruh jalinan rumit dongeng Pullman menjadi jelas. Sang Otoritas itu tidak lain adalah figur yang selama ini disebut dan mendaku diri sebagai Tuhan, yang diwakili sekaligus dipenjarakan oleh Metatron.
Pemberontakan itu berhasil. Otoritas berhasil dibunuh, Metatron dengan seluruh bala tentaranya berhasil dihancurkan. Dan Lyra pun menyadari nasib yang menentukan dirinya. Dia adalah Hawa, ibu kehidupan yang kemudian jatuh cinta kepada Will si Adam, karena cerita Mary Malone, sang ular penggoda. Sebuah dongeng yang mengingatkan kita pada kitab Kejadian dalam Alkitab, tetapi dengan tafsir berbeda.
Jika kisah Adam dan Hawa dalam kitab Kejadian selama ini dipandang sebagai titik awal jatuhnya manusia ke dalam dosa, Pullman menganggap sebaliknya. Itu adalah titik awal ketika manusia meninggalkan alam kanak-kanak yang serba "murni" (innocence) untuk menjadi dewasa, mengenal cinta, membuang ketaatan mutlak pada "Otoritas", baik agama maupun lainnya, mengambil tanggung jawab dan menjadi bijaksana.
Bildungsroman pascamodern
Jelas, dengan visi semacam itu, Pullman menjadi penulis kontroversial, khususnya bagi kalangan agamawan konservatif yang menganggap agama—dengan seluruh perangkat institusinya—adalah barang yang suci yang tidak boleh diganggu, dipertanyakan, apalagi dikritik. Jika Anda termasuk kelompok seperti ini, sebaiknya Anda tidak membaca trilogi Pullman. Apalagi The Amber Spyglass, di mana Pullman bicara blak-blakan dan melontarkan kritik tanpa tedeng aling-aling terhadap "agama".
Misalnya, lewat tokoh Mary Malone, mantan biarawati yang menjadi peneliti "materi gelap" dalam fisika kuantum, ia menandaskan bahwa "Agama Kristen adalah kesalahan yang sangat berpengaruh dan meyakinkan" (hal 524). Begitu juga ketika diperhadapkan dengan Pater MacPhail, Presiden Lembaga Pengadilan Disiplin Agama, lembaga superkuat di bawah Magisterium Gereja, Mrs Coulter justru menggugat balik: "Well, di mana Tuhan, kalau Ia masih hidup? Dan kenapa Ia tidak berbicara lagi?" (hal 391).
Akan tetapi bagi mereka yang cukup terbuka dan kritis, dongeng Pullman merupakan perenungan memukau tentang makna agama yang tidak lagi dilandaskan pada kewenangan Otoritas dengan seluruh birokrasinya, atau terjebak pada figur-figur mitologis, melainkan lebih sebagai pencarian makna kehidupan yang hakiki. Suatu pemahaman keagamaan yang telah mampu melangkaui kritik akal budi Pencerahan, ambang batas di mana umat manusia—memakai metafora Kant yang masyhur—sudah mencapai "akil balig". Sebab, seluruh kritik pedas Pullman memang ditujukan pada kewenangan atas nama "Otoritas" yang selama ini telah membelenggu manusia.
Sementara bagi Lyra dan Will, seluruh petualangan mereka adalah proses pergolakan jiwa yang harus dilalui untuk menjadi dewasa, melewati ambang pubertas dan pertama kali menyadari bahwa mereka saling jatuh cinta. Di akhir cerita, Will harus mematahkan "pisau gaib" dan menutup setiap jendela penghubung antardunia, sementara Lyra kehilangan kemampuan alamiahnya dalam membaca alethiometer. Itulah harga kedewasaan. Menjadi dewasa berarti kehilangan kemampuan untuk berpindah-pindah dunia, atau selalu mendapat jawaban yang tepat untuk setiap persoalan. Akan tetapi menjadi dewasa juga berarti menyadari bahwa dunia di mana kita ada, di sini dan sekarang ini, sungguh merupakan tempat terpenting yang layak menerima seluruh perhatian kita. Sebab "Kerajaan sudah berakhir, kerajaan surga, semuanya sudah tamat," kata Lyra di akhir buku. "Kita tidak boleh menjalani kehidupan seakan-akan hal itu lebih penting daripada kehidupan di dunia ini, karena tempat yang terpenting adalah di mana kita berada."
Dengan kata lain, trilogi Pullman bisa dibaca sebagai terjemahan, dalam bentuk bildungsroman yang canggih, dari panggilan dasar Pencerahan: Sapere Aude! Beranilah berpikir sendiri!
Trisno S Sutanto Pencinta Buku Cerita Anak-anak
Sumber: Kompas, 21 Mei 2007
Posted by
Emil Jayaputra
at
Friday, December 21, 2007
0
comments
Labels: Sastra
Nov 3, 2007
Karya indah dari surga
| Puisi yang Memabukkan Oleh: Lan Fang Bahwa membaca puisi Tiongkok klasik adalah opium. Membacanya adalah menyedotnya dalam-dalam sampai pada suatu tahap tertentu tidak mampu lagi membayangkan apa pun, kecuali bukit, sungai, pohon yangliu, perahu, deru angin, dan suara aneh orang-orang yang harus berpisah mesti tidak menginginkannya. Ini yang ditulis Sapardi Djoko Damono sebagai ulasan penutup Purnama di Bukit Langit, antologi puisi Tiongkok Klasik. Pendapat itu tidak berlebihan karena sepanjang membaca buku yang memuat himpunan puisi sebanyak 560 buah dari berbagai macam era dinasti Tiongkok itu memang sarat dengan keindahan. Bukan sekadar mendapatkan tamasya kata-kata, tetapi juga terdapat banyak catatan kaki yang menjelaskan arti syair-syairnya. Buku antologi ini membawa pembacanya untuk berkelana memahami filosofi Tiongkok kuno. Hal ini tidak aneh karena Tiongkok memang dikenal sebagai negeri puisi yang mencapai pematangan pada masa Dinasti Tang (618-907). Bahkan, bisa dikatakan, puisi yang dihasilkan bangsa Tiongkok diperkirakan jumlahnya lebih banyak daripada gabungan seluruh puisi yang ditulis bangsa-bangsa lain di dunia. Kedudukan puisi dalam perkembangan Tiongkok sebagai negara sangat penting. Bukan sekadar menjadi bahasa ungkap, simbol-simbol, pepatah, atau syair lagu, tetapi kebanyakan para pejabat, petinggi negara, dan raja menggubah puisi. Bahkan puisi menjadi pelajaran wajib yang dijadikan barometer ujian negara dalam merekrut calon birokrat. Itu sebabnya, sebenarnya, buku antologi puisi Tiongkok Klasik ini bukan sekadar menyajikan keindahan alam sebagai metafora dalam susunan kata-kata, tetapi juga menceritakan tentang perjalanan politik suatu bangsa, peperangan, kebudayaan, juga kerinduan kepada kampung halaman, sebagai cermin kehidupan masyarakat yang terjadi pada masa dinasti tertentu. Puisi juga merupakan catatan sebuah waktu dan generasi. Maka, bila membandingkan buku antologi puisi ini dengan buku antologi puisi penyair Indonesia keturunan Tiongkok, akan ditemukan jejak yang tergerus zaman yang terus berderap dan kebudayaan di mana penyair itu berada. Contohnya ketika penyair mengungkapkan kematian, terlihat banyak perbedaan cara ungkap yang disesuaikan dengan kondisi setempat. Mengubur Bunga -- Cao Xueqin (1615-1763: Dinasti Qing) Bilur yangliu daun olma subur merimbun sendirian, Tak pedulikan persik terbang prem yang bertebaran, Tahun depan persik-prem sanggup kembali mekar, Tahun depan siapakah yang berada di tengah kamar? Cing Bing -- Tan Lioe Ie (antologi Malam Cahaya Lampion, Bentang, Mei 2005) Untuk Giam Lo Ong Dibelah semangka merah Sebab tertulis di langit : Belah semangka merah Tak putus garis keturunan. Bapakku Telah Pergi -- Mardi Luhung (antologi Ciuman Bibirku Yang Kelabu: Akar, Maret 2007) Bapakku telah pergi, Menemui pembakaran Ruang suci tempat selesaian Tapi ekor-ekor yang ditinggalnya Membelit tubuhku Menciptakan jarak, yang ujungnya Cao Xueqin memuisikan kematian dengan keindahan alam yang digambarkan melalui bunga dan burung sebagaimana masyarakat Tionghoa meninggal pada zaman itu dikuburkan di pegunungan. Sedangkan Tan Lioe Ie mengawinkan legenda klasik Sampek Engtay dengan mitos ritual semangka merah. Tetapi Mardi Luhung, penyair yang terlahir dari bapak Tionghoa dan ibu Jawa, dan kini bermukim di daerah pesisir, memandang kematian adalah prosesi yang disamakan dengan laut dan ikan-ikan. Perbandingan ini menarik untuk disimak karena bagaimana pun latar belakang penyair akan masuk dalam puisi-puisinya. Dalam buku antologi puisi Tan Lioe Ie Malam Cahaya Lampion, masih bisa diendus aroma Tiongkok walaupun hanya dalam mitos ritual yang dipergunakan sebagai eksplorasi ide. Kita masih bisa menemukan simbol-simbol oriental seperti naga, dupa, dan arak. Tetapi pada buku puisi Mardi Luhung Ciuman Bibirku Yang Kelabu, hanya dapat ditemukan jejak "kecinaannya" pada sebuah puisi yang bercerita tentang prosesi kremasi. Sebuah kecinaan yang ambigu, mengingat sekarang bukan orang Tionghoa saja yang meninggal dengan cara dikremasi. Pada masyarakat Bali kita mengenal ritual pembakaran jenazah yang disebut ngaben. Antologi puisi klasik Tiongkok ini juga layak dijadikan pembelajaran bahwa untuk menerjemahkan puisi dari bahasa Mandarin ke bahasa Indonesia bukan sekadar menguasai kedua bahasa itu sama baiknya. Tetapi, juga harus kaya dengan kosa kata yang sesuai, membuatnya menjadi tetap enak dibaca, tanpa mengubah makna aslinya. Ini sesuatu yang tidak mudah, mengingat puisi klasik Tiongkok bukanlah bagian dari budaya lisan seperti halnya pantun dalam sastra Melayu yang mempunyai rima. Tetapi puisi klasik Tiongkok adalah budaya tulis yang dibuat dari aksara-aksara simbol, sehingga tidak mengenal adanya rima. Bila dalam terjemahan Zhou Fuyuan ini ada "permainan" bunyi, sudah tentu mengandung risiko pergeseran makna yang merupakan "pengkhianatan" pada makna aslinya. Tetapi, Sapardi Djoko Damono menghalalkan adanya "pengkhianatan" dari penerjemahan puisi klasik Tiongkok ini karena sebagaimana karya terjemahan lainnya, tidak mungkin bisa diterjemahkan sesuai bahasa aslinya karena akan menjadi kaku. Ketika sebuah karya diterjemahkan, bisa jadi karya tersebut menjadi karya penerjemahnya, bukan lagi menjadi karya penyair aslinya. Sebagaimana antologi puisi klasik Tiongkok ini, begitu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, maka ia sudah menjadi bagian dari kesusasteraan Indonesia. Buku antologi puisi klasik Tiongkok ini tidak hanya bermanfaat karena merupakan studi banding kesusastraan, tetapi di dalamnya memuat ringkasan biografi 17 penyair penting Tiongkok: Qu Yuan, Tao Yuanming, Wang Wei, Li Bai, Du Fu, Bai Juyi, Li He, Li Shangyin, Li Yu, Liu Yong, Su Shi, Li Qingzhao, Lu You, Xin Qiji, Guan Hanqing, Chen Weisiong, dan Nalan Xing. Untuk kepentingan apresiasi pembaca, puisi-puisi yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia juga tetap menyertakan puisi aslinya. Jadi, wajar bila bagi Sapardi Djoko Damono menikmati puisi klasik Tiongkok ini bukan sekadar untuk mendapatkan makna dari kata-kata yang berjajar, tetapi juga keindahan visual yang terpancar dari hasil permainan pena penyairnya dalam wujud kaligrafi (tanpa perlu mengerutkan kening untuk mereka-reka artinya). Judul Buku : Purnama di Bukit Langit Penulis : Zhou Fuyuan Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Cetakan : I, April 2007 Tebal : 367 Halaman Sumber: http://www.gramedia.com/wacana.asp?id=070911152217 *) Lan Fang, cerpenis, tinggal di Surabaya | |
Posted by
Emil Jayaputra
at
Saturday, November 03, 2007
0
comments
Labels: Sastra
Jul 6, 2007
Subordinasi Wanita dalam Damar Wulan
Beni Setia
TOKOH paling mengemuka dalam cerita Damar Wulan, suka atau tak suka, adalah sang antagonis Minak Jingga. Dia hadir sebagai tokoh mahaperkasa, raksasa, dan dikontraskan dengan dua istri yang subordinan dan punakawan klemar-klemer kewanita-wanitaan, Dayun. Keperkasaannya dimanifestasikan dengan pusaka gada Wesi Kuning--representasi lingga--senjata mematikan, sekaligus bagi pemilik bila senjata itu berpindah majikan.
MENARIK sekali prosesi berpindahnya kepemilikan Wesi Kuning dari Minak Jingga ke Damar Wulan. Simbol kelelakian itu dicuri dan dialihkan kedua istri Minak Jingga yang terpikat kehalusan budi Damar Wulan-semacam pemberontakan pada dominasi lelaki kasar dan urakan, semacam penolakan Sinta pada Rahwana, dan penentangan Dewi Supraba pada Nilakawaca. Tampaknya di balik cerita Damar Wulan ini ada pendidikan perilaku halus mriyayeni khas Jawa.
Dengan kata lain, apa tidak mustahil tema sampingan-bila tidak cukup pantas diakui sebagai tema utama-Damar Wulan adalah upaya komparasi terhadap eksistensi lelaki ideal yang pantas dipertuan di Majapahit? Setidaknya lelaki tipe Arjuna, yang memuaskan di pembaringan dan dalam pergaulan sosial, karena secara trah penguasa Majapahit pada masa itu harus wanita bila mengikuti fakta Ratu Majapahit dalam cerita Damar Wulan, Prabu Kenya-dalam cerita biasanya disebut Kencana Wungu-dikaitkan dengan Suhita. Karena itu, Brandes mengaitkan peperangan antara Majapahit dengan Minak Jingga ini dengan Perang Puregreg. Sedangkan ilmuwan lain mengaitkan sosok Ratu Majapahit itu dengan Tribhuwanottunggawijayaawisynuwardhani, dan cerita tentang Perang Blambangan dikaitkan dengan peristiwa Perang Sadeng (lebih lengkapnya lihat CC Berg, Penulisan Sejarah Jawa, Bhratara Karya Aksara, Jakarta, 1985, halaman 90-92).
Oleh karena itu, tidak terhindarkan kesan komparasi dan penonjolan keutamaan Damar Wulan yang asal-usulnya disembunyikan dan tetap tersembunyi sebelum akhirnya terbuka di puncak kemenangan. Bahwa Damar Wulan itu anak dari Patih Udara, pemimpin Majapahit yang pergi bertapa sehingga kedudukannya diganti Patih Logender. Sejak kecil Damar Wulan dididik hidup prihatin dan santun oleh kakeknya sehingga ketika nyantrik dan ngenger di rumah Patih Logender, dia tidak kaget ketika diterima sebagai tukang kuda. Kontras dengan Layang Seta dan Layang Kumitir yang cuma bisa hura-hura memanfaatkan fasilitas jabatan ayah. Di titik ini, sekaligus mereka berbeda dari Minak Jingga yang sewenang-wenang berdasarkan kekuatan sendiri.
KOMPARASI dan kontras itu dimulai dari fakta Patih Udara mundur, melepaskan diri dari fatamorgana kekuasaan dunia dan masih tetap memegang wibawa pemimpin dan pamor kekuasaan. Setidaknya, kalau dibandingkan dengan Patih Logender, tokoh yang ketiban pulung memegang kekuasaan, tetapi tidak memiliki wibawa pemimpin dan pamor kekuasaan, sehingga kraton dipenuhi pamong yang pandai menjilat dan cuma memperjuangkan kepentingan golongan dan pribadi. Puncaknya, terutama ketika ada ancaman aneksasi oleh Blambangan dengan kedok lamaran Minak Jingga. Jalan keluar dari krisis itu menggelikan, yaitu menyelenggarakan sayembara. Dengan kata lain, memberikan kerajaan dan dirinya kepada sembarang lelaki yang mampu mengalahkan Minak Jingga. Jalan keluar yang mengelucak harga diri.
Oleh karena itu, fakta sayembara berhadiah "takhta dan wanodya" ini menunjukkan adanya sebuah fenomena besar di belakang layar. Bahwa Kencana Wungu tak bisa lagi mempercayai pamong dan prajuritnya, sekaligus menggarisbawahi sosok Kencana Wungu yang subordinan meski secara politik dia pemegang kekuasaan tertinggi. Karena itu dia membutuhkan lelaki gentleman, sang Arjuna yang mriyayeni, yang bisa mengayomi dirinya dan banyak wanita lainnya, bukan lelaki perkasa urakan semacam raksasa dalam diri Minak Jingga. Karena itu, seluruh keperkasaan kasar Minak Jingga-episode Minak Jingga gandrung yang interaktif komik dengan Dayun yang mbanceni selalu jadi adegan fragmen favorit lakon Damar Wulan-kontras dengan ketidakberdayaan Kencana Wungu.
MANIFESTASI dari pukau kelelakian Damar Wulan terbukti dengan (a) terpukaunya Anjasmara, putri Patih Logender dan adik dari Layang Seta dan Layang Kumitir, sehingga mereka terpaksa harus mengangkat derajat Damar Wulan agar adik mereka dan diri mereka tak terbenam ke dalam fakta bermenantukan dan beradik ipar tukang kuda. Dan, (b) luluh dan terpukaunya kedua istri Minak Jingga sehingga selain menghidupkan kembali Damar Wulan, mereka juga mencuri gada Wesi Kuning Minak Jingga sehingga Minak Jingga bisa dikalahkan Damar Wulan dan Blambangan tetap di bawah hegemoni Majapahit. Pengkhianatan kepada suami dengan jaminan mereka akan diperistri lelaki sejati yang tidak akan menyia-nyiakan mereka sebagai istri kedua dan ketiga, dengan Anjasmara sebagai istri pertama. Bahkan, akhirnya, ketiga wanita itu cuma berstatus selir karena istri utama Damar Wulan adalah Kencana Wungu, si Ratu Majapahit.
Dengan kata lain, puncak manifestasi pukau kelelakian Damar Wulan itu ada pada fakta dan fenomena terpanggilnya ia oleh situasi negara yang lemah dengan menerima tantangan (sayembara) mengalahkan Minak Jingga. Peperangan ini seharusnya beraras antarnegara dengan peserta negara taklukan Majapahit dan/atau negara merdeka yang mau berperang melawan Blambangan, bukan peperangan personal antarindividu Damar Wulan melawan Minak Jingga sehingga momen perpisahan kasmaran antara Damar Wulan dan Anjasmara jadi fragmen sentimentil favorit dari lakon Damar Wulan.
Damar Wulan terpanggil menjadi lelaki utama Majapahit dan berbeda dengan lelaki Majapahit lainnya. Keutamaan semacam ini yang menyebabkan Damar Wulan dianggap pantas bersanding dengan Ratu Kencana Wungu, bahkan diakui dan disadari para wanitanya sehingga mereka ikhlas menjadi wanita pendamping, wanita yang menjadi pengantar ke gerbang kemuliaan, kalau kita memakai terminologi Ibu Inggit pada sosok Soekarno.
Kelengkapan itu-satu wanita utama dan tiga wanita terpilih-menjadikan Damar Wulan lelaki Jawa utama. Sekaligus komparasinya dengan empat lelaki terpuruk-derajatnya kasar-perkasa-berkuasa, halus- kosong-berkuasa (memanfaatkan fasilitas jabatan orangtua), dan lemah-subordinan-mbanceni-membuat kita tiba pada hipotesis tentang motif di balik "penulisan" cerita Damar Wulan. Yakni, situasi Majapahit yang kacau karena kelemahan kepemimpinan ratu wanita yang mendorong kerinduan masyarakat pada kehadiran lelaki utama.
Masyarakat muak dan jenuh dengan pamong lelaki yang oportunistik mementingkan keuntungan golongan dan pribadi, sekaligus masyarakat lelah dengan kepemimpinan ratu wanita yang lemah, yang hanya bisa menangis dan tersenyum. Padahal senyum bisa dimanifestasikan sebagai kelembutan di balik ketegasan mengamalkan kekuasaan-"Westerling pun tersenyum," kata Iwan Fals dalam lagu Pesawat Tempurku-dan bukan sebuah pertanda ketakberdayaan. Memang.
Beni Setia - Penyair dan Cerpenis
Sumber: Kompas, 25 Agustus 2003
Posted by
Emil Jayaputra
at
Friday, July 06, 2007
1 comments
Labels: Sastra