Showing posts with label Sospol. Show all posts
Showing posts with label Sospol. Show all posts

Aug 3, 2012

Efek Ortografi dalam Aplikasi Pancasila

Imajinasi Einstein dalam bingkai praksis kenegaraan NKRI yang Mahamerdeka!
 

BAHASA

Ketuhanan yang Satu Besar

Oleh MULYO SUNYOTO

Sebelum mengupas sisi kebahasaan sila pertama dasar negara kita, perlulah saya mengutip kalimat agung dari Albert Einstein: logika membawa Anda dari A sampai Z, tetapi imajinasi membawamu ke mana-mana.

Ketuhanan Yang Maha Esa. Perhatikan format penulisannya, ortografinya. Bentuk terikat yang memperoleh kehormatan ditulis dengan takzim: diawali dengan huruf kapital. Penyunting masa kini yang rewel-bawel pasti bernafsu mengamendemennya, menuliskannya kembali berdasarkan landasan hukum positif linguistik hari ini. Yang berlaku adalah yang, bukan Yang.

Masih perkara ortografi: maha yang jelas-jelas bentuk terikat tak eloklah ditulis terpisah dari kata, tepatnya numeralia, yang mengikutinya. Sang editor yang bertangan gatal pasti berhasrat merapatkan keduanya. Secara keseluruhan rumusan sila perdana itu jadi Ketuhanan yang Mahaesa.

Tapi, ya, sudahlah. Ortografi pada hakikatnya bukan esensi bahasa yang paling awal. Di masa purba tak ada itu huruf. Yang ada cuma bunyi. Di situ tenaga tak habis percuma untuk berkelahi soal huruf besar atau kecil, huruf tegak atau miring.

Nah, sekarang saatnya merangsek ke ranah semantik. Lagi-lagi editor yang merasa belum bekerja kalau belum mengubah teks itu geram. Dia sudah paham betul makna maha. Untuk kian meyakinkan diri, dia buka kamus terbitan terbaru Pusat Bahasa. Di sana maha diartikan sebagai adverbia 'sangat, amat, teramat' dan sebagai adjektiva 'besar'. Karena esa yang bermakna 'satu' adalah numeralia, yang bisa berkelas nomina atau adjektiva, mahaesa sepadan dengan 'sangat satu' atau 'satu besar'.

Sangat satu? Satu besar? Akal linguistik sang editor macet total. Selintas kemudian dia teringat si bungsu yang kini belajar di taman kanak-kanak, di kelas nol besar. Ingatan selintas ini mengembang jadi garis awal imajinasinya: ya, ya, ya, katanya tanpa suara sambil manggut-manggut. Ya, di jagat ini, ada satu matahari, ada satu Albert Einstein. Namun, keesaan matahari bukan lagi satu dipandang dari sistem Bimasakti. Keesaan Einstein sirna ditinjau dari konstelasi manusia genius sepanjang kehidupan berdenyut. Artinya: ada sesuatu yang lain yang mirip- mirip, bahkan sangat mungkin melampaui, sifat kemataharian dan keeinsteinan.

Tuhan beda. Dia tak sekadar esa. Maha Esa! Dia pun melampaui tetek bengek ortografi.

Imajinasi sang editor belum berhenti. Fantasinya mengembara ke mana-mana. Dia terpukau oleh pemfrasaan versi perumus dasar negara itu. Dengan rumusan itu, rakyat Indonesia dibebaskan menjadi penganut iman apa pun, termasuk deisme—bertuhan tanpa beragama. Meskipun sila pertama dasar negara itu digunakan sebagai bingkai praksis kenegaraan, tak ada segi pemformalan agama-agama yang mesti dianut (calon) penyelenggara (lembaga) negara. Tak seperti penguasa Orde Baru yang menebarkan restriksi beriman: hanya sehitungan jumlah jari satu tangan agama yang diakui secara resmi.

Lalu, bagaimana dengan peluang memilih agnostikisme, ateisme? Tak sulit menjawab pertanyaan ini. Bila hidup Anda merasa bermakna dengan menjadi pegawai negeri sipil atau militer, jangan banyak tingkah secara intelektual. Anda mesti bertuhan, tepatnya beragama. Namun, bila Anda merasa lebih bermakna menjadi manusia bebas dalam berpikir, yang memperoleh nafkah dari mana pun kecuali gaji bulanan PNS, sila menjadi pendekap dua paham yang tak dirangkul sang garuda.

Apalagi Cak Mahfud MD bersuara: tak ada pasal yang bisa menghukum pengikut ateisme.

Hmm, luar biasa hidup di NKRI ini. Mahamerdeka, gitu loh!

Mulyo Sunyoto Magister Pendidikan Bahasa

Sumber: Kompas, 03 Agustus 2012

Jul 10, 2011

OECD Better Life Index

This is to complement the news telling of Aussie cities becoming the world's priciest (Sydney jumped to 6th from 32nd in 2 years!).

To live well, getting rich is only half an answer

Sydney Morning Herald, July 6, 2011
Ross Gittins (SMH Economics Editor)

What matters is not how much income you have, what matters is how you spend that income. Ross Gittins explains.

How important is money to enjoying a high quality of life? It's an eternal question - mainly because there's no simple answer. But we can use the new ''better life index'' compiled by the Organisation for Economic Co-operation and Development to shed more light on the topic.

The short answer is that once a country reaches a reasonable level of affluence, it's not how much money it has so much as how well it uses what it's got. For the individual, the key is understanding money's limitations.

In an effort to get away from using gross domestic product as a de facto measure of wellbeing, the organisation has developed a better life index for each of its 34 member countries (which include, along with its 23 original rich countries, six former communist countries plus Mexico, Chile, Turkey, Israel and South Korea).

<em>Illustration: John Shakespeare</em>

Illustration: John Shakespeare.

Each country's index is compiled from 21 indicators covering 11 dimensions of wellbeing: income, jobs, housing, health, work/life balance, education, social connections, civic engagement, environmental quality, personal security and life satisfaction.

I guess the key question is the extent to which money - income - determines how well you do on the other 10 dimensions. The Economist has taken each country's score on the better life index and plotted it against that country's GDP per person, finding a reasonably strong correlation between the two.

But the correlation's a lot stronger for the new, poorer members of the organisation than it is for the old, richer members. And this is consistent with the research evidence on subjective wellbeing: rich countries are happier than poor countries, and poor countries get happier as their incomes rise, but once a country joins the other rich nations, having a bit more income than the next country doesn't necessarily mean your people will be happier than theirs.

Consider this: according to The Economist's figuring, Norway's income per person is getting on for double New Zealand's, yet the Kiwis' score on the better life index is a bit higher than Norway's. Clearly, though having enough money helps, there's a lot more to it.

The explanation goes partly to the question of how a country (or an individual) uses the money it has, though it may also involve factors that have little to do with money. But it also suggests income suffers heavily from what economists call ''diminishing marginal utility''. The first, say, $15,000 of annual income buys you a lot more wellbeing than the last $15,000 does.

But let's focus on the better life index. Partly because the organisation chose not to draw attention to the fact (and most journalists are weak at doing their own sums), surprisingly little attention has been paid to the news that Australia had the highest rating among the 34 countries, beating Canada by the narrowest of margins.

Sweden runs a close third. And, indeed, all the Nordic countries do well, yet again defying the Anglo-Saxon notion that countries do best when their governments do (and tax) least. Sweden, Denmark, Norway and Finland remain an excellent advertisement for what the libertarians contemptuously refer to as the nanny state.

The index's big hint that maybe money isn't everything comes when we compare our performance with that of the US. On the index's measure of income - household disposable income per person - the Americans come top, with incomes almost 40 per cent higher than ours.

And yet we score more highly than them on seven of the 10 other dimensions, coming equal with them on one. We equal them on quality of housing, measured mainly by number of rooms per person.

We have 72 per cent of our working-age population in employment to their 67 per cent. Americans work 5 per cent more hours a year than we do. This puts them a bit above the average and us a bit below.

In the US 73 per cent of mothers are employed after their children begin school, compared with 70 per cent in Australia. The organisation says this ''suggests that women are able to successfully balance family and career'', though some would dispute that interpretation.

One dimension in which the Americans beat us is educational attainment. They have 89 per cent of adults with the equivalent of a high school diploma, whereas we have only 70 per cent, putting us below the average.

Whether you want a highly educated workforce so as to earn more income or you value education for its ability to broaden people's horizons, this is a dimension in which we aren't doing nearly as well as we should.

On work/life balance we don't score well - worse than the Americans - because we have such a high proportion of people working more than 50 hours a week.

A classic example of the importance of spending money wisely is health. The Americans spend far more of their income on healthcare than we do, but we get better results. For instance, our life expectancy at birth is more than 81 years, compared with their 78 years.

In terms of social connections, 92 per cent of Americans believe they know someone they could rely on in time of need, whereas 95 per cent of Australians say they do.

Turning to what I regard as the bottom line, satisfaction with life, they have 70 per cent of people expressing satisfaction, whereas we have 75 per cent.

Poverty has nothing to recommend it. Having money is nice. But there's a difference between a high material standard of living and a high quality of life.

We need to remember that, and we need our politicians to remember it.

Ross Gittins is Sydney Morning Herald economics editor.

Source: http://www.smh.com.au/opinion/politics/to-live-well-getting-rich-is-only-half-an-answer-20110705-1h0om.html#ixzz1RIMKj3To

Jun 28, 2011

The world's happiest nation

...
 
 
OECD rates Australians as the happiest people in the world
smile

Australians are the happiest people in the world. Picture: File Source: Supplied

YOU might not believe this but you are happy. Smile.

Sure, grocery prices are going to rise by $1300 in the next two years and interest rates are heading for ten per cent. And yes, the stock market slump has stuffed the plans of thousands of baby boomers who wanted to retire, and hundreds of us are barely able to keep up with electricity price rises, but Australians are the happiest people in the world.

The organisation compared people in the 34 OECD member countries, using 11 indicators - such as income, education and health - weighted equally and Australians topped the pack.

Along with the 11 factors the OECD associates with a "good life," the index takes into consideration citizens' answers to quality-of-life questions like, "How satisfied are you with your life?" "How would you describe your health?" and "Do you know someone you could turn to in a time of need?"

So we are either happy, or just bad at filling out surveys.

In order, the next nine happiest countries were: Canada, Sweden, New Zealand, Norway, Denmark, the US, Switzerland, Finland and the Netherlands.

The index will eventually include the OECD's six partner countries - Brazil, China, India, Indonesia, Russia and South Africa.

Looks like our Prime Minister isn't buying it either.

Julia Gillard today acknowledged some households are doing it "pretty tough" despite the Australian economy being the envy of the the world.

As she spruiked the benefits of a resources boom, Ms Gillard admitted some people were struggling with cost-of-living pressures.

"Those pressures are real," she told ABC Television.

"Macro economy, we are the envy of the world ... but around the kitchen table people are looking at bills, are looking at the cost of living and are finding it pretty tough.

The government had addressed that with increased family payments, Ms Gillard said.

So maybe it's government cash that is making us happy?

With AAP

http://www.news.com.au/national/oecd-rates-australians-as-the-happiest-people-in-the-world/story-e6frfkvr-1226083256292

Jun 13, 2011

Runtuhnya Nilai Kejujuran

Runtuhnya Nilai Kejujuran

Sabtu, 11 Juni 2011 19:55 WIB

KITA semua pasti ikut merasa prihatin atas nasib yang dialami siswa sekolah dasar AL dan kedua orangtuanya Siami serta Widodo. Karena sikap jujur mereka untuk menyatakan ketidakbenaran atas pelaksanaan ujian nasional, malah mereka akhirnya dinyatakan bersalah.

Orangtua AL dianggap mencoreng nama baik sekolah. Para orangtua yang lain menyalahkan orangtua AL yang mempersoalkan adanya permintaan guru sekolah yang memerintahkan AL membagi jawaban ujian nasional kepada murid-murid yang lain.

Ini persoalan mendasar yang tidak bisa dianggap enteng. Betapa nilai-nilai kejujuran sudah begitu terpuruknya pada bangsa ini. Kita tidak lagi bisa membedakan antara yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk.

Nilai sepertinya sudah terbalik-balik pada bangsa ini. Orang yang salah bisa menjadi benar, sementara orang yang benar bisa dianggap salah. Itu bukan hanya terjadi pada kasus di Gadelsari Barat, Surabaya, tetapi sudah menjadi praktik umum yang kita lihat setiap hari.

Ketika kita sedang berada dalam kekuasaan, seringkali kita tidak menangkap ketidakadilan seperti itu. Seakan-akan itu hanya sebuah persoalan kecil yang tidak penting dan tidak memiliki makna apa pun. Namun ketika kemudian merasakan sendiri ketidakadilan itu, maka bisa terasalah arti sebuah kebaikan, arti sebuah kebenaran, arti sebuah kejujuran.

Itulah yang pasti dirasakan oleh Adang Daradjatun. Ketika masih menjabat sebagai polisi, menjadi Wakil Kepala Kepolisian RI, ia tidak terlalu peduli atas ketidakadilan yang terjadi. Ketika para pelaku korupsi kabur ke luar negeri, tidak terdorong keinginan untuk memerintahkan anggota polisi untuk menangkap mereka.

Kini ia merasa ketidakadilan itu, ketika istrinya Nunun Nurbaeti dipersangkakan ikut terlibat dalam kasus suap pada pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia. Adang berteriak keras ketika istrinya ditetapkan sebagai tersangka, dicabut paspornya, dan dimintakan kepada Interpol untuk ditangkap.

Dalam wawancaranya dengan Metrotv, Adang tidak bisa menerima atas ketidakadilan yang ia rasakan. Bagaimana istrinya ditetapkan sebagai tersangka dan dicabut paspornya, sementara begitu banyak koruptor yang kabur ke luar negeri sejak bertahun-tahun lalu, namun hingga kini tidak pernah juga dicabut paspornya.

Adang menegaskan bahwa dirinya tidak akan tinggal diam. Meski bukan dalam arti melakukan perlawanan total, dirinya akan membuka semua ketidakberesan yang terjadi. Ia tidak akan membiarkan istrinya dijadikan korban dari sebuah ketidakbenaran.

Adang beruntung masih tercatat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Keadilan Sejahtera. Sebagai polisi bintang tiga, pasti masih banyak anggota polisi yang akan membantu dirinya melawan ketidakadilan itu.

Namun tidak demikian nasibnya Saimi dan Widodo. Mereka bukanlah siapa-siapa. Mereka hanya rakyat biasa yang mencoba menegakkan nilai kejujuran. Namun ia harus tersingkir dari lingkungannya, yang tidak bisa menerima sikap jujurnya.

Adakah orang yang membela Saimi dan Widodo? Adakah mereka yang peduli terhadap AL? Tidak ada sama sekali. Mereka dibiarkan menghadapi kejamnya kehidupan di tengah bangsa yang sedang kehilangan nilai kebaikan.

Seharusnya pemerintah tampil untuk menggunakan momentum ini mengajarkan kembali pentingnya arti sebuah kejujuran, pentingnya sebuah keadilan. Tampil untuk menjadikan sosok Saimi dan Widodo sebagai simbol kejujuran, bukan malah membiarkan mereka menjadi korban dari ketidakbenaran.

Bahkan Presiden, Menteri Pendidikan Nasional, Gubernur Jawa Timur, Wali Kota Surabaya seharusnya bersimpati kepada nasib yang dialami Saimi dan Widodo. Bukan hanya duduk diam, menonton ketidakbenaran itu terus terjadi, sehingga tidak ada pembelajaran yang bisa dipetik oleh bangsa ini.

Ketika semua pemimpin diam, maka orang tidak akan berani untuk bicara kebenaran, bicara kejujuran. Mereka akan menelan semua ketidakbenaran itu, kalau pun dirasakan bertentangan dengan nilai kebajikan yang mereka yakini. Sebab, ternyata bicara kebenaran, bicara kejujuran di negeri ini malah dianggap sebagai sebuah kesalahan.

Ketika memberikan kuliah di depan generasi muda, sebenarnya ada pelajaran berharga yang diberikan Presiden. Bahwa sebagai pemimpin kita tidak boleh berkompromi untuk hal-hal yang prinsipiil seperti dalam hal etika atau nilai-nilai. Yang boleh dikompromikan hanyalah taktik atau strategis dalam mencapai tujuan.

Kasus AL, Saimi, dan Widodo seharusnya dipakai untuk melaksanakan kebajikan yang disampaikan. Saimi dan Widodo merupakan sosok langka di negeri yang hanya berorientasi kepada hasil, tanpa memedulikan proses. Saimi dan Widodo mengajarkan kepada kita semua bahwa kejujuran itu masih ada di negeri ini.

Sumber: http://www.metrotvnews.com/read/tajuk/2011/06/11/790/Runtuhnya-Nilai-Kejujuran/tajuk

Feb 2, 2011

Pembauran di Pulau Dewata

island of gods here I come...
 
* Selamat menjelang detik-detik menuju musim semi dan tahun baru 2562 *
 

PERANAKAN TIONGHOA

Mereka Melebur Sempurna di Bali

Kompas/Iwan Santosa

Barong berkulit gelap adalah Raja Jaya Pangus (kiri). Ia dan istri Tionghoanya, Kang Tjin We, dirawat di dalam Gria Ida Pedanda Gde Manuaba di Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali. Ida Ayu Putri (21), cucu Ida Pedanda Gde Manuaba, memasang sesaji dan dupa bagi pasangan Barong Landung yang melambangkan perkawinan raja Bali dan perempuan Tionghoa.

Iwan SantosA/Ayu Sulistyawati

Wayan Rangki (65) dan beberapa ibu sibuk menyiapkan beberapa ember untuk diisi air, beberapa ornamen, dan kembang, Sabtu (29/1), di tempat ibadah Tridharma Cao Eng Bio, Tanjung Benoa, Bali. Mereka bukan keturunan Tionghoa. Agama mereka pun Hindu Bali. Namun, mereka hanya satu niat, ngayah (mengabdi)!

Selain menyama braya (gotong royong), kebiasaan yang melekat adalah ngayah, seperti Ny Rangki. Ngayah tak membatasi ruang dan waktu, apalagi membedakan soal keyakinan. Ngayah itu pun mereka tujukan kepada Sang Hyang Widi, para dewa, dan leluhur.

Ny Rangki mengaku tak ragu membaktikan dirinya beserta suaminya di kelenteng tersebut. "Ini pengabdian kami terhadap Dewa Baruna," katanya lirih.

Ya, ada kemiripan nama dewa di kepercayaan China dan Hindu Bali, yakni Dewa Laut (Yatikong) dengan Dewa Baruna. Mungkin itu pula yang mempererat persaudaraan menyama braya di Tanjung Benoa, sekitar 30 kilometer dari Denpasar.

Kelenteng Cao Eng Bio ada sejak tahun 1546, konon didirikan para saudagar Tionghoa yang berdatangan di Pulau Dewata lewat Pelabuhan Benoa. Awalnya kelenteng berada di dalam area Pura Dalem Ning beberapa meter dari kelenteng yang ada saat ini. Tahun 1800- an, pihak Puri (kerajaan) Pemecutan, Denpasar, memberikan tanah untuk dibangun kelenteng yang sekarang ini berdiri.

Selanjutnya, mereka pun beranak-pinak. Pembauran itu di antaranya dengan menyerap kebudayaan Bali, seperti pemangku (biokong) kelenteng mengenakan baju adat Bali, termasuk ikat kepala (udeng).

Perkembangannya, persembahan yang biasanya berupa kembang dan buah pun dihiasi canangsari yang merupakan sarana upacara umat Hindu Bali, yaitu tempat bunga yang biasanya berbentuk kotak sama sisi berukuran sekitar 10 sentimeter dari janur kelapa serta ada rajangan daun pandan.

Ketua Pengurus Kelenteng Tanjung Benoa Suyanti, atau Yong Siu Yang (56), bangga bisa membaur dengan budaya lokal. Pembauran juga terjadi ketika masing-masing memiliki kegiatan upacara dan saling membantu. Bahkan, tak sedikit pula umat Hindu yang turut bersembahyang di kelenteng. "Saya lahir dan besar di Denpasar. Jadi, kelegaan bisa menyatu dengan warga setempat," katanya.

Pada hari-hari tertentu, umat kelenteng berkumpul dari sejumlah wilayah Bali, Nusantara, dan negara tetangga. Jumlahnya bisa lebih dari seribu orang. Tahun baru Imlek menjadi salah satu momen pemersatu dua kebudayaan berbeda di Tanjung Benoa. "Apalagi mata pencaharian sebagian adalah nelayan. Kami ini sama-sama ngayah Dewa Baruna," kata Suyanti.

Tradisi kebersamaan itu terus dipelihara berabad-abad. Mangku Chandra alias Lie Tian An yang mengurus Kelenteng Cong Po Kong atau Ida Ratu Gede Ngurah Subandar di Pura Ulundanu Batur mengatakan, seluruh ritual umat kelenteng harus permisi kepada dewa-dewi di Pura Ulundanu Batur.

Pura Batur perpaduan Tionghoa dan Bali yang berasal dari perkawinan Raja Jaya Pangus di abad ke-XII dengan Kang Tjin We, seorang dara Tionghoa.

Tidak hanya sembahyang, pelbagai aspek kehidupan masyarakat Tionghoa Peranakan di Bali sudah melebur menjadi bagian kebudayaan suku Bali. "Kita sering ngarak Barong Bangkung untuk menolak bala dan mendatangkan kebaikan dari pintu ke pintu," ujar penyanyi Ayu Laksmi yang asli Singaraja, di ujung utara Bali.

Barong versi Bali tersebut diarak berkeliling diiringi anakanak kecil. Rombongan barong pun mendapat uang pemberian dari pemilik rumah.

Tradisi ngelawang atau membawa barong melewati pintu rumah dan toko persis dengan kebiasaan masyarakat Tionghoa yang membawa barongsai untuk memberkati rumah dan toko saat perayaan tahun baru. Tradisi ngelawang Bali lazim dilakukan di antara perayaan Galungan dan Kuningan.

Barong dalam pelbagai bentuk menambah kekayaan khazanah budaya Bali. Guru Besar Institut Seni Indonesia Denpasar, Bali, I Wayan Dibia, menjelaskan, Barong Ket merupakan adaptasi barongsai. "Tetapi kalau Barong Ket dipaksakan melakukan akrobatik seperti barongsai itu sudah menyalahi pakem. Barong Ket di Bali sudah melebur dan ikut tampil dalam pentas, seperti Calon Arang," kata Wayan Dibia.

Demi mengenang perkawinan Raja Jaya Pangus dan Kang Tjin We, masyarakat Bali juga membuat sepasang Barong Landung.

Syarat nikah yang diminta Kang Tjin We, seperti uang kepeng Tiongkok, hingga kini digunakan masyarakat Bali dalam upacara keagamaan. Malahan, ujar petinggi Hindu Bali, Ida Bagus Putera Siwagatha, Pura Batukaru memiliki pertima (benda keramat utama) berupa uang kepeng. "Penggunaan dupa oleh masyarakat Bali juga diadopsi dari tradisi Tionghoa, juga sejumlah tarian dan pelbagai produk seni ukir Bali," ujar Siwagatha yang berasal dari Ubud, Kabupaten Gianyar, yang merupakan jantung budaya Bali.

Proses percampuran budaya terus berlangsung hingga awal abad ke-20 ketika pertunjukan Sampek-Engtay dipentaskan di Bali. "Pada tahun 1970-an, kami mementaskan Sampek-Engtay di Singapura dengan busana Bali dan pakem cerita Bali. Penonton Singapura menangis menyaksikan cerita itu," kata Dibia.

Meski melebur dan tidak berjarak, ada hal yang lebih penting lagi dari kebersamaan masyarakat Tionghoa Peranakan di Bali, yakni mendorong kemakmuran bagi seluruh warga Bali dengan semangat "Tat Twam Asi". Aku adalah kamu, kamu adalah aku.

Selamat tahun baru Imlek 2562....

Sumber: Kompas, 2 Feb 11


Jan 22, 2011

Sungsang terbalik

Masihkah ada secercah harapan itu sebagai bangsa?

Kriminal atau Pahlawan
Sabtu, 22 Januari 2011 | 04:45 WIB

Jakob Sumardjo

Indonesia gudangnya cerita absurd, paradoks, dan irasional. Kita sekarang tahu negeri ini semakin merosot justru karena pengelola negara semakin kaya dengan kekayaan yang juga absurd.

Bayangkan seorang guru besar yang telah pensiun sesudah mengabdikan diri mendidik para sarjana selama 40 tahun! Ia mendapatkan pesangon pensiun sebesar Rp 34 juta dan uang pensiun setiap bulan Rp 2,5 juta. Bandingkan dengan seorang pegawai pajak berusia 30 tahun yang berhasil meraup uang negara puluhan—mungkin ratusan—miliar rupiah dan dihukum tujuh tahun penjara. Belum lagi ribuan cerita absurd lain di negeri ini.

Benarlah cerita pendek Somerset Maughan tentang belalang yang rajin dan belalang yang malas menghadapi musim dingin. Tak usah rajin bekerja di republik ini sebab para pemalas yang akan menikmati kerja keras orang lain. Para pemalas itu bisa berstatus pejabat apa pun. Tak mengherankan bahwa banyak kandidat pejabat yang rela menjual sawah, ternak, bahkan rumah buat merintis jalan menduduki kursi jabatan.

Jabatan adalah kekuasaan. Dengan kekuasaan yang tak terkontrol siapa pun, meski tersedia lembaga kontrol, Anda akan jadi despot gurem yang cukup ampuh menilep hasil kerja keras belalang-belalang bodoh yang masih percaya kisah moral macam itu.

Kekuasaan tidak bermoral

Rakyat negeri ini dikenal dan mengaku diri religius serta menjunjung tinggi moral. Namun, apabila kekuasaan sudah tak bermoral, orang-orang baik menjadi orang-orang bodoh. Di tengah belalang bodoh semacam itu, si jahat bebas melakukan hukumnya sendiri yang berbalikan dengan moralitas.

Terjadilah hukum terbalik di Indonesia: yang kerja keras tetap miskin, yang tak bekerja justru kaya; yang jujur selalu salah, yang tak jujur selalu benar; kejujuran adalah kebohongan, kebohongan adalah kejujuran; yang profesional tak dipakai, yang amatir justru berkuasa.

Hukum terbalik inilah yang membuat negara dan bangsa bukan berjalan maju, melainkan berjalan mundur. Bukan tak ada menjadi ada, tetapi dari ada semakin tak ada. Indonesia pun menjadi tidak-Indonesia.

Hukum terbalik Indonesia ini hanya dapat dikembalikan dengan hukum kewarasan kembali, yakni yang ditindas menjadi penindas, yang miskin menjadi kaya dan yang kaya dimiskinkan, yang profesional mengganti yang amatir, yang kriminal adalah kriminal, dan yang pahlawan adalah pahlawan. Belalang rajin makan saat paceklik serta belalang malas dan bodoh akan kelaparan.

Sekarang ini absurditas masih realitas bahwa kriminal adalah pahlawan bangsa, sedangkan pahlawan sejati dijadikan kriminal. Negara ini sedang menjadi negara kaum kriminal, tetapi para kriminal bukan masuk penjara, justru menjadi para pahlawan bangsa. Apa beda antara pahlawan dan kriminal?

Logika sekarang menyatakan: tidak ada bedanya. Semakin Anda brutal dalam kriminal, dan dengan demikian kaya raya, Anda akan mendapatkan pemuja-pemuja. Mereka bagai anjing-anjing yang setia menanti remah-remah kriminalitas Anda.

Itulah sebabnya, para syahid korban kriminal ini menjelang kematian tidak mau dikuburkan di taman makam pahlawan. Taman makam pahlawan telah menjadi taman kriminal. Kalau mau menengok kuburan orang-orang syahid Indonesia, lebih baik pergilah ke kuburan-kuburan rakyat jelata, korban dari para pahlawan bangsa sekarang ini.

Semar gugat

Ada cerita dalam wayang Jawa tentang Semar gugat. Tokoh yang dipuja orang Jawa ini hanyalah abdi atau hamba para kesatria Pandawa. Wujudnya paradoks, lelaki tetapi ditampilkan berpayudara seperti perempuan dalam fisiknya yang kebulat-bulatan. Dia adalah wakil rakyat kecil. Namun, sebenarnya Semar yang juga bernama Ismaya atau Maya adalah saudara kembar Manik atau Batara Guru yang berkuasa atas dunia dan isinya.

Dalam cerita itu, Batara Guru sering memutuskan secara tidak adil nasib manusia. Kita lihat bahwa para dewa saja bisa tidak adil, apalagi dewa-dewa Indonesia sekarang. Melihat para majikan Semar diperlakukan tidak adil oleh Batara Guru, Semar marah besar. Pandangan matanya yang senantiasa berair dan kabur itu tiba-tiba mengalirkan air mata terus-menerus. Perutnya menjadi mual dan kembung oleh ketidakadilan sehingga kentut terus-menerus.

Bau kentut Semar bisa membuat mabuk para dewa, bahkan mematikannya. Semar, yang hamba dina ini, akan naik ke swargaloka untuk menghajar kembarannya, Batara Guru. Dengan mudah sang dewa penguasa itu dibekuk, minta ampun, dan akhirnya berjanji akan berbuat adil.

Para guru besar, pengusaha jujur, atau petani yang keras bekerja di terik matahari adalah Semar. Mereka cuma hamba-hamba pelayan masyarakat yang telah lama diperlakukan tak adil oleh para dewa kriminal.

Mata mereka tak rembes alias berair dan tak bisa kentut. Namun, mereka adalah kekuatan terpendam: bisa marah seperti Semar berkulit hitam legam. Si hitam ini akan mampu membekuk Batara Guru yang kuning.

Yang kuning dijadikan hitam dan yang hitam menjadi kuning. Hukum terbalik itu sudah kodrati, tak bisa dihindari seperti hukum kematian manusia. Begitu juga kriminal tak selamanya pahlawan.

Negeri ini tinggal tunggu waktu kapan jam 12 malam akan tiba, saat Semar dan anak-anaknya muncul di layar wayang. Itulah saat Semar menggugat kekuasaan yang sungsang terbalik ini.

Jakob Sumardjo Esais

Sumber: Kompas, 22 Jan 11


Dec 28, 2010

Katong Samua Basudara

...ini pake 'katong', bukan 'torang'...  :)
 
SOLIDARITAS
"Katong Samua (Masih) Basudara"
Kamis, 23 Desember 2010
KOMPAS/RENY SRI AYU
Patung Christina Tiahahu yang dipasang di ketinggian, di samping Gedung DPRD Provinsi Maluku danmenghadap Kota Ambon yang berada di tepi Teluk Ambon, adalah salah satu simbol kota ini, Rabu (22/12). Saat ini, Kota Ambon terus berbenah dan bangkit setelah dilanda konflik horizontal beberapa tahun lalu.

Reny Sri Ayu dan Ponco Anggoro

"Bagi kami, setiap hari adalah hari raya. Hubungan kami bukan hanya karena ada hari raya, tapi hubungan persaudaraan yang mendalam, tanpa keterpaksaan dan tidak dibatasi kepercayaan, agama, atau apa pun," kata John Sahalessy.

John berteman dengan semua orang di Desa Wayame, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon. Selasa (21/12) siang, silih berganti tetangga John datang membawa bingkisan. Sama persis seperti John yang selalu membawakan bingkisan kalau teman-temannya merayakan Idul Fitri. John juga selalu mengundang mereka untuk acara Natal bersama di Gereja Pniel, tempatnya bekerja sebagai pendeta.

Memang tak semua warga Wayame merayakan Natal. Namun, semua ikut menyambutnya.

Menjelang perayaan Natal bersama 24 Desember, warga bekerja bersama. "Biasa memang kita bantu-bantu kalau tetangga mau Natalan. Biasa kalau mau Natal unit, anak-anak muda ikut bantu pasang tenda, kursi, bersih-bersih, dan bikin kue," kata Rusnawaty (25).

Rumah ayah Rusnawaty, Ali Minangkabau, bersebelahan dengan rumah Margaretha Durenge (50), tepat di depan Masjid Daarun Na'im. Bertetangga sejak kecil, Rusnawaty sudah menganggap Margaretha sebagai ibunya sendiri. Sejak ibu Rusnawaty meninggal, Margarethalah yang menjaga Rusnawaty dan adik-adiknya. Akmil Durenge (20), putra bungsu Margaretha, dianggap Rusnawaty sebagai saudara kandungnya. Akmil juga akrab dengan pemuda-pemuda di desanya. Ia bahkan sering diajak berkeliling membangunkan warga untuk sahur.

Kebersamaan dan persaudaraan di Wayame tidak bisa dirasakan di seluruh wilayah di kota Ambon. Ambon memang telah damai dan aman. Namun, persaudaraan dan kebersamaan antara kerabat, saudara, teman, sahabat, tetangga, dan kenalan yang beragama Kristen dan Muslim hilang. Bahkan, kini terjadi segregasi permukiman warga Kristen dan Muslim. "Dulu sebelum konflik kami masih punya tetangga Muslim. Setelah konflik, mereka tak lagi tinggal di sini. Rumah mereka jual. Saudara kami yang bertetangga dengan Muslim juga pindah," kata Hisky Lolokari (60), warga Kelurahan Waihoka, Kecamatan Sirimau, yang juga Ketua Pengurus Keluarga Maray di Ambon.

Ivon van Roem (40) dan Dani (43), warga Desa Poka, Kecamatan Teluk Ambon, menceritakan hal yang sama. Kendati dalam keseharian mereka tetap saling menyapa, hubungan belum kembali setulus dulu. Ada rasa waswas dan khawatir apa yang dilakukan atau dikatakan akan menimbulkan salah paham.

Hisky, Lukas, Ivon, dan ribuan warga Ambon lainnya merindukan kebersamaan. Modal untuk kembali ke impian itu masih ada, yaitu lewat Pela Gandong, yang merupakan ikatan kekerabatan yang dibangun oleh para leluhur atas sumpah persaudaraan dan garis darah yang berbeda agama.

Willem Pariama, Wakil Sekretaris Sinode Gereja Protestan Maluku yang juga tokoh masyarakat Maluku, mengatakan, Pela Gandonglah yang menjadi akar yang bisa mempersatukan warga Maluku secara keseluruhan yang pernah tercerai-berai oleh konflik.

"Perbedaan agama dan kepercayaan hanya sebatas pagar halaman masjid atau gereja. Keluar dari pagar rumah ibadah, kami semua sama dan satu, warga negara Indonesia yang hidup di tanah yang sama dan berasal dari leluhur yang sama," kata John Sahalessy.

Pela Gandong bukan sekadar warisan masa lalu. Saat ini, masyarakat Maluku perlu mengaktualisasikan Pela Gandong dan menempatkannya dalam konteks yang lebih modern, ditambah dengan semangat nasionalisme. Kita pasti masih bisa berharap karena sesungguhnya katong samua basudara!

Sumber: Kompas, 23 Des 10

Oct 15, 2010

Kiai Sapujagat dan Batuknya Merapi

menawi mbaurekso sampun mengi...


Kamis, 14/10/2010 08:19 WIB
Merapi dan SBY Lengser  
Djoko Suud Sukahar - detikNews

Jakarta - Setahun Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi presiden periode kedua, muncul kelesak-kelesik akan digulingkan. Ini memang gagasan ngawur. Tapi senyampang ide tak masuk akal itu bergulir, maka tebakan bodoh-bodohan rasanya pas sebagai pelengkap. Inilah analisis ngelantur soal itu. Suksesi dikaitkan dengan gejolak Gunung Merapi.

Dalam Babad Tanah Jawi, juga Serat Kanda disebut, jika gunung Merapi mulai batuk-batuk dan disusul dengan meletusnya gunung-gunung yang lain, maka itu pertanda terjadi suksesi di tanah Jawa. Pakem berdasar mitos itu diyakini sampai kini.

Boleh percaya boleh tidak, tapi saban terjadi pergantian presiden di negeri ini ternyata selalu diawali dengan meletusnya gunung Merapi. Itu terjadi sejak lengsernya Bung Karno dengan tampilnya Pak Harto, Habibie, Gus Dur, Mbak Mega, sampai SBY. Pembaca yang mengikuti ulasan saya di kolom ini mungkin tahu soal itu. Malah sering karena prediksi itu, maka saya dianggap sebagai 'pendukung fanatik' SBY. Padahal kenal aja nggak.

Gunung Merapi juga amat disakralkan banyak orang. Popularitas Mbah Maridjan 'mengalahkan' pamor Sultan Hamengkubuwono X (HB X) juga gara-gara gunung ini. Ketika kawah Merapi menggelegak dan pengungsi mulai berhamburan, Raja Jawa itu meminta Mbah Maridjan, juru kunci gunung ini meninggalkan wewengkonnya (daerahnya). 

Mbah Maridjan kukuh tidak mau mengungsi. Dia tetap dalam rumahnya yang berada persis di gigir gunung. Lelehan lava tak membuat lelaki khusyuk ini kabur. Malah beberapa pendaki yang bersembunyi di bunker buatan pemerintah setempat yang ditentang Mbah Maridjan bernasib sial. Saat lava mengalir, mereka mati gosong di dalamnya.

Itu pangkal larisnya 'roso'. Itu muasal berdirinya masjid di depan rumahnya. Kendati maksud HB X menyuruh Mbah Maridjan turun gunung sangat manusiawi, tapi rakyat menangkapnya beda. Mereka berasumsi Mbah Maridjan lebih sidik paningale. Dia menyatu dengan Kiai Sapujagat, tokoh mistik yang dipercaya sebagai mbaurekso (penguasa) gunung ini. Dan dia tahu yang bakal terjadi.

Di Jangka Sabdo Palon Noyo Genggong Gunung Merapi kembali dijadikan sebagai pengingat. Kehancuran Pulau Jawa akan ditandai dengan letusan gunung ini, disusul gempa bumi dan laut yang menggelegak. "Pratanda tembayan mami, hardi merapi yen wus njebluk milir lahar."

Malah dalam serat ini terurai cukup rinci. Aliran lahar akan mengarah ke barat daya. Membakar tanaman dan membunuh manusia, hingga aroma anyir mayat bertebaran di mana-mana. Itu sebelum daerah lain di tanah Jawa lantak, ikut hancur lebur berkeping-keping. Terus bagaimana kabar gunung Merapi hari-hari ini?

Sudah sebulan ini Gunung Merapi batuk-batuk. Seperti yang diberitakan detik.com, statusnya dari hari ke hari terus meningkat hingga waspada. Bagi orang Jawa, ini tengarai, bahwa tatanan negeri ini mulai tidak bajek (kokoh) lagi. Situasi chaostis mungkin terjadi. Kamtibmas terganggu. Dan bisa lebih dari itu. Adakah juga sinyal akan terjadinya suksesi?

Rasanya kok belum sampai ke sana. Berdasar ilmu titen, kegoncangan itu meminta tumbal pergantian pucuk pimpinan kalau sudah meletus dan diikuti letusan gunung- gunung lain yang dalam 'peta mistik' tidak disakralkan. Kali ini Merapi baru 'berdehem'. Gunung ini baru riuh di dalam perutnya, belum sampai muntah. 

Kalaulah ada gunung lain yang bergejolak, justru itu adalah Gunung Semeru. Gunung ini dalam keyakinan Jawa dianggap sebagai 'gunung tua', identifikasi dari Mahameru. Gunung manjingnya (tinggal)  Semar, sosok lelaki tua, sakti, sederhana, dan arif dalam pewayangan Jawa. Adakah dengan begitu SBY masih menjadi presiden sampai tahun 2014 nanti?

Dari tanda-tanda itu, naga-naganya memang begitu.

*) Djoko Suud Sukahar adalah pemerhati budaya, tinggal di Jakarta

(vit/vit)

Sep 21, 2010

Perjuangan mereka yang ingin beribadah

kata orang, lebih mudah mendirikan panti pijat daripada gereja di negara ini...


Selasa, 21/09/2010 19:02 WIB
Kisah Mereka yang Berjuang Membangun Rumah Ibadah
Andri Haryanto - detikNews

Jakarta - Empat perwakilan gereja mengisahkan perjuangan mereka dalam mendirikan rumah ibadah. Penolakan selalu muncul di tengah jalan walaupun putusan hukum berkekuatan tetap sudah dikantongi. Akibatnya, diantara mereka nekat beribadah di trotoar jalan.

Seperti dituturkan perwakilan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Taman Yasmin Bogor, Alexander Paulus. Aktivitas jemaat gereja yang telah berlangsung sejak 2001 akhirnya dikeluarkan Izin Mendirikan Bangunan, Juli 2006 dan resmi berdiri sejak Oktober 2008 dan dibuka oleh Walikota Bogor.

"Walikota memuji pendirian gereja yang sesuai prosedur dan bisa menjadi contoh untuk gereja lainnya," kata Alexander saat jumpa pers di Kantor Setara Institute, Jalan Danau Galinging, Bendungan Hilir, Jakart pusat, Selasa (21/9/2010).

Tidak lama dari itu, kelompok kecil yang tidak diketahui dari mana asal-usulnya menolak gereja yang telah berdiri. Walikota, Alexander melanjutkan, mengirim surat kepada gereja untuk memindahkan lokasi tempat ibadah.

"Padahal, masyarakat tidak keberatan dengan berdirinya rumah ibadah di Taman Yasmin," 

Gereja menempuh jalur hukum di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN Bandung) di tahun 2008 dan memberikan kemenangan pada GKI. Banding yang dilakukan Pemda Bogor di tingkat Pengadilan Tinggi menguatkan putusan PTUN Bandung di 2010.

April 2010, jemaat GKI Taman Yasmin berniat melakukan peribadatan. Namun, Satpol PP mengembok pintu gereja. 

Niat jemaat beribadah di gereja akhirnya terlaksana pada 27 Agustus kemarin. Tapi, kesempatan itu hanya berlangsung 24 jam. Satpol PP kembali mengembok gereja.  "Karena sudah berkekuatan hukum tetap, kami membuka gembok pada tanggal 19 September kemarin. Sampai saat ini kami beribadah di trotoar," ujar Paulus.

Sementara itu, perwakilan GKI Taman Yasmin lainnya, Bona Sigalingging memprotes tindakan kepolisian yang menjaga aktivitas ibadah secara berlebihan. "Jika memang itu perlindungan biarkan kami masuk dan polisi berjaga di luar, dan membariskan water canon di hadapan anak-anak," kata Bona.

Nasib serupa juga menimpa Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Jati Gandul Cinere, Depok. IMB yang telah dikeluarkan Bupati Bogor sejak tahun 1998, dicabut Walikota Depok karena penolakan warga sekitar.

Jalur hukum untuk memperkarakan Surat Keputusan Nomor: 645.8/144/Kpts/Sos/Huk/2009 sampai ditingkat Banding Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara membuahkan hasil. Mahkamah Agung menguatkan putusan gugatan yang dilayangkan HKBP Cinere pada Juni 2010.

"Gereja masih dalam penyelesaian pembangunan tapi dengan pengawasan kepolisian," keluh Kuasa Hukum HKBP Cinere, Risely Agustina.

Bukan hanya GKI Taman Yasmin dan HKBP Cinere. Penolakan juga dialami Gereja Katolik Santa Maria di Purwakarta dan HKBP Filadelpia Tambun, Bekasi. Keduanya masih menunggu putusan kasasi Mahkamah Agung atas banding yang dilayangkan Pemda setempat (tergugat). (ahy/ndr)


Baca juga: 

... sejak tahun 1997 hingga 2004 tercatat pembangunan masjid hanya mengalami kenaikan 64,22%. Jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan wihara yang mencapai 368%.

"Pembangunan yang paling rendah itu masjid, dari 392.044 menjadi 643.834, kenaikannya hanya 64,22%," kata Suryadharma.

Sementara gereja kristen dari 18.977 menjadi 43.909, dengan kenaikan 131,38%. Untuk gereja katolik tercatat 152,80% kenaikan dalam kurun waktu yang sama.

Sep 19, 2010

19,5T vs. 4,5T

the latest instalment of ludicrous news you won't want to know...



EMPAT KALI LIPAT BIAYA JAMKESMAS
Ongkos Studi Banding Rp 19,5 Triliun
Minggu, 19 September 2010 | 12:58 WIB
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com — Mencengangkan sekaligus menyedihkan. Pejabat negara, mulai dari Presiden, 13 kementerian atau lembaga, sampai DPR, menghabiskan Rp 19,5 triliun untuk studi banding ke luar negeri. Total ini empat kali lebih banyak daripada anggaran Jamkesmas yang hanya Rp 4,5 triliun.

Data di atas dirilis Sekretaris Nasional Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra). "Pada APBN 2010 total belanja perjalanan dinas, termasuk luar negeri, menghabiskan anggaran Rp 19,5 triliun," ujar Sekjen Fitra Yuna Farjan kepada wartawan di Bakoel Coffee, Minggu (19/8/2010).

Yuna menjelaskan, apa yang diperbuat pemerintah dan DPR jelas tak memiliki sensitivitas terhadap rakyat yang masih dikepung kemiskinan. Menengok sementara program BOS dan penanggulangan kemiskinan, seperti PNPM, Rp 7,4 trilun berasal dari utang.

"Melihat kondisi ini, pemerintah dan DPR telah mengingkari amanat konstitusi Pasal 23 Ayat 1 yang menyatakan, APBN ditujukan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat," papar Yuna.

Ia mengatakan, jika DPR masih suka pelesiran, bagaimana mungkin dapat mengkritisi anggaran luar negeri pemerintah. Itu sebabnya hobi anjang sana-sini ke luar negeri adalah kebiasaan buruk yang harus dihentikan. "Presiden juga tidak sekadar beretorika melakukan penghematan," timpalnya lagi.

Sumber: http://nasional.kompas.com/read/2010/09/19/12582575/Ongkos.Studi.Banding.Rp.195.Triliun

Aug 26, 2010

Tan Ana Baskara Kembar

"Tatkala matahari masih berpendar, rembulan harus menerima nasib tenggelam atau, meski kelihatan, berona pucat."

Another true story that reinforces the notion 'substance over form'. 
Substansi mengungguli "casing" - interesting.
Matahari over rembulan.
(EJ)


TOKOH PARTAI
Soetrisno yang "Terluka"
Kompas, Kamis, 26 Agustus 2010 | 03:20 WIB

Mundurnya Soetrisno Bachir dari Partai Amanat Nasional bukan suatu kejutan. Sudah lama khalayak tahu dia patah arang dengan partai politik yang ikut serta dibesarkannya itu.

Sesungguhnya, yang inspiratif adalah pernyataan Soetrisno Bachir, yang biasa disapa SB, yakni, "Keberhasilan seorang pemimpin justru dilihat dari kemampuannya melahirkan pemimpin baru dan bukan pengekor. Kalau seorang pemimpin hanya melahirkan pengikut, pengekor, atau pembebek, bangsa ini tidak akan pernah maju."

Sepertinya, kemunduran dirinya dari PAN melalui pemikiran dan pertimbangan yang mendalam. Proses pemikirannya telah melewati babak pengendapan emosi, didera kemasygulan, dan mungkin juga kekecewaan dan sakit hati.

"Dia memilih waktu puasa untuk menyampaikan unek-uneknya sehingga lebih tenang. Sekalipun dia orang yang sangat sakit hati, dengan kontrol inni soimun (saya sedang berpuasa), dia bisa menyampaikan dengan jernih dan bernas," kata M Sulthon Amin, mantan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah PAN Jawa Timur.

Sulthon tahu betapa SB kecewa dan sakit hati. Dia dipinang oleh pendiri PAN, Amien Rais, untuk memimpin partai itu. Dia sama sekali tidak dikenal sebelumnya di PAN. Berkat dukungan Amien, yang akhirnya diamini peserta Kongres PAN di Semarang, ia pun terpilih memimpin partai "matahari biru".

SB pun membuktikan dirinya. Dia total mengurus PAN. Kantong pribadinya dikuras. Dalam waktu singkat melalui politik pencitraan, ia pun menjadi tokoh nasional.

SB mungkin lupa, PAN, walaupun disebut partai modern, partai reformasi, berakar kultur politik "mataraman". PAN itu secara substantif "kerajaan", seperti Kerajaan Mataram. Amien Rais "rajanya". Raja adalah pusat denyut kehidupan kerajaan.

"Partai modern itu hanya casing-nya, tetapi isinya tetap politik tradisional. Akar kulturnya tetap politik Jawa mataraman. Hal ini tidak cuma PAN, tetapi juga partai lain," kata Latief Wiyata, sosiolog dari Universitas Negeri Jember.

Dalam kultur politik mataraman berlaku kredo, tan ana baskara kembar (tidak ada matahari kembar). Matahari ya cuma Amien Rais. Ketua Umum PAN menjadi rembulan saja. Tatkala matahari masih berpendar, rembulan harus menerima nasib tenggelam atau, meski kelihatan, berona pucat.

Gesekan matahari dan rembulan akhirnya tak bisa dihindari tatkala SB mencoba mempromosikan diri untuk maju ke pemilu presiden, entah sebagai calon presiden atau wakil presiden. Langkah SB ini dianggap bughot (makar) karena semestinya PAN masih mengusung Amien sebagai calon.

Rembulan memang ditakdirkan kalah tatkala bergesekan dengan matahari. SB tergencet. Jangankan masuk nominasi calon, kursi menteri pun tidak dia rengkuh. Padahal, hampir semua ketua umum partai koalisi pendukung Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono menjadi menteri. Di PAN, SB seperti batu yang terbuang.

SB tampaknya benar-benar ingin putus total dengan PAN. Ia pergi tanpa masih dicurigai akan balas dendam untuk merusak PAN dari dalam. Dia tak ingin namanya jadi kerikil sandungan bagi (bekas) pengikut setianya di PAN. (ANWAR HUDIJONO)


Aug 25, 2010

Suara & langkah tegas pemimpin

dan food for thought tadi belum lengkap tanpa yg terakhir ini  :-)


Gita Citra (Cita) dari Istana
Kompas, Rabu, 25 Agustus 2010 | 03:34 WIB
EFFENDI GAZALI

Semua pemimpin dunia yang terpilih secara langsung pasti melalui pencitraan. Waktu memerintah, mereka pasti pula memainkan pencitraan. Ketika "mencurahkan hati" pun (seperti saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, banyak pihak menyerang, mendiskreditkan, dan menyalahkannya, Kompas, 23/8), bisa- bisa dianggap bagian dari pencitraan.

Dalam posisi seperti itu, tidak semua pemimpin memiliki daya pegas sama. Itu tentu juga hak asasi masing-masingnya. Bisa juga merupakan bawaan genotipe atau fenotipe (pengalaman, kebiasaan, pengaruh lingkungan). Mereka yang banyak menekuni bidang seni, seperti mencipta puisi atau lagu, barangkali lebih perasa dibandingkan pemilik kegemaran lain.

Gita citra istana di satu sisi memang akan abadi berhadapan dengan kritik di sisi lainnya. Saat praktiknya bertumbuh pesat, ilmu pencitraan juga berkembang cepat. Umumnya ia jatuh ke wilayah political marketing. Secara paralel, ilmu mengkritik juga melaju. Biasanya jatuh pada kekhususan komunikasi politik. Ambil contoh studi-studi soal hibrid jurnalistik dan parodi (Feldman & Young, 2008). Di sini bukan citra, melainkan elemen cita (dibaca: structure of action, Ryfe, 2009) yang menjadi obyek utama.

Cita untuk rakyat

Mengenai Pak Beye, tentu pengamat harus pula memuji hal yang positif darinya. Kami, misalnya, sangat memuji reaksi cepat Presiden, tanpa gembar-gembor, saat mengubah pola pengawalan kendaraannya menanggapi sebuah surat pembaca. Tetapi, di sisi lain, apa yang disampaikan pengamat harus pula disimak secara lengkap. Jangan langsung digeneralisasi bahwa pengamat tahunya cuma kritik melulu. Sama seperti Presiden yang tetap bekerja sambil merajut citra, sebagian besar pengamat tetap mengajar dan bekerja bersama rakyat akar rumput.

Dalam hal tertentu, kritik memang perlu disertai usulan. Sama juga, pidato citra perlu dilengkapi dengan cita dalam bahasa rakyat. Kira-kira untuk bagian citra, bolehlah 70 persen. Sisanya mesti untuk cita bangsa.

Misalnya, rakyat barangkali merindukan Pak Beye menambah uraian kedaulatan RI yang merdeka dengan menyapa tiga petugas patroli Kementerian Kelautan dan Perikanan kita sambil menegaskan aksi. Kita bayangkan Presiden berkata, "Saya menyampaikan salam kepada Erwan, Asriadi, Sevo (saat masih ditahan di Malaysia). Kita akan terus bersama mereka dan selanjutnya akan memastikan bahwa insiden seperti ini tidak terulang lagi. Kita akan bertindak tegas sambil memperkuat armada perbatasan kita. Kita juga akan memberikan beasiswa untuk 200 anak bangsa terpilih agar kita segera memiliki ahli-ahli hukum laut dan perbatasan. Mereka kita tugaskan belajar di negeri-negeri yang memiliki akses untuk penyelesaian persoalan ini di tingkat internasional!"

Tentang ledakan gas, mungkin rakyat rindu pernyataan Pak Beye seperti ini, "Dari rancangan belanja yang saya uraikan tadi, kita akan mengeluarkan jumlah yang signifikan untuk memperbaiki kekurangan kita dalam evaluasi program konversi minyak tanah ke gas, yang mestinya harus kita lakukan satu tahun setelah kesepakatan nasional tersebut kita jalankan. Kami minta maaf atas kekurangan ini. Seluruh peralatan gas akan kita cek bersama. Kita akan mengadakan tempat pelayanan untuk konsultasi dan penukaran secara cuma-cuma semua peralatan yang diragukan atau tidak memenuhi standar nasional. Pemerintah juga akan mengganti seluruh biaya perawatan korban dari sejumlah musibah yang terjadi."

Inspirasi

Cita biasanya juga berarti menginspirasi. Rasanya akan banyak rakyat dan jajaran kepolisian terinspirasi untuk bersikap jelas serta bertindak tegas seandainya Pak Beye juga pernah menyatakan, "Apa yang menimpa umat beragama di Kuningan, Bekasi, dan lainnya harus menjadi yang terakhir. Bangsa kita jelas memegang prinsip Bhinneka Tunggal Ika. Tidak ada seorang pun yang boleh menyerang inisiatif dan kegiatan anak bangsa lain sebagai umat beragama. Saya menuntut pertanggungjawaban aparat hukum secara serius di mana pun kasus ini terjadi."

Analisis Presiden tentang biaya politik amat tinggi juga menarik untuk dikembangkan jadi bahan inspirasi. Mungkin rakyat bisa membayangkan Pak Beye berkata, "Saya usulkan agar dari dana KPU sekitar lima belas triliun per tahun, dua triliun dialokasikan untuk TVRI dan RRI. Ini merupakan alokasi untuk sosialisasi pemilu dan iklan politik cuma-cuma bagi semua peserta, dalam jumlah serta jam tayang yang sama. Hal ini akan memangkas sebagian biaya politik tinggi. Persaingan harusnya pada kualitas iklan politik. Bersamaan dengan itu, kita akan memiliki penyiaran publik yang kuat mengimbangi gaya stasiun komersial. Iklan dan debat pilkada pun lebih tepat di TVRI-RRI daerah masing-masing."

Pastilah Presiden dan para penasihat ahlinya punya lebih banyak cita dan inspirasi yang menyentuh rakyat. Untuk hal seperti ini, tentu Presiden tak perlu menahan diri berbicara. Pengkritik pun harus terus meneriakkan gita citanya. Apalagi sebagian pengamat sudah setia melakukan kritik sejak zaman Pak Harto. Seperti kata pepatah, terkadang "anjing menggonggong, kafilah berlalu". Pernah pula terjadi "anjing menggonggong, kafilah terjatuh". Yang penting, mereka tidak mengkritik untuk negosiasi agar diangkat jadi menteri atau staf ahli!

Effendi Gazali Koordinator Program Master Komunikasi Politik UI


Crème de la crème bukan berarti ultra vires!

...dan inilah tangkisan atas tulisan tadi yang "harum-scarum".


Konsistensi Presiden
Kompas, Rabu, 25 Agustus 2010 | 03:27 WIB
Julian Aldrin Pasha

Mendalami tulisan profesor riset Mochtar Pabottingi atas pernyataan Presiden pada peringatan Hari Konstitusi di Gedung MPR/DPR di Kompas, 23 Agustus 2010, perlu dibuat tanggapan klarifikatif.

Setelah pernyataan Ruhut Sitompul dilontarkan, banyak pertanyaan datang kepada saya. Intinya, bagaimana sikap Presiden? Terus terang, perasaan saya sama dengan perasaan Prof Pabottingi: seperti mendengar pernyataan yang jatuh dari langit di siang bolong tanpa ujung pangkal. Atas nama akal sehat, pernyataan itu harus diluruskan. Mengapa ditanggapi serius?

Jawabannya: karena concern media massa. Menjadi penting karena hampir semua media, baik elektronik, dunia maya, microbloggers (Facebook dan Twitter), maupun media cetak, tampak begitu bersemangat menaikkan dan mengedepankan "nyanyian" sumbang itu. Substansinya spekulatif. Seputar bahwa apakah suara itu sesungguhnya berasal dari Istana? Atau, mungkinkah ia hanya orang suruhan? Atau, sebaliknya, sebagai menu pembuka hidangan politik, hitung-hitung testing the water? Atau, mungkin ini justru perintah "certiorari" dari dalam parlemen sendiri?

Rangkaian probabilitas di atas kemudian mendorong saya menyampaikan kepada Presiden bahwa perlu dibuat pernyataan pada saat sambutan peringatan Hari Konstitusi. Pertimbangannya, momentumnya tepat karena wacana itu bersinggungan dengan konstitusi. Seandainya tanpa ada pernyataan Presiden, hampir pasti isu tersebut kemudian menggelinding memenuhi ruang publik, menggeser isu atau substansi penting lainnya, seraya memberi ruang yang lebih dari cukup bagi para komentator, pengamat, atau pakar komunikasi politik untuk mengemukakan hipotesis dan analisisnya yang belum tentu sepenuhnya benar, kalau tidak pantas dikatakan ngawur.

Diskursus semu

Wacana seputar citra Presiden tidak perlu didramatisasi. Wacana dan diskursus terhadap hal itu sungguh tidak relevan dalam konteks Presiden SBY. Bahwa ada garis batas dan perbedaan jelas antara politik pencitraan serta keseriusan bersikap dan konsistensi tindakan. Politik pencitraan adalah bentuk lain dari "pepesan kosong". Tidak ada permanenitas dan konsistensi di dalamnya. Ibarat salon mobil atau salon kecantikan, cukup dipoles sehingga baret atau luka dapat tertutupi. Beberapa konsultan politik telah demikian mahir sehingga mampu dalam sekejap "memoles" sesuai dengan citra yang ingin diciptakan. Namun pasti, make up semacam itu tidak tahan lama, cepat luntur, karena tidak bersumber dari hati dan dilakukan secara konsisten. Keseharian seorang SBY adalah bersikap dan bertindak secara konsisten, disiplin, berdasarkan kebiasaan serta keyakinannya.

Berangkat dari realitas, tudingan bahwa Presiden menghabiskan waktu untuk membangun citra ilusif dan bersikap evasif menunda konfrontasi dengan masalah serta sama sekali tidak fully in charge, sebagaimana disebut sang Suhu, mahaguru, membuat saya bertanya, apakah postulat ini berdasarkan kajian riset dan terhindar dari harum-scarum serta bebas-nilai? Atau, hanya keyakinan berdasar informasi dunia maya dengan sejuta ilusi di dalamnya? Undreamed-of, memang sulit memahami secara utuh cara berpikir, bersikap, dan bertindak seorang presiden bila dibayangkan atau dilihat hanya dari kejauhan.

Sedikit orang yang tahu bahwa hampir seluruh waktunya didedikasikan bagi kepentingan, kemajuan, dan keselamatan bangsa dan negara. Bagaimana seorang SBY harus menghadapi kompleksitas luar biasa dalam memimpin negara Indonesia. Dibutuhkan wawasan pemahaman komprehensif yang cerdas, bijak, dan terukur. Permasalahan senantiasa muncul. Sejauh ini, sebagian telah dikelola dengan baik, sisanya masih merupakan tantangan untuk diselesaikan sebagai bagian dari tugas dan tanggung jawab pemerintahan SBY hingga Oktober 2014.

Sejarah mencatat bahwa bangsa yang maju ditopang oleh kerja keras dari orang- orang terbaik. Ibarat logam mulia atau crème de la crème, mereka memiliki semangat segar-sehat-harmoni, dengan pikiran maju untuk membangun negaranya. Mereka maju karena pemerintahan berjalan optimal tanpa diganggu oleh intrik dungu, narrow-minded, kesinisan, atau hujatan yang "dimainkan" oleh sekelompok orang yang punya vested-interests.

Negara ini memiliki segalanya, termasuk resources yang diperlukan menjadi negara maju. Menjadi tanggung jawab kita bersama sebagai warga negara dalam menjaga dan membangun negara, sebagaimana diamanatkan founding fathers bangsa lebih dari enam puluh lima tahun lalu.

Presiden sebagai lembaga

Sering kali disalah mengerti bahwa presiden sesungguhnya lembaga, bukan pribadi. Bahwa presiden sebagai kepala pemerintahan tidak serta-merta dikultuskan sebagai individu sebagaimana seorang pemimpin ultra-Vires. Pandangan semacam ini mungkin bisa dipahami di masa lalu. Ketika ekspektasi terlalu besar dialamatkan kepada lembaga kepresidenan, jangan dilupakan bahwa ada pranata politik atau institusi lain yang juga—harus—bekerja. Lebih dekat, spesifik, dan teknis. Lembaga kepresidenan bukan segalanya. Di pusat juga ada kementerian dan lembaga, sementara daerah pun memiliki lembaga sesuai tugas dan fungsi dalam menjalankan pemerintahan.

Akhirnya, secercah harapan kepada para peneliti sosial untuk melakukan kajian demi menjawab keraguan dan kecemasan dalam menyongsong tantangan lima tahun ke depan, pasca-2014. Perlu dibuat proyeksi bangsa kita ke depan. Harus diakui, setidaknya dalam lima tahun terakhir bangsa ini telah melangkah maju. Tidak perlu terlalu pelit memberi apresiasi karena masyarakat dunia mengakuinya. Tentu banyak hal yang masih harus dikejar, diperbaiki, dan disempurnakan. Sebaliknya, sebagai antisipasi hal-hal yang dapat menjerumuskan kita menjadi failed state, sebagaimana dikhawatirkan, akan sangat diapresiasi bila muncul kajian empiris yang mengungkapkan filling the gap, what went wrong with our lovely country? Dan para komentator politik tidak cukup punya waktu melakukannya.

Julian Aldrin Pasha Juru Bicara Presiden RI