Aug 3, 2014

Legawa dan tak jemawa

Presiden Baru

Minggu, 3 Agustus 2014 | 09:21 WIB

Oleh: M Subhan SD
 
KOMPAS.com - KETIKA "musuhnya" yaitu Ibnu Makhluf meninggal, Ibnu Taimiyah (1263-1328) justru bersedih. Padahal, sang murid, Ibnu Qoyyim (1292-1350), begitu girang menyampaikan kabar kematian itu kepada Ibnu Taimiyah, sang guru. Sebab, selama ini, tokoh yang meninggal ini termasuk yang memfitnah dan menzalimi Ibnu Taimiyah.
 
Karena perbuatan "musuhnya" ini, Ibnu Taimiyah mendekam di dalam penjara di Damaskus. Mendapati kegirangan muridnya menyampaikan kabar kematian itu, sang guru malah menghardik muridnya. Bagi Ibnu Taimiyah, kematian seorang "musuh" bukanlah suatu kegembiraan.
 
Pemikir politik yang menulis buku as-Siyasah asy-Syar'iyyah itu malah berduka. Pemimpin pasukan yang ikut berperang melawan agresi tentara Tartar itu pun melayat ke rumah duka, bertemu keluarga Ibnu Makhluf. Bahkan, di depan istri dan anak-anak "musuhnya" itu, Ibnu Taimiyah mengatakan siap membantu keluarga itu. Tokoh besar itu kira-kira berucap begini, "Sekarang ini saya seperti bapak bagi Anda sekalian. Jikalau kalian membutuhkan sesuatu, saya berusaha memenuhinya."

Begitulah Ibnu Taimiyah. Walaupun hidupnya menderita akibat fitnah, Ibnu Taimiyah tidak pernah menyimpan dendam kepada orang yang menzaliminya. Jiwa besar Ibnu Taimiyah melampaui emosi, amarah, dengki, dan penyakit hati lainnya.

Ibnu Taimiyah menjadi contoh terbaik saat kita berada pada Idul Fitri 1435 Hijriah, yang hari ini (Sabtu, 2 Agustus 2014) adalah hari keenam bulan Syawal. Pesan Idul Fitri itu adalah memaafkan, membersihkan hati, dan membuang jauh-jauh dendam kesumat.

Tahun ini, pesan Idul Fitri begitu sarat makna. Bukan saja secara personal, tetapi juga terutama secara politik. Sebab, pemilu presiden (pilpres) yang digelar pada 9 Juli 2014, tepat pada Ramadhan tahun ini, telah membelah masyarakat secara diametral. Dua pasangan calon presiden dan wakil presiden, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla, seperti menggambarkan dua kutub keterbelahan itu. Kampanye hitam, isu, fitnah, sepertinya tak menghormati lagi kemuliaan bulan Ramadhan. Sayangnya, pasca pilpres pun, ketika real count KPU sudah diumumkan, amarah dan emosi sepertinya tak lantas sirna.

Seperti sama-sama kita ketahui hasil rekapitulasi suara yang dilakukan KPU, pasangan Jokowi-JK meraih 70.997.833 suara (53,15 persen), sedangkan Prabowo-Hatta meraih 62.576.444 suara (46,85 persen). Hasil real count KPU itu mirip dengan quick count delapan lembaga survei yang kredibel, seperti SMRC, Indikator Politik Indonesia, Lingkaran Survei Indonesia, RRI, Litbang Kompas, Poltracking Institute, CSIS-Cyrus, dan Populi Center, yang memenangkan pasangan Jokowi-JK. Hasil rekapitulasi KPU itu menjawab semua keraguan terhadap hasil hitung cepat tersebut.

Namun, ada empat lembaga survei yang menyebut pasangan Prabowo-Hatta unggul, yaitu Puskaptis, Jaringan Suara Indonesia, Lembaga Survei Nasional, dan Indonesia Research Centre. Belakangan pasca hasil KPU, ada lembaga survei yang mengakui kesalahan dalam survei mereka. Hasil KPU juga menjadi pembuktian bahwa kebenaran ilmu (metode survei) tidak perlu disangsikan. Hanya mereka yang mempunyai kepentingan tertentu yang menolak ilmu pengetahuan. Mereka yang waktu itu tidak percaya hasil quick count meminta agar menunggu hasil real count yang dilakukan KPU.

Meskipun demikian, seperti kita saksikan bersama-sama, saat hasil real count KPU dilakukan, 22 Juli 2014, juga tetap tidak dipercaya. Pilpres dinilai ada kecurangan secara masif, sistematis, dan terstruktur. Kemenangan Jokowi-JK pun tertahan. Pada akhirnya, pasangan Prabowo-Hatta, yang sebelumnya menarik diri dari proses penghitungan suara yang dilakukan KPU, kemudian mendaftarkan gugatan sengketa hasil pilpres ke Mahkamah Konstitusi (MK) pada Jumat (25/7) pekan lalu. Tanggal 6 Agustus mendatang, MK akan menggelar sidang.

Harapannya, gugatan ke MK bukanlah dilandasi syahwat ingin berkuasa, tetapi lebih untuk menguji suatu kebenaran. Kekuasaan sebagai presiden atau pemimpin bangsa sejatinya adalah pelayan rakyat. Bukan ingin disanjung-sanjung, tetapi justru dia yang menggendong rakyatnya.

Tidak turuti hawa nafsu

Saya teringat surat-surat politik Ali bin Abi Thalib (599-661), khalifah keempat dari zaman Khulafaur Rasyidin. Surat tersebut ditujukan kepada Muhammad Ibnu Abu Bakar, yang baru saja diangkat sebagai Gubernur Mesir. Sepenggal surat Ali itu tertulis, "Rendahkanlah diri Anda. Hadapilah umat (rakyat) dengan ramah. Temuilah mereka dengan wajah berseri-seri. Berlakulah adil di antara mereka dalam segala hal, … dan orang-orang miskin tidak menderita atau putus asa terhadap keadilan Anda…. Ketahuhilah Muhammad Ibnu Abu Bakar, bahwa aku telah memberi Anda kekuasaan untuk memerintah atas penduduk Mesir. Karenanya, Anda dituntut untuk tidak menuruti hawa nafsu…"

Kekuasaan bukanlah segala-galanya. Pemegang kuasa justru bertindak berdasarkan mandat yang diberikan rakyat, bukan kemauannya sendiri. Pakar politik Harold Lasswell (1902-1978) dan filsuf Abraham Kaplan (1918-1993) menyatakan, kekuasaan adalah suatu hubungan di mana seseorang atau sekelompok orang dapat menentukan tindakan seseorang atau kelompok lain agar sesuai dengan tujuan dari pihak pertama. Dalam bahasa mereka, kekuasaan adalah bentuk partisipasi dalam membuat keputusan. Paksaan atau kekerasan bukanlah cara demokrasi.

Kita berharap presiden baru periode 2014-2019 benar-benar mau mengurus rakyat, menanggalkan kepentingan pribadi, kelompok, atau koalisi. Kita membutuhkan presiden yang bekerja tulus untuk membawa bangsa ini maju. Kita juga membutuhkan pemimpin yang tegas untuk membersihkan daki-daki kotor bangsa ini. Namun, ketegasan tidak ada kaitannya dengan bentuk fisik, apalagi dengan teriakan lantang, tangan mengepal, atau pidato berapi-api. Ketegasan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bermakna, "kejelasan, kepastian, keterangan yang jelas (pasti)". Dan, MK menjadi pembuktian terhadap kebenaran akan presiden pilihan rakyat. Presiden yang menang tentunya tidak perlu jemawa. Pihak yang kalah juga mesti legawa. Ibnu Taimiyah telah memberikan contoh.


Dec 31, 2013

A wonder beyond gender?


Giving birth to God

A wonder beyond gender?

Dec 24th 2013, 22:52 by B.C.


I PROMISED a second instalment of my posting about the Virgin Mary and feminism. This one doesn't begin with Pussy Riot but with hymns of a more conventional kind.

"Christ by highest heaven adored, Christ the everlasting Lord! Late in time behold him come, offspring of a Virgin womb!"  Today, in one form or another, hundreds of millions of people across the world are celebrating that story in song: the story of a chaste woman who, by a miracle, gave earthly life to a man who had always existed in another realm as the eternal progeny of God. And for many, perhaps most, of the singers, it's much more than a story. According to a survey this month by the Pew Research Center, 73% of Americans believe that Jesus was born of a virgin. Significantly more women (78%) affirmed that belief than men (69%), and more black respondents (90%) than white ones (71%). As you'd expect, belief in the virgin birth was much higher among white evangelicals (97%) than among white followers of liberal or "mainline" Protestant churches (70%). (The pollsters did not, apparently, think of putting the question to Muslims, although the Koran states—no less clearly than the New Testament—that Mary was a virgin when she gave birth to Jesus; the difference, of course, is that for Islam Jesus was an inspired prophet but not the son of God.)

If these figures tell us anything, they are a reminder of the utter disconnect between the sensibilities of many ordinary people and those of the opinion-forming intelligentsia, including the liberal religious intelligentsia—for whom the idea of a virgin birth, changing forever the order of the universe, is at best awkward (because it jars with so much else that the modern world publicly believes and values) and at worst shocking.

Let's state the issue openly. If the appearance of God, in human form, is the most important thing that ever happened, then yes, it can indeed be said that the person who in a physical sense made that appearance possible must be uniquely worthy of praise and veneration. To that extent, classical Christian doctrine is internally consistent. But to the modern mind, there still seems to be an asymmetry: a man whose nature is both divine and human is brought into the world, miraculously, by a female human being who acquires a degree of holiness mainly by virtue of the (male) child she bears. Doesn't that go directly against the grain of all our contemporary thinking about gender? Doesn't it sniff of a story told by men about women which patronises even as it praises?

Today's Christianity has some sharply contrasting answers. For the fundamentalist, there is no problem because scripture trumps everything. At another extreme, radical and liberal theologians have ruthlessly deconstructed the doctrine of Mary and her virginity. With as much spleen as any secular polemicist, the retired Anglican bishop John Shelby Sponghas said the figure of Mary, as presented by the church, is less inspiring to women than the comic-book character Wonder Woman, and equally mythical. "Mary was desexed and dehumanised by a condescending patriarchal hierarchy," he thunders.

Yet another answer has been offered by Christian thinkers who take doctrine more seriously than the letter of scripture. They would say that precisely when God is at work, all earthly categories, including gender, are at some level overcome. With respect to Jesus, this is well-trodden theological ground: although he came on earth as a male Jewish subject of the Roman empire, he is said to summon all human beings to a state of communion with God in which there is "neither Jew nor Greek, slave nor free, male nor female..."

What about Mary, then? In a faith which emphasises the physical reality of Christ's birth, isn't Mary, the mother of God, essentially female? Some important figures in the early church—the sort that traditionalists still like to read—had a slightly different take. For Symeon the New Theologian, a Byzantine monk, "giving birth to God" was something all holy men and women are called on to do—without, of course, becoming literally pregnant. As he put it: "...All the saints conceive, similarly to the Mother of God, the Word of God within themselves and give birth to Him...When we repent sincerely for our previous sins...precisely as it happened in the womb of the Virgin, the Word of the Father enters us and is found in us as a seed..."

Bit of a stre-e-tch? The church hierarchs of the day weren't happy with Symeon, but a thousand years on, his critics' names have been forgotten and he is revered as a saint—or, if you like, a God-bearer. Men can do it too, it seems.

Sumber: The Economist, 24th Dec 2013

Jul 3, 2013

Pemangku Jakarta

Masih dalam rangka HUT DKI Jakarta ke-468 
 yang masih belum puas dirayakan rakyat ibukota...
---

Catatan Kota Jakarta

Jakarta kota limpahan ilusi
mimpi-mimpi warga yang tak bisa terbeli.

Penguasa dipilih silih berganti
namun sistem hidup Jakarta kian menambah frustrasi.

Kota yang dibentuk logika pasar
mendahulukan siapa yang mampu bayar.

Pembangunan berselera privat
memamerkan jarak sosial yang menyengat.

Semakin menor Jakarta terlihat
logika publiknya sungguh jauh tersesat.

Gubernur boleh berkuasa, tapi 
pemangku Jakarta sejatinya adalah warga ibukota.

Tak akan ada perubahan, jika kita bertingkah 
bak tuan yang tak mau turun tangan.

Selamat ulang tahun, Jakarta
kau tampak tua dan benar-benar lelah.

(Catatan Mata Najwa 26/06/2013 Edisi 'Pemangku Jakarta')