Apr 16, 2017

Tekun Berkarya di Usia Senja

SOSOK

"Kamus Berjalan" Kota Jakarta

Pater Adolf Heuken
Pater Adolf HeukenKOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Nama Adolf Heuken SJ (87) identik dengan kota Jakarta tempo doeloe. Bukan sejarawan, arsitek, arkeolog, atau epigraf, tetapi rohaniwan, Pater Heuken -begitu biasa dipanggil- membuktikan bahwa fanatisme, ketekunan, kerja keras, komitmen, dan kecintaan yang ditunjang penguasaan beberapa bahasa berbuah keahlian.

Lebih dari separuh usianya, lahir di Coesfeld, Jerman, tanggal 17 Juli 1929, Pater Heuken masuk Indonesia tahun 1961. Setelah ditahbiskan sebagai pastor dari Ordo Serikat Jesus (SJ) tahun 1961 di Jerman, tiga tahun berkarya di Yogyakarta sebagai dosen, tahun 1963 ia menetap hingga sekarang di Jalan Mohamad Yamin Nomor 37, Jakarta.

Awalnya diminta bantu-bantu Pater Beek SJ, menjadi pastor di Paroki Mangga Besar dan mengajar di Atma Jaya, Heuken lantas menetapkan diri sebagai penulis. Awalnya menulis buku-buku rohani, tetapi kemudian berkembang ke bidang sejarah Jakarta. "Jakarta saya cintai sekaligus saya cemasi," katanya kepada Kompas, pekan lalu.

Cinta sebab menawarkan berbagai tantangan. Cemas sebab tak ada orang yang peduli. Padahal, mengetahui secara mendalam, didasarkan atas studi kepustakaan, berarti merekam memori tempat berpijak masa sekarang dan nanti. Kesadaran itulah yang mendorongnya menekuni Jakarta tempo dulu. Menurut Pater Franz Magnis-Suseno SJ, sesama kolega dan seasal dari Jerman, "Koleksi Pater Heuken satu-satunya terlengkap tentang sejarah kota Jakarta, sebagian di antaranya dalam bahasa Portugis."

Dengan kecintaan dan kecemasannya, Heuken berburu bahan, membacanya, mendatangi beratus-ratus tempat, merajutnya sebagai sejarah, dan menuliskannya dalam puluhan buku. Berbagai penghargaan diterimanya, antara lain dari Pemerintah Indonesia bersama Pater PJ Zoetmulder SJ (almarhum) memperoleh penghargaan Satya Lencana Kebudayaan. Dia katakan, "Saya hanya mau pelajari Jakarta, bukan kota-kota yang lain, paling banter ditambah Bogor, Tangerang, dan Bekasi."

Minat itu tidak muncul tiba-tiba. Ketika masih menjadi dosen di Yogyakarta, ia suka membuka-buka buku di perpustakaan. Dia terkesan dengan buku-buku tentang Batavia. Namun, buku tentang kota lama Jakarta belum lengkap, banyak campur aduk antara fiksi dan fakta. Ia pun mencari bahan dan buku-buku lain di berbagai negara, dari berbagai bahasa seperti Inggris, Perancis, Belanda, Jerman, dan Portugis.

"Saya tidak tahu persis, tetapi saya tahu semua buku itu terletak di mana saja," jawabnya. Dia tunjukkan salah satu judul buku klasik, berwarna kecoklatan, terbit tahun 1621 tentang kota Jakarta tempo dulu. Katanya, "Ini asli, dan sekarang harganya sangat mahal, jauh beda dengan ketika saya beli tahun 70-an."

Kolektor, penulis, penerbit

Mengoleksi buku beragam bahasa tentang sejarah Jakarta-Heuken menguasai bahasa Jerman, Latin, Indonesia, Inggris, Perancis, Belanda, dan Portugis-tidak terhenti sebagai kolektor. Heuken bukanlah kolektor yang menyimpan buku tetapi tidak pernah menyentuh apalagi membacanya. Dia adalah kolektor yang aktif. Buku itu dibaca dan dipakainya melengkapi naskah yang sedang dia kerjakan. Dia perlakukan buku-buku itu ibarat menulis bahan disertasi kandidat doktor.

Di setiap halaman yang dirasanya relevan untuk buku yang sedang ditulis, atau kira-kira akan menjadi bahan judul buku lain, ia taruh kertas dengan catatan-catatan. Heuken berdialog dengan isi buku yang sedang dibaca.

Saat menulis, beberapa buku terserak di sekitarnya. Dia tahu di buku mana dan di halaman berapa referensi dan bahan pelengkap tulisannya dimuat. Saat itulah potongan-potongan kertas berperan besar. Secara refleks Heuken tahu persis bahan atau referensi yang sedang dibutuhkan di sejumlah buku. Kertas-kertas yang berisi catatan itu jadi sumber rujukan tulisannya.

"Saya menulis buku dalam satu waktu untuk dua tiga judul sekaligus," jelas Pater Heuken. "Kalau macet, saya stop dulu, bahkan saya tinggalkan sama sekali. No." Sebaliknya kalau semua berjalan lancar, tiga judul buku selesai bersamaan.

Buku-bukunya serius dalam cara pengungkapan, isi, dan kuat dalam referensi (berasal dari berbagai bahasa), termasuk kualitas cetakannya mewah dan berwarna. Harga buku pun murah yang biasa dihitung tiga kali ongkos cetak. Saat ini Pater Heuken sedang menyelesaikan enam judul dengan berbagai topik, di antaranya Lapangan Banteng dan Sekitarnya.

Tidak ada pembaca kedua sebelum naskah siap diproses copyediting oleh penerbit. Dia baru baca kembali dalam bentuk proefdruk, proses terakhir sebelum masuk cetak. Pencetaknya macam-macam. Tetapi, Cipta Loka Caraka adalah penerbitnya, dikenal masyarakat sebagai penerbit yang menerbitkan buku-buku dengan P Adolf Heuken SJ sebagai penulis sekaligus penerbit. Untuk distribusi, CLC menyerahkan langsung ke agen.

Sampai awal tahun 2017 ini, Heuken antara lain menulis 10 serial dan 6 ensiklopedi terbitan Cipta Loka Caraka. "Saya tulis 15 judul buku tentang sejarah Jakarta, dan sekarang masih 20 buku menginspirasi saya untuk menulis sejarah Jakarta," katanya.

Seperti almarhum Pater Zoetmulder SJ, ahli Jawa Kuno, Pater Heuken menulis naskah semua dengan tulis tangan. Berbeda dengan Pater Zoetmulder khusus dengan ballpoint merek BIC, Pater Heuken memakai ballpoint murahan. Baru sesudahnya, naskah tulisan tangan itu diserahkan ke karyawan untuk diketik. Dulu empat sampai lima karyawan, sekarang hanya satu orang. Sesudah diketik, Heuken membaca dan mengoreksinya, dibetulkan, dan kemudian diserahkan ke penerbit.

Kamus berjalan

Beranjak sepuh, tapi masih aktif menulis, dengan tumpukan buku di atas mejanya, Heuken ibarat "kamus berjalan Jakarta tempo dulu". "Paling berat menulis ensiklopedi," katanya, melukiskan rasa kepuasan dan kesulitannya sebagai penulis. Dialah kolektor buku-buku babon, penulis, penyunting, dan penerbit buku tentang sejarah kota Jakarta.

Dengan kursi roda dan tongkat di samping kursinya, Pater Heuken bisa berjam-jam duduk, suntuk menekuni huruf-huruf. Membaca dan menulis, beberapa tahun lalu berburu buku-buku di toko-sekarang digantikan lewat telepon-menjadi kesibukan utama Pater Heuken yang pertengahan tahun ini genap 88 tahun. Jam kerja dimulai pukul 08.00, berlanjut sampai pukul 14.00. Istirahat. Pukul 17.00 sampai pukul 20.00 kerja, baca-baca bahan bacaan ringan sampai sekitar pukul 22.30.

Dulu, kegiatan itu kadang-kadang diselingi berenang. Sekarang tidak lagi. Selain panggilan tugas pokoknya sebagai pastor seperti doa brevir tiap pagi dan mempersembahkan misa, seluruh waktunya diisi membaca dan menulis.

Anak sulung dari delapan saudara keluarga guru, studi filsafat di Muenchen dan teologi di Frankfurt, tahbisan di Frankfurt, sosok Adolf Heuken SJ lekat dengan sejarah kota lama Jakarta. Siapa penerus Pater? Heuken hanya menggelengkan kepala, mendesah, dan berkata, "Akan ada".

Ada beberapa calon doktor atau sarjana yang datang untuk tanya ini-itu melengkapi bahannya. Heuken selalu bertanya dulu, sudah baca buku saya tentang topik itu belum? Kalau dijawab sudah, ia akan menanyakan seberapa jauh benar-benar membacanya. Kalau dijawab belum, yang bersangkutan disuruh pulang, dan baru datang kalau sudah membacanya.

Dengan sosok tinggi besar, jalan sudah tertatih-tatih, Pater Heuken membuktikan buah "kecintaan dan kecemasannya" sekaligus kebenaran premis sejarah itu fakta, bukan fiksi atau penafsiran.

Sumber: Kompas Cetak, 13 April 2017

Apr 21, 2015

60 Tahun KAA

...

Peringatan 60 Tahun KAA

Senin, 20 April 2015 | 15:10 WIB

Oleh: Makarim Wibisono

JAKARTA, KOMPAS - Kepala-kepala negara, menteri-menteri, dan pejabat- pejabat tinggi dari Asia dan Afrika mulai berdatangan ke Jakarta dan Bandung dalam rangka memperingati Konferensi Asia Afrika. Mereka akan menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi dalam rangka Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia Afrika yang akan didahului oleh Konferensi Tingkat Menteri dan Konferensi Tingkat Pejabat Tinggi.

Kalau Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955 hanya dihadiri 29 delegasi dari Asia dan Afrika, KAA 2015 yang berlangsung 19-24 April 2015 dihadiri oleh delegasi dari 109 negara dan 41 wakil organisasi internasional serta pengamat. Melihat persiapan perhelatan raya ini, ada yang mempertanyakan apakah "Semangat Bandung" dan solidaritas bangsa Asia dan Afrika yang efektif di zaman bipolarisme itu masih cocok dan relevan dalam konteks baru multipolarisme?

Konteks bipolarisme

Dalam periode tahun 1950-an, dunia berada di dalam sistem yang berkubu pada dua kutub, yaitu Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet. Menteri Luar Negeri AS John Foster Dulles telah menarik garis yang tegas dan memberikan alternatif terbatas pada negara-negara yang baru merdeka; apakah negara Anda bersama AS atau menjadi lawannya. Konstelasi politik semacam ini sangat membatasi ruang gerak negara-negara Asia dan Afrika.

Oleh karena itu, kata-kata "kemiskinan" dan "keterhinaan" berkumandang di Gedung Merdeka Bandung 1955 sebagai identitas bersama. Timbul rasa kebersamaan yang kohesif tecermin dalam "Semangat Bandung" melawan campur tangan asing dan menghentikan kesewenang-wenangan negara besar terhadap negara kecil atau lemah.

Menghadapi tantangan tersebut, dirumuskan Dasasila Bandung yang menghimpun aspirasi yang muncul dari kegalauan yang dirasakan di Asia dan Afrika. Secara cerdas telah disusun prinsip-prinsip yang bagaikan zamrud dalam untaian konsep yang jitu. Mulai dari penghormatan pada kedaulatan negara dan integritas wilayah, persamaan semua negara besar dan kecil, non-intervensi, tidak campur tangan dalam urusan internal negara lain, penyelesaian sengketa secara damai, penghormatan pada hak asasi manusia (HAM) fundamental, mendorong kerja sama dan kepentingan bersama, hingga penghormatan pada keadilan dan kewajiban internasional.

Ini kemudian diakui sebagai benih-benih multilateralisme yang mendorong lahirnya Gerakan Non-Blok dan menjadi pola pegangan PBB dalam mendorong terjadinya konsensus.

Tokoh-tokoh karismatik, seperti Soekarno, Nehru, Gamal Abdel Nasser, U Nu, dan Chou En Lai, berpengaruh besar dalam mendorong kesepakatan dan tidak saja berbicara di ruang sidang di Gedung Merdeka, tetapi juga berpidato dalam rapat raksasa di alun-alun terbuka yang dihadiri oleh publik secara luas. Semangat Bandung menggelora bukan hanya di kalangan elite, melainkan juga di kalangan massa.

Program mengatasi kemiskinan dalam rangka kerja sama Selatan-Selatan juga berhasil disusun oleh Komite Ekonomi. Pada pokoknya solidaritas Asia-Afrika diarahkan untuk mendorong kemajuan ekonomi melalui kerja sama teknik, pendidikan dan pelatihan untuk peningkatan kapasitas dan memajukan kualitas sumber daya manusia.

NAASP

Berbeda dengan kesepakatan yang dihasilkan Komite Politik, program-program kerja sama Asia-Afrika di bidang ekonomi dan kebudayaan miskin pelaksanaan sehingga gaungnya meredup. Dalam kaitan ini, KTT memperingati KAA yang ke-50 pada 2005 di Bandung telah menyepakati Strategi Kemitraan Baru Asia-Afrika atau New Asian-African Strategic Partnership (NAASP) sebagai wahana untuk menghidupkan kembali semangat kerja sama di bidang ekonomi.

Hal ini ditopang fakta bahwa ekonomi Afrika mulai menggeliat dan negara-negara Asia masih menjadi mesin pertumbuhan ekonomi dunia.

Meskipun memiliki banyak tantangan seperti memproduksi barang yang sama, kesamaan tujuan ekspor, serta belum adanya jaringan sistem pembiayaan dan keuangan, kerja sama Selatan-Selatan antar- Asia-Afrika telah mengembang ke luar batas kerja sama teknik. Nilai kerja sama teknik antardua benua ini menurut estimasi PBB antara 16 miliar dollar AS dan 19 miliar dollar AS.

Arus modal yang melintas wilayah batas negara telah meningkat secara signifikan. Sime Darby dari Malaysia telah menanamkan modal sekitar 600 juta dollar AS untuk mengembangkan kebun kelapa sawit di Afrika, ZAMBEEF dari Zambia telah menanam modal untuk mengembangkan peternakan di negara-negara tetangganya, dan perusahaan sabun B-29 dari Indonesia telah menanamkan modalnya di Etiopia.

Dalam kaitan ini, Indonesia sebagai tuan rumah akan menyelenggarakan Pertemuan Bisnis Asia Afrika (AABS) 21-22 April di Jakarta untuk mempertemukan CEO dari 47 negara Asia dan Afrika dengan CEO Indonesia. Diharapkan mereka dapat mendiskusikan peningkatan kerja sama bisnis, perdagangan, dan investasi. Untuk ini telah dirancang empat agenda meliputi infrastruktur, perdagangan, agribisnis, dan kemaritiman.

Gagasan kompetitif

Adalah suatu tantangan bagi Indonesia, bagaimana mengusahakan agar hasil KTT Asia Afrika 2015 dapat menghasilkan nilai tambah pada gagasan lain yang sedang dalam proses pengembangannya, misalnya ASEAN akan melahirkan Komunitas ASEAN pada akhir 2015, Sasaran Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG) akan disepakati dalam waktu segera, demikian juga formula pengganti Protokol Kyoto yang akan disepakati di Paris akhir tahun ini, serta Kemitraan Ekonomi Baru untuk Pembangunan Afrika (NEPAD) yang didukung Jepang. Salah satu yang dipersiapkan sebagai hasil KTT Asia Afrika 2015 adalah peningkatan NAASP yang akan mendorong kemakmuran Afrika. Hendaknya program dan rencana kegiatannya saling memperkuat dengan NEPAD dan program lain yang sejenis dan dihindarkan adanya pengulangan atau tumpang tindih satu sama lain yang dapat menyebabkan pemborosan.

Di bidang politik, KTT Asia Afrika 2015 akan menghasilkan dokumen mengenai Palestina yang saat ini sedang mengalami krisis. Serangan Israel pada Juli 2014 telah menghancurluluhkan Gaza, sedangkan proses rekonstruksi berjalan tersendat-sendat sehingga banyak anak-anak yang meninggal karena hipotermia. Di samping itu, masalah tersedianya air, listrik, pelayanan kesehatan, pendidikan, dan ekonomi sangat memprihatinkan. Ditambah lagi dengan masalah penahanan anak-anak, permukiman baru di Jerusalem, penghancuran rumah karena tidak memiliki izin mendirikan bangunan di Tepi Barat (West Bank), dan pemindahpaksaan suku Badui yang biasa berpindah-pindah.

Dasasila Bandung menghormati HAM fundamental dan persamaan hak semua bangsa. Majelis Umum PBB 2012 telah memberikan status baru "pengamat PBB bukan anggota" setara dengan status Vatikan di PBB dan mengakui hak bangsa Palestina untuk menentukan nasibnya sendiri. Bisakah bangsa-bangsa Asia dan Afrika yang berkumpul di Jakarta tampil kohesif untuk memberikan dorongan politik yang kuat dan solidaritas kolektif bagi perjuangan bangsa Palestina untuk menentukan nasibnya sendiri?

Makarim Wibisono
Guru Besar FISIP Universitas Airlangga

Source: http://nasional.kompas.com/read/2015/04/20/15100051/Peringatan.60.Tahun.KAA

Oct 10, 2014

Non scholae sed vitae discimus

...

Tentang Pilkada, Gajah, dan Jawaban Tuhan...

Kamis, 9 Oktober 2014 | 20:09 WIB

KOMPAS / HERU SRI KUMORO
Berbagai elemen masyarakat pro demokrasi membawa poster penolakan disahkannya UU Pilkada oleh DPR yang salah satu isinya yaitu kepada daerah dipilih oleh DPRD di Jakarta, Minggu (28/9/2014).

Oleh: Tjatur Wiharyo

KOMPAS.com — Sebuah pepatah latin mengatakan, "non scholae sed vitae discimus". Terjemahan bebasnya—kurang lebih—kita belajar bukan untuk nilai di atas kertas atau pengakuan orang lain, melainkan untuk hidup.

Saya belajar, orang harus tidak dinilai dari hitam di atas putih, yang kini menjadi standar pintar dan sukses. Saya belajar, orang harus dinilai dari perilaku karena perilaku adalah ukuran kesadaran, bukan suku, ras, apalagi agama.

Lahir enggak minta, mati tidak tahu. Apakah adil menilai orang karena sesuatu yang tahu-tahu ia miliki tanpa sempat memilih?

Karena sadar saya bodoh dan sempat merasakan sulit dalam mencari kerja, saya berusaha bekerja sebaik mungkin dan sejujur mungkin. Ibu saya mengatakan—sebetulnya di buku saku Pramuka juga ada—kejujuran itu mata uang yang berlaku di mana-mana.

Itu terbukti benar karena banyak orang mengeluarkan uang banyak dan atau mendapatkan uang banyak untuk membeli atau menggadaikan kejujurannya. Tentu saja, bukan konsep kejujuran seperti ini yang dimaksud ibu saya. "Apesnya", kejujuran yang diajarkan ibu saya itu sudah teramat langka.

Pilkada

Karena menyadari saya bodoh, saya tak mau berpikir dan bicara banyak-banyak soal politik negeri ini. Saya tak tahu, apalagi paham, kenapa UUD 1945 harus diacak-acak. Menurut saya, isinya tambah banyak, tetapi semakin sedikit saja yang paham artinya. Pancasila yang isinya sedikit saja banyak yang tidak hafal, apalagi mengamalkan.

Saya hanya tahu bahwa negara ini adalah negara demokrasi dan demokrasi berarti kekuasaan  ada di tangan rakyat. Gara-gara pengetahuan yang sedikit ini, saya emosi melihat orang-orang ribut soal pemilihan kepala daerah langsung dan tak langsung.

Emosi saya ini cukup besar untuk membuat—meminjam diksi Hercule Poirot—sel-sel kelabu saya bergerak lebih cepat dari biasanya. Hasilnya, saya hanya mengernyitkan dahi.

Saya heran, orang-orang hanya mengeluh, menggerutu, dan mencaci, ketika RUU Pilkada disahkan menjadi UU Pilkada oleh DPR pada 27 September 2014. Ada kekhawatiran, UU tersebut akan menguntungkan kelompok tertentu dan membahayakan pemerintahan baru.

Betul, dengan UU tersebut, keramaian pesta demokrasi seperti terjadi dalam beberapa tahun terakhir akan berkurang. Namun, menurut saya, UU tersebut tidak mengurangi kedaulatan rakyat.

Dengan UU itu, menurut saya, rakyat sebetulnya "diharapkan" berpikir lebih keras, lebih cerdas, dan tentu saja lebih "jual mahal" ketika "musim" pemilihan apa pun tiba.

Menurut saya, dalam konsep demokrasi, suara akan selalu ada di tangan rakyat. Rakyat bisa bersuara sebelum, ketika, dan setelah roda pemerintahan baru berjalan.

Dengan begitu, kekhawatiran UU Pilkada akan merampas suara rakyat hanya merendahkan dan mempermalukan diri sendiri. Sebab, orang yang kita nilai membahayakan itu sesungguhnya lahir dari rahim kita sendiri: rakyat.

Jika suatu hari orang yang diberikan mandat berkhianat, rakyat punya hak untuk mengambil kembali suara yang telah mereka titipkan dan tidak menyerah kepada uang. Jangan pikirkan bagaimana mekanisme atau apa pun namanya karena selalu ada pengecualian dalam dunia manusia.

Tentang gajah dan Tuhan

Dalam kehidupan manusia yang cenderung menuntut kebebasan sampai sering bablas, sudah "hukumnya" bahwa yang kaya menindas, yang miskin berontak. Sudah "hukumnya" yang kaya memeras, yang miskin merampas. Sudah "hukumnya" yang kaya menghukum si miskin, yang miskin menghakimi si kaya.

Jika begitu, ikuti saja dulu apa mau "mereka", seperti kebijakan PT Kereta Api Indonesia soal tiket harian berjaminan, misalnya.

Awalnya, tak ada tiket harian berjaminan (THB). Karena terus-menerus menanggung ongkos cetak tiket yang tak kembali, PT KAI mengimbau masyarakat mengembalikan tiket. Karena imbauan itu tidak dipatuhi, PT KAI mengeluarkan win-win solution dengan mengeluarkan tiket harian berjaminan.

Dengan THB, PT KAI tak akan rugi jika masyarakat ingin "mengoleksi" tiket. Masyarakat juga akan berpikir dua tiga kali untuk mengoleksi THB karena telah membayar di muka ongkos cetaknya. Ya, kurang lebih begitu...

Ada ujar-ujaran yang mengatakan, hanya orang-orang yang siap mati akan siap untuk hidup. Kalau ibu saya mengatakan, Indonesia tak maju-maju (sejahtera) karena orang takut mati dan takut miskin.

Kita hanya berpikir soal rumah sendiri, mobil sendiri, serta keluarga dan diri sendiri. Kita menumpuk harta sampai tak risau saat tetangga kita tidak bisa makan.

Kita tetap duduk anteng di kursi KRL Commuter Line meski wajah kita tepat berada di depan perut seorang nenek yang berdiri dengan menaruh tangan pada tas punggung orang lain untuk menjaga keseimbangan.

Kita melewati orang yang jatuh di jalan karena khawatir terlambat ke sekolah atau ke kantor. Beberapa kali, saya mendapati anak-anak muda, ahli waris dan calon pemimpin bangsa ini, tak mengurangi tekanan pada pedal dan tuas gas kendaraan mereka ketika melewati genangan di dekat halte yang penuh sesak orang berteduh.

Mungkin, jika hidup seperti itu, kita bisa mendapatkan nilai indeks prestasi kumulatif tinggi, lulus cepat, berpenghasilan tinggi, dan punya segalanya pada usia muda.

Namun, dengan hidup begitu, kita tak akan pernah melahirkan "primus inter pares"—keunggulan dibandingkan yang lain—dan akan selamanya khawatir dan merendahkan diri sendiri.

Jika begitu pula, kita tak berhak protes karena kita sebetulnya tak berbeda dari "mereka", yang kita cerca telah menghalalkan segala cara.

Oportunis—jika kata pengkhianat terlalu tajam—akan selalu ada di antara kita. Namun, khawatir saja tak akan membawa kita ke mana-mana.

Bukankah para orangtua dulu mengajarkan, sebelum mencari-cari semut di seberang sana, kita perlu lebih dulu memastikan pandangan kita tak terhalang oleh gajah?

Masih soal semut dan gajah, ada cerita tentang orang yang melihat ada begitu banyak masalah di sekitarnya dan mengadu kepada Tuhan, "Tuhan, ada begitu banyak masalah di dunia. Kenapa Engkau berpangku tangan?"

Apa jawaban Tuhan atas aduan orang itu? Dia menjawab, "Saya sudah melakukan sesuatu. Saya menciptakan kamu."