May 20, 2008

Satu Abad Kebangkitan Nasional

 Selamat Harkitnas 20 Mei 2008!!!
 
100 Tahun Kebangkitan Nasional
Semangat Kebangsaan yang Harus Terus Dipelihara
KOMPAS/WAWAN H PRABOWO
Senin, 19 Mei 2008

Kompas, James Luhulima

Pembentukan Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908, 100 tahun lalu, dianggap sebagai langkah awal menuju lahirnya semangat kebangsaan Indonesia. Itu sebabnya, hari lahir Boedi Oetomo juga diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Memang semangat kebangsaan pada tahun 1908 itu belumlah dalam pengertian seperti semangat kebangsaan Indonesia sebagaimana yang dipahami pada tahun 1945 ketika kemerdekaan Indonesia diproklamasikan.

Tentang kebangsaan Indonesia itu digambarkan secara menarik dalam perdebatan antara Sutan Takdir Alisjahbana dan Sanusi Pane di dalam buku Polemik Kebudajaan yang diterbitkan Perpustakaan Perguruan Kementerian PP dan K Djakarta, 1954.

Sanusi Pane mengatakan, "Tuan STA menjebut, bahwa dalam zaman Modjopahit, Diponegoro, Teungku Umar, belum ada ke-Indonesiaan. Pikiran ini kurang benarnja pada pendapatan kami. Ke-Indonesiaan pada waktu itupun sudah ada, ke-Indonesiaan dalam adat, dalam seni. Hanya natie Indonesia belum timbul, orang Indonesia belum sadar bahwa mereka sebangsa".

Pada masa itu, semangat kebangsaan barulah pada tingkat semangat beberapa mahasiswa STOVIA asal Jawa untuk melepaskan diri dari penjajahan Belanda melalui cara-cara damai, dengan antara lain memperjuangkan kemajuan pendidikan.

Memang di STOVIA pada masa itu sudah ada mahasiswa yang datang dari luar Pulau Jawa, seperti Sumatera, Ambon, Manado, dan Timor. Namun, karena pada waktu itu faham kebangsaan Indonesia belum dikenal, mahasiswa-mahasiswa itu tidak dilibatkan dalam pembentukan Boedi Oetomo. Adalah Tjipto Mangoenkoesoemo yang kemudian meluaskan perhatian Boedi Oetomo, sehingga tidak lagi hanya dipusatkan kepada orang Jawa, tetapi juga kepada semua penduduk Hindia Timur Belanda. Dan, menurut Akira Nagazumi dalam buku The Dawn of Indonesian Nationalism: The Early Years of the Budi Utomo, 1908-1918 (Institute of Developing Economies, Tokyo, 1972), yang pantas dicatat dari Boedi Oetomo adalah antara lain organisasi itu terbebas dari prasangka keagamaan dan kebekuan tradisionalisme.

Boedi Oetomo dapat dianggap sebagai pendahulu dari pergerakan kebangsaan yang muncul dengan lahirnya Nationale Indische Partij pada tahun 1912 dan Sarikat Islam tahun 1913.

Proses yang panjang

Semangat kebangsaan tidak tumbuh dalam satu malam, tetapi melalui proses perjalanan yang panjang. Semangat kebangsaan Indonesia menajam dengan diikrarkannya Soempah Pemoeda pada 28 Oktober 1928, dan mencapai puncaknya pada proklamasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945.

Dalam Mukadimah Undang- Undang Dasar 1945 ditegaskan, "... membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia…."

Kata "segenap bangsa Indonesia" menjadi kata kunci mengingat negara ini bukan dibuat untuk satu golongan saja, melainkan untuk semua orang yang tinggal di negara Indonesia tanpa memandang suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Semua pihak mempunyai sumbangan sendiri-sendiri bagi kemerdekaan Indonesia. Itu pula sebabnya, Indonesia menjadikan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan, biarpun berbeda-beda tetapi tetap satu.

Atas dasar kesepakatan itulah Indonesia dibangun dan dapat bertahan melawan aksi polisionil Belanda pada tahun 1947 dan 1949 serta memperoleh kemerdekaannya secara utuh melalui Konferensi Meja Bundar pada tahun 1949.

Harus terus diperkuat

Namun, semangat kebangsaan itu tidak statis, tetapi harus terus dipelihara dan diperkuat dari waktu ke waktu mengingat generasi berikutnya (yang lahir setelah Indonesia memperoleh kemerdekaan) tidak memiliki pengalaman yang sama dengan apa yang dilalui para pendiri bangsa ini. Mereka menerima kemerdekaan Indonesia sebagai sesuatu yang sudah ada. Karena itu, mereka cenderung meremehkannya, bahkan beberapa pihak mencoba mengutak-utiknya dengan mengemukakan berbagai argumen sebagai alasan.

Pada masa pemerintahan Orde Lama yang dipimpin Presiden Soekarno, asas keseimbangan SARA sangat diperhatikan. Para menteri datang dari berbagai suku bangsa sehingga "pertarungan" berbagai putra daerah berlangsung pada panggung nasional.

Pada masa pemerintahan Orde Baru yang dipimpin Presiden Soeharto, asas keseimbangan itu seakan terabaikan. "Pertarungan" putra daerah berlangsung pada tingkat provinsi dan mulailah "nasionalisme" lokal bermunculan. Antara lain muncul tuntutan agar kepala daerah (gubernur) haruslah putra daerah karena mereka tidak melihat adanya peluang untuk bertarung pada tingkat nasional.

Bukan itu saja, gaya komando seperti yang berlaku di kalangan militer yang coba diterapkan untuk memelihara kebangsaan Indonesia, seperti pemaksaan Pancasila sebagai asas tunggal dan pengajaran (indoktrinasi) Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), justru menumbuhkan "perlawanan" terselubung pada beberapa kelompok masyarakat.

Padahal, semangat kebangsaan Indonesia yang salah satu unsur terpentingnya adalah toleransi, atau sikap saling menghormati, seharusnya ditumbuhkan dan dikembangkan sesuai dengan tingkat kematangan masyarakat. Pemaksaan kehendak hanya akan membuat sikap saling menghormati yang terbentuk itu semu dan tidak langgeng.

Dan, berakhirnya masa Orde Baru seakan membuka kotak pandora dan semangat kebangsaan Indonesia yang diletakkan pada tahun 1945 menjadi taruhan. Keinginan untuk memisahkan diri mulai disuarakan, pembakaran rumah ibadah terjadi di sejumlah tempat, dan sekelompok orang diusir keluar dari desanya dan tinggal di tempat pengungsian hanya karena meyakini kepercayaan yang berbeda. Dapat dipastikan bahwa itu bukanlah suatu pemandangan atau keadaan yang diinginkan para pendiri bangsa ini.

Pemerintah harus berbuat sesuatu untuk mengatasi keadaan itu, dan bukan malah membuatnya menjadi semakin parah. Tidak berarti pemerintah harus bekerja sendirian, pemerintah bisa saja mengajak semua unsur masyarakat yang diharapkan dapat membantu mengatasi keadaan itu. Yang diperlukan dari pemerintah adalah memimpin di depan untuk sesegera mungkin menyelesaikan keadaan sebelum menjadi tidak terkendali.

Sultan Hamengku Buwono X dalam buku Merajut Kembali Keindonesiaan Kita (PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2007) menyebutkan, masalahnya adalah bagaimana mengaktualisasikan simbol Bhinneka Tunggal Ika—yang biarpun berbeda tetapi tetap satu itu—ke dalam konteks yang benar.

Peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional harus dijadikan awal mula sebagai langkah untuk mengembalikan semangat kebangsaan seperti yang diletakkan pada awal negara ini didirikan. Dengan demikian, Indonesia dapat menjadi "rumah" yang aman dan nyaman bagi kita semua. ***

 

Feb 28, 2008

Orang-orang besar 2007

Orang besar selalu berperilaku seperti halilintar yang membelah langit dan manusia lain hanya menunggunya seperti kayu bakar.
-- Thomas Carlyle (1795-1881)

People of The Year 2007
Jum'at, 28/12/2007

ImageINDONESIA adalah negara besar dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa. Indonesia juga dikenal sebagai negara kaya karena terletak di wilayah khatulistiwa. Namun kebesaran dan kekayaan alam Indonesia seperti sekadar mitos yang masih sulit dibuktikan ke dalam realitas kehidupan nyata berbangsa.

Kebesaran nilainya menjadi semu karena kurang adanya kewibawaan dan ketegasan. Kekayaan menjadi absurd karena kurang memberi dampak positif bagi kesejahteraan rakyat akibat salah urus dan hanya dimanfaatkan untuk kepentingan konspirasi politik dan ekonomi kelompok.

Rakyat Indonesia sesungguhnya merindukan kebesaran dan kekayaan itu hadir dalam wujud dunia yang nyata. Bukan sekadar ilusi dan fatamorgana. Yang mengundang kegelisahan, apakah bisa menghadirkan mimpi itu menjadi kenyataan?

Adalah tidak berlebihan kalau kita meyakini bahwa mimpi-mimpi itu bisa menjadi kenyataan, dengan catatan ada komitmen besar dari orang-orang besar yang benar-benar berpikir untuk kemakmuran dan kebaikan negeri ini. Optimisme kita akan selalu mengatakan,"Masa, dari 200 juta jiwa lebih penduduk Indonesia, tidak ada di antara mereka yang memiliki komitmen besar untuk memakmurkan dan memajukan bangsa ini, aneh bukan?"

Terlepas dari plus minusnya, jika kita bandingkan Indonesia dengan Malaysia yang populasinya 27 juta jiwa, mereka memiliki Mahathir Mohammad yang bisa membawa negeri itu berjaya. Singapura dengan populasi 4,7 juta jiwa memiliki Lee Kuan Yew yang membawa negara kecil itu menjadi kaya raya, Afrika Selatan (44 juta) memiliki Nelson Mandela yang dikenal sebagai pejuang demokrasi dan kemakmuran, Venezuela (26 juta) memiliki Hugo Chavez yang tampil dengan kewibawaannya, Bolivia (11 juta) punya Evo Morales yang memiliki keberanian dan kepercayaan diri dalam melakukan langkah nasionalisasi di tengah kepungan asing.

Kebutuhan atas sosok yang berkomitmen besar demikian telah memberi inspirasi koran SINDO untuk meneruskan tradisi pemilihan People of The Year seperti yang dilakukan tahun sebelumnya. Dan tahun ini,ada yang lebih istimewa karena SINDO juga memilih Issue of The Year. Tradisi penokohan bagi bangsa Indonesia menjadi sesuatu yang penting karena bisa menjadi semacam altruism (semangat kemanusiaan), trust (rasa saling memercayai), dan predeterminism (penentuan nasib).

Majalah TIME juga memulai tradisi ini sejak 1927. Konteksnya saat itu, para editor majalah berpengaruh tersebut sedang kesulitan mencari tokoh yang bisa dimuat untuk halaman sampul karena sedang tidak ada tokoh politik maupun ekonomi yang menonjol pada tahun itu. Akhirnya pilihan jatuh kepada Charles Augustus Lindbergh Jr, yang pada tahun itu sukses mengarungi lautan Atlantik dengan penerbangan solo tanpa henti.

Kehebatan Lindbergh yang dijuluki "Lucky Lindy" ini akhirnya menjadi satu-satunya pilihan sebagai tokoh yang masuk kategori newsmaker. Tradisi TIME itu akhirnya berkembang, yaitu bahwa istilah Man of The Year/Person of The Year tidak hanya sebagai reward terhadap tokoh tertentu saja, tetapi juga diberikan kepada tokoh pembuat berita, baik dilihat dari sisi positif maupun negatif.

Tak aneh kalau diktator Adolf Hitler dan Joseph Stalin pernah menjadi Man of The Year di masanya. Termasuk tokoh kontroversial yang sangat dibenci Amerika Serikat, Ayatollah Khomeini, oleh TIME dinobatkan sebagai Man of The Year 1979. Hanya dalam perkembangannya,TIME seperti membuat kontroversi saat menetapkan Person of The Year pada 2006.

Hasil polling menetapkan Presiden Venezuela Hugo Chavez mendapatkan perolehan suara tertinggi (35%), disusul Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad (21%). Juru Bicara Parlemen Amerika Nancy Pelosi (12%) dan Presiden AS George W Bush (8%) kurang beruntung karena urutannya termasuk di nomor belakang. Namun, majalah berpengaruh itu tidak memilih Hugo Chavez atau Ahmadinejad menjadi Person of The Year. Dengan sangat mengejutkan, pilihan Person of The Year versi TIME adalah "You" (Anda sendiri).

Anda sendirilah yang menentukan kehidupan menjadi baik atau buruk. Sikap kontroversial TIME yang menimbulkan banyak kritik sebagai pilihan yang stupid itu kemungkinan karena adanya "intervensi" atau ketidaksukaan Pemerintah Amerika Serikat (AS) atas terpilihnya tokoh-tokoh dunia yang menentang atau anti-AS sehingga para editornya harus berpikir untuk mencari alternatif penokohan yang bisa dikatakan lebih "aman".

Namun, SINDO memiliki cara lain yang pendekatan metodologisnya memungkinkan untuk bisa lebih objektif dan jauh dari unsur kepentingan-kepentingan. Ada empat nama yang terpilih sebagai People of The Year versi SINDO. Mereka adalah Sri Sultan Hamengku Buwono X (bidang politik), Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (bidang ekonomi), mantan Ketua KPK Taufiequrachman Ruki (bidang hukum), dan Rektor IKJ Prof Sardono Waluyo Kusumo (bidang budaya). Sementara Issue of The Year terpilih versi SINDO adalah korupsi.

Terpilihnya keempat nama itu bukan tanpa alasan yang jelas. Mereka memang orang-orang cerdas, berani, tidak mudah puas dengan kemapanan. Mereka termasuk minoritas, tetapi memiliki prakarsa, pikiran-pikiran orisinal dan berada di depan yang lain. Minoritas inilah yang membawa sejarah ke tahap yang baru. Thomas Carlyle, filosof Skotlandia yang meninggal di Inggris, misalnya, percaya bahwa sejarah dibentuk oleh individu-individu yang cemerlang.

Dalam bukunya On Heroes, Hero-Worship, and the Heroic in History, Carlyle mempertegas bahwa setiap sejarah merupakan perwujudan satu atau lebih dari satu pribadi cemerlang. Lebih tepatnya, sejarah setiap bangsa merupakan perwujudan personalitas dan kejeniusan satu atau lebih dari satu pahlawan. Misalnya, sejarah Islam merupakan perwujudan personalitas Nabi Muhammad; sejarah Prancis modern merupakan perwujudan personalitas Napoleon; dan sejarah Uni Soviet 60 tahun silam merupakan perwujudan personalitas Lenin.

Dalam pandangannya yang lain, Carlyle yang juga dikenal sebagai penganut the great man theory sering menempatkan orang besar sebagai sumber perubahan sosial. Orang besar menurutnya selalu berperilaku seperti halilintar yang membelah langit dan manusia lain hanya menunggunya seperti kayu bakar. Akhirnya, harapan besar kita tujukan kepada mereka yang terpilih sebagai People of The Year versi SINDO. (Sururi Alfaruq)

Feb 17, 2008

Asal Usul: Valentine's Day

Sejarah Kisah Kasih 14 Februari

Bunga mawar yang sering dijadikan simbol kasih sayang

Kompas, 14 Februari 2008

USAI mempersembahkan kambing dan minum anggur, para pendeta berlari berhamburan di jalan-jalan kota. Tak lupa, mereka pun menggenggam potongan-potongan kulit kambing kurban tadi. Mereka juga menyentuh siapa saja yang mereka jumpai.

Nah, biasanya, perempuan-perempuan mudalah yang sangat ingin disentuh dengan potongan-potongan kulit kambing seraya berharap beroleh karunia kesuburan berikut bisa melahirkan dengan mudah. "Demi Lupercus!" begitulah kira-kira teriakan mendamba para perempuan untuk anugerah tersebut.

Ya, Lupercus, dewa yang sosoknya digambarkan setengah telanjang berpakaian kulit kambing itu adalah nama yang acap diteriakkan penduduk Roma kuno pada perayaan Lupercalia, tiap 15 Februari, kala itu.

Lalu, di jiran Roma, Grekia yang beribu kota di Athena, kesuburan - diawali dengan cinta, tentu saja - hitung-hitungan kalender tengah Januari hingga tengah Februari adalah Bulan Gamelion. Pada bulan itulah segala persembahan diunjukkan terkait dengan pernikahan suci Dewa Zeus dengan Hera.  

Lalu apa hubungan perayaan bagi dewa-dewi itu dengan hari kasih sayang yang kini diperingati tanggal 14 Februari?

Masih di Roma, cerita tentang cinta dan kasih sayang memang beragam. Namun nama yang paling sering disebut dan dihubungkan dengan perayaan Valentine adalah "Valentinus" yang sejatinya sukar dicari keterhubungannya. Soalnya, nama itu menunjuk pada nama seorang pastor di Roma, nama seorang uskup, dan nama seorang martir di provinsi Romawi Afrika.

Tapi bahwa 14 Februari kemudian ditetapkan sebagai Hari Raya Santo Valentinus, kabarnya, merupakan langkah yang diambil Paus Gelasius I pada 496 sesudah Masehi untuk sedikit banyak mengungguli perayaan Lupercalia, sehari sesudahnya.

Selanjutnya, pada abad pertengahan, khususnya, di Inggris dan Prancis, 14 Februari adalah hari yang dipercaya sebagai hari tatkala burung mencari pasangannya untuk kawin.

Sementara, saat ini, Hari Valentine atawa Hari Kasih Sayang yang jatuh pada 14 Februari juga, lebih menonjol tampil dalam perwujudan cinta kasih sepasang lelaki perempuan yang tengah kasmaran bersimbol mulai dari kartu ucapan hingga bunga mawar serta penganan cokelat. Walau, sesungguhnya, cinta kasih tak cuma berhenti pada terminal mabuk asmara.

Maka dari itulah, memaknai Hari Valentine menjadi pilihan amat pribadi bagi khalayak masa kini. Boleh bertukar sapa maupun benda hingga saling menabur salam doa. Bukan untuk dijadikan silang-selisih karena sejatinya, cinta kasih adalah anugerah dari Yang Mahatinggi. (Josephus Primus)

Sumber: http://www.kompas.com/read.php?cnt=.xml.2008.02.14.17295549&channel=1&mn=35&idx=68