Aug 2, 2009

Wisata Kuliner Betawi

Hansim
Kalo pulang Indo, mendingan kita wisata kuliner yuk... nih, as I said, kalo wisata kulinernya ala warteg or Betawi kayak gini dijamin 99.99% aman deh... :)
Ton,
I bet you wouldn't mind either on this sort of tour...?? 

--
jabaterat,
EJ

Betawi "Punye Cerite"

Sabtu, 1 Agustus 2009 | 04:08 WIB

Neli Triana

Kekhasan Betawi tidak cuma ondel-ondel atau kisah Si Pitung. Bicara soal makanan, Betawi pun tidak hanya punya kerak telor. Akhir pekan ini, ayo cicipi makanan khas Ibu Kota. Banyak pilihan tersedia, mulai dari gado-gado, asinan betawi, laksa, soto betawi, sayur asem, hingga gabus pucung yang rasanya dahsyat itu.

Kali ini, wisata kuliner diawali di sebuah Warung Ketupat Laksa Betawi Ny Atikah di Jalan Kebon Kacang V, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Warung yang ada sejak tiga generasi lalu dan sudah tiga kali pindah tempat ini awalnya dibuka oleh Rakimin, kakek Atikah. "Dulu kakek saya masih berjualan di Pasar Tanah Abang, pasar tempo doeloe," kata Atikah (56).

3437413p.jpgApa bedanya dengan laksa bogor? Atikah langsung menjawab, laksa betawi tidak memakai ayam suwir, oncom, dan taoge. Isi ketupat laksa betawi adalah irisan ketupat, bihun, kemangi, kucai, telur, perkedel, dan bawang goreng, serta kuahnya yang kental dengan taburan udang kering.

Setiap hari Atikah menyediakan ketupat laksa, sate lembut, sate manis, dan sate kambing. Sate lembut dan sate manis bahannya daging sapi segar. Warungnya buka pukul 10.00-17.00. Hari Minggu dan hari besar, ia memilih tutup. Soal harga, harga masakan di warung ini termasuk wajar. Per porsi Rp 12.000-Rp 20.000.

Puas mencicipi laksa, lanjutkan wisata icip-icip di salah satu warung asinan betawi yang cukup terkenal, Asinan Betawi H Mansyur atau lebih dikenal dengan Asinan Kamboja yang berdiri sejak 1965 di Jalan Taman Kamboja, Rawamangun, Jakarta Timur.

Yang disajikan di warung ini hanya dua macam, yaitu asinan sayur dan buah. Akan tetapi, asinan sayur seharga Rp 8.000 per porsi mungkin menjadi kelebihan warung ini.

Taoge, irisan kol, mentimun, dan irisan daun selada yang benar-benar masih segar ditumpuk dalam satu piring saji dengan irisan tahu mentah. Sayuran ini kemudian nyaris tertutup oleh tebaran kerupuk mi dan kerupuk merah muda yang diremas hingga remuk. Kemudian disiram dengan kuah kacang dan butiran kacang tanah goreng. Gula merah cair dituangkan sebagai sentuhan terakhir yang memberi tambahan rasa manis. Segar, pedas, manis, garing, dan gurih langsung terasa di mulut.

Penyedap rasa alami

Di tengah hari, saat rasa lapar begitu melilit, sebagian orang tetap mencari nasi dengan lauk pauk dan sayur nan mengenyangkan. Coba saja arahkan kendaraan Anda menuju Warung Sayur Asem Matali di Jalan Raya Joglo, RT 02 RW 06 Joglo, Kembangan, Jakarta Barat.

Tepat di samping kiri warung ini ada jalan kecil yang diberi nama Jalan Sayur Asem. Nama gang ini diberikan tidak lain karena kemasyhuran warung sederhana milik Haji Matali yang berdiri sejak tahun 1970-an.

Di etalase lauk pauk terhidang bermacam gorengan, seperti bakwan udang, ikan bandeng, ikan bawal merah, ikan mas, ikan mujair, ikan asin, tahu, tempe, dan lalapan. Pete yang masih terbungkus kulitnya sengaja direbus dan digantung di atas etalase kaca. Penjual otak-otak tepat di depan warung segera menyuguhkan sepiring dagangannya kepada pelanggan yang datang.

Sayur asem dengan kuah bening kehijauan. Di dalamnya ada irisan kacang panjang, terung bulat hijau yang diiris jadi dua, melinjo dan daunnya, nangka muda, serta oncom. Tambahan bumbu lain adalah jengkol tua yang turut direbus.

Yang membuat penikmatnya langsung melek dan berkeringat adalah rasa asam dari buah asam mentah dan kuah pedas. Kuah pedas itu berasal cabai rawit hijau yang turut direbus hingga matang di dalam kuah. Belum lagi sambal cabai rawit merahnya, mantap. "Kami hanya pakai cabai, garam, dan bawang sebagai bumbu masaknya. Tidak pakai penyedap rasa buatan," kata salah satu pelayan.

Harga sepiring sayur asem Rp 4.000 sama dengan harga seporsi nasi. Lauk gorengan rata-rata Rp 6.500 per potong. Es teh manis cuma Rp 1.000 per gelas. Jam buka pukul 08.00-16.00, tetapi seringnya masakan ludes pada pukul 14.00.

Kalau menu sayur asem sudah terlalu jamak, coba saja menu khas Betawi yang kini tergolong langka, gabus pucung dan pecak gabus di Warung Haji di Jalan Kahfi II Nomor 21, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Warung ini buka sejak pukul 09.30.

Kuah pucung mirip rawon karena berbahan baku sama, yaitu keluwak (pucung). Sementara pecak seperti opor, bersantan kuning kental. Rasanya dijamin sedap. Apalagi, ketika kuah itu disiramkan ke ikan gabus atau gurami goreng berbumbu. Jadi, siap berwisata kuliner khas Betawi akhir pekan ini? (M CLARA WRESTI/ SOELASTRI SOEKIRNO)


Jul 27, 2009

Sydney for NBN HQ

Sydney pitched for national broadband network headquarters

By Brett Winterford
Jul 23, 2009 5:14 PM
 
Australian Technology Park, Barangaroo and North Ryde on HQ shortlist.

NSW Premier Nathan Rees has officially launched a bid for Sydney to be the headquarters of the $43 billion National Broadband Network (NBN).

Rees has appointed the executive director of Sydney's Chamber of Commerce Patricia Forsythe and NSW Chief Scientist Professor Mary O'Kane to lead Sydney's bid.

According to a glossy three-minute video released today to launch the bid, the team has already identified Redfern's Australia Technology Park, Barangaroo on the harbour foreshore, and North Ryde's Global Business Centre on a shortlist of locations the team will put forward as potential headquarters for NBNCo.

The video highlighted Sydney's facilities and international connections, describing the harbour city as being suited to a "fast and easy" NBN roll-out.

Among the claims made in the presentation:

  • Sydney has double the data centre capacity of the next largest Australian city.
  • Sydney has 43 percent of national expenditure on telecommunications research and development.
  • Sydney is home to 83 percent of Australia's commercial banks
  • Sydney boasts the best international telecommunications connectivity - with seven of Australia's nine fibre optic cables linking us to the US, Europe and Australia. (Australia-Japan, Southern Cross 1 and 2, Endeavour, APNG-2, Gondwana-1, Tasman 2).  Western Australia hosts the connections for the other two international cables.
  • NSW employs 47 percent of the nation's network engineers

The presentation did not qualify any of these claims with sources. Nor did it discuss how much of the data centre capacity is available.

The video can be seen in full here.

Sumber: http://www.itnews.com.au/News/150924,sydney-pitched-for-national-broadband-network-headquarters.aspx

 

Orkestra Indonesia di Negeri Kanguru

DIPLOMASI
Musik Simfoni Indonesia dan Pesan Perdamaian

Minggu, 26 Juli 2009 | 03:10 WIB

EFIX MULYADI

Ledakan bom di Jakarta pertengahan Juli yang mencoreng (lagi) wajah Indonesia justru menambah semangat bagi pemusik Addie MS untuk tampil secara optimal. Itulah yang ia buktikan bersama grup musik yang ia pimpin, Twilite Orchestra, di dalam pementasan di Sydney, Australia, 21 Juli 2009.

Pementasan mereka mendapat sambutan hangat penonton yang memadati ruang pertunjukan berkapasitas 2.500 tempat duduk.

 "Kami tertantang untuk membuktikan bahwa Indonesia bukan hanya bom, tetapi juga kehangatan, perdamaian, seni musik, dan persahabatan," tutur Addie seusai latihan di gedung pertunjukan bergengsi Sydney Opera House.

Semangat persahabatan itu ia pompakan kepada 55 pemusiknya serta 80 anggota paduan suara gabungan Twilite Chorus dan CIC, paduan suara umat Katolik Indonesia yang bermukim di Sydney. Tampil pula penyanyi Binu D Sukaman dan Utha Likumahuwa serta dari tuan rumah Stephen Smith dan Jessica Mauboy.

Addie memang melihatnya bukan sekadar sebagai persoalan bermain musik, tetapi lebih sebagai langkah budaya yang penting di dalam konteks pasang surut hubungan di antara kedua negara. Ia percaya karya seni bisa menjadi sarana untuk menumbuhkan saling pengertian dan kuat potensinya untuk menjembatani perbedaan kultural.

Di dalam temu pers di Jakarta tentang lawatan orkes musik Indonesia ke Australia tersebut, ia mengungkapkan peran sangat penting yang dijalankan oleh para seniman di dalam hubungan internasional. Ia mencuplik contoh di dalam masa perang dingin antara (waktu itu) Blok Barat dan Blok Timur. Katanya, hubungan yang kaku dan penuh prasangka itu menjadi lebih cair ketika Boston Symphonic Orchestra tampil di Moskwa pada tahun 1956. Begitu juga yang terjadi ketika Philadelphia Orchestra manggung di Beijing pada tahun 1973. Kedua kelompok musik itu mewakili masyarakat "bebas" yang dipimpin Amerika Serikat, yang tampil langsung di jantung negeri-negeri kampiun komunisme, yaitu Uni Soviet dan Republik Rakyat China.

Rawan gejolak

Penampilan kelompok musik simfonik Indonesia di negeri tetangga tersebut diharapkan menjalani fungsi serupa di dalam ukurannya sendiri sebagai momentum yang sangat penting untuk meneguhkan persahabatan. Di luar langkah simbolik, ia juga bekerja di ranah kesadaran masyarakat.

Maklumlah, lebih daripada negeri lain, tampaknya Australia mendapat perhatian besar justru karena hubungan kedua negara yang rawan gejolak. Selalu ada saja perkara yang membuatnya memburuk, yang membutuhkan usaha ekstra untuk memulihkannya. Hal itu berlangsung sejak masa awal kemerdekaan Indonesia, jadi sebenarnya praktis sepanjang sejarah berdirinya Republik Indonesia.

Pada tingkat pemerintah, upaya mengokohkan hubungan baik cukup sering dilakukan. Hubungan yang cukup serasi dinikmati pada saat Australia di bawah PM Joseph Bennedict Chifley mendukung kemerdekaan RI sampai tahun 1950. Hal itu juga terjadi pada masa pemerintahan Paul Keating pertengahan tahun 1990-an. Banyak orang berharap hal serupa terjadi sekarang pada masa pemerintahan PM Kevin Rudd. Ada anggapan, setiap kali pemerintahan dipegang oleh Partai Buruh, hubungan terasa mesra dan produktif. Sikap partai tersebut tecermin dari ungkapan Keating: "Tidak ada negara lain di dunia ini yang lebih penting bagi Australia selain Indonesia."

Di luar itu, boleh dikata setiap kali persahabatan terancam. Kita masih ingat sejumlah gerakan, gestur politik tokoh-tokoh dari kedua pihak, ancam-mengancam gaya elite masyarakat, maupun taktik diplomasi, yang semuanya menyadarkan kita bahwa hubungan bisa memburuk setiap saat. Pada umumnya, langkah untuk "memadamkan kebakaran" seperti itu memang bertumpu pada upaya diplomatik .

Peran rakyat

Di mana tempat upaya-upaya menjalin persahabatan lewat olahraga atau kesenian?

Sasaran utamanya mesti ke jantung kehidupan masyarakat, yaitu untuk mengubah persepsi negatif warga atas bangsa atas pihak lain, secara "alamiah", dan langkah semacam ini memang harus terus-menerus dilakukan di dalam waktu yang panjang. Aktor utama adalah rakyat di kedua pihak dan pemerintah paling banter memfasilitasi. Peran dominan pemerintah justru bisa kontraproduktif. Pidato atau pernyataan politik tidak akan mampu mengubah persepsi buruk menjadi baik.

Karena itu, pertanyaan tentang siapa sasaran dari pentas olahraga atau seni di negeri tujuan menjadi penting untuk memastikan bahwa upaya yang menghabiskan dana dan energi tidak kandas hanya menjadi perbincangan di kalangan "indonesianis", kelompok atau lingkungan yang sudah dekat dengan Indonesia. Melegakan bahwa 2.000 tiket pertunjukan Twilite Orchestra di Sydney, 21 Juli, terjual dan hanya sekitar 500 lembar yang dibagikan kepada relasi Indonesia. Artinya, ribuan penduduk setempat mau merogoh kocek dan menonton suguhan Indonesia tersebut.

Indonesia pernah membuat festival kebudayaan Indonesia di Amerika Serikat (disingkat dengan Festival KIAS) yang berlangsung sampai 18 bulan pada tahun 1991. Itu sebuah kegiatan kebudayaan berskala besar, berlangsung di sejumlah negara bagian, serta mengerahkan dana dan bakat-bakat terbaik yang dimiliki. Maka, digelarlah pertunjukan wayang, teater modern, sampai pameran seni rupa yang menampilkan antara lain karya- karya para empu, seperti Affandi. Kompas mengikuti beberapa bagian kegiatan itu di sana dan melihat efektivitasnya yang rendah.

"Departemen kami akan terus mendorong pagelaran dan eksposisi kesenian Indonesia di berbagai kawasan dunia. Sesudah kelompok Twilite Orchestra di Sydney, akhir Juli ini rombongan seni Jayasuprana tampil di Melbourne. Di Amerika Serikat grup musik Dwiki Dharmawan berpentas keliling di beberapa kota dan masih banyak lagi lainnya," tutur Sapta Nirwandar, Direktur Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

Langkah-langkah semacam itu, dalam berbagai ukuran, mesti terus-menerus dilakukan, langsung dari rakyat ke rakyat, sementara hasilnya mungkin masih lama bisa dipanen. Jalan kebudayaan tidak pernah berupa jalan pintas, apalagi sekadar pidato resmi.

http://koran.kompas.com/read/xml/2009/07/26/03104880/musik.simfoni.indonesia.dan.pesan.perdamaian.