Dec 21, 2009

What does Business Intelligence do?

Making best use of business intelligence to stay ahead of competition. / EJ

Business benefits from user-friendly Intelligence, SAP

Zatni Arbi ,  Contributor ,  Jakarta   |  Mon, 11/16/2009 2:34 PM  |  Sci-Tech

The word "intelligence" often gives us butterflies in our stomach, as the British say. Each time we hear the word, we think of the CIA, the KGB, Mossad and even our own Badan Intelijen National (BIN). Those agencies consist of highly trained, high IQ people for whom death is just an ordinary affair. We had better not mess up with any of them.

But, whether we like it or not, the word "intelligence" has for several years invaded the business world as well. That is why we have applications and tools that we call Business Intelligence (BI). What do they do?

First, remember the age-long concept called Enterprise Resource Planning (ERP), which automates transaction processes. When a customer places an order, for example, a chain of reactions takes place. The finance department will check the person's credit line to see whether their order can be accepted or if they have to settle a previous debt first. Sales will check whether the goods wanted are readily available and, if not, production will have to manufacture them. Production will also have to be able to tell everyone how long it will take until the goods are ready for shipment.

After ERP, people started to think, "Now that transactions are taken care of, why don't we capture all the transaction data and create a huge data warehouse?" That is when Data Warehousing came into the picture. Credit card issuers, for example, keep track of every single purchase we make.

Then they use the information for various purposes, including cross-selling. If you have a fetish for buying branded bags, for example, they will make a note of it and send you catalogs of luxury bags from other brands - and perhaps the shoes to match.

However, data and information are not limited to what the Data Warehouse can supply. What about what is going on in the market? What about changing customer behavior? Which bottled tea sells most in East Java, for example? Which model of car sells most in Central Kalimantan? For strategic decision-making, such external data is also as important as internal transactional data.

External data can be purchased. That is what independent research firms like Bloomberg and Nielsen do. They capture data, clean it and verify it, and then sell it to businesses at premium prices. Research firms also customize their data based on the needs of their customers. "To collect external data, people have also been using data crawlers, a robot-like program that crawls through the web and go after the data it has been programmed to find," said Singgih Wandojo, Operations Director, SAP Indonesia, during a recent lunch with a small group of IT reporters.

Certainly, having mountains of data will only defeat the purpose. Businesses require powerful analytical tools to extract the relevant data and to make sense of it. Such tools are known collectively as Business Intelligence, or BI. "Banks, financing institutions and telco operators are the top users of BI solutions," said Singgih.

Three to four of the biggest BI players in Indonesia are IBM with its Cognos, Oracle with its Hyperion, SAP with its BusinessObjects and SAS - the company that, during my student days, used to be known for their very advanced statistical software.

BusinessObjects used to be the name of a company founded by John Schwartz. When it had a market value of US$1.5 billion, $8 billion SAP acquired it, which clearly indicates how SAP needed great BI tools to complete its business software portfolio. Schwartz joined SAP in 2008.

But, when the analysis is done, there is still another horrendous task: How do users get to the extracted data they want without depending too much on their IT division? SAP has SAP BusinessObjects Explorer. Hasso Plattner, the company's co-founder, has a lot of influence on its development. Although he has retired, he still challenges his mind with software and application development. He even suggested that the data be placed in the memory for faster processing.

BusinessObjects Explorer can perhaps be described as an interface that casual users can easily customize to suit their individual requirements. "The emphasis in the Explorer is the ease-of-use," said Singgih. Eddy Then, business development manager, SAP Indonesia, added that the Explorer has been designed to be as familiar as Google. Eddy gave us a demonstration of the Explorer during the lunch briefing.

So, if you want to know how well pretzels were selling in Germany in the second quarter of 2008, for example, you can enter the keyword "food" and keep drilling down by selecting the relevant items until you get to pretzel. As the accompanying screenshot shows, you can also see the data in chart forms.

Do all BI products have the same power? Goenawan Loekito from Oracle Indonesia does not really agree. "Oracle's Hyperion has stronger analytical tools," he told me over the phone. But he admits that combining Hyperion with BusinessObjects Explorer will be like adding caramel to your pretzel.

Nonetheless, no matter how easy it is to use BI with the help to great software like BusinessObjects Explorer, the reality in the business world remains the same. Ignore intelligence, and you will be swallowed by your rival. That is why, in the uncertain business environment we find ourselves today, it is critical to have an easy to use BI solution.

Sumber: Jakarta Post, 16 Nov 09


Dec 18, 2009

Falsafah & Tiga Dimensi Hijrah

Ini artikel renungan yg dibaca oleh Menkominfo KIB II, Tifatul Sembiring mantan Presiden PKS, pagi ini (18/12/09) seusai sarapan dan menuju bandara (dari Pontianak menuju Jakarta).  Semoga kita juga bisa memetik manfaatnya.

Rahasia Hijrah

16/12/2009 | 28 Zulhijjah 1430 H | Hits: 1.047

Kirim Print

timbangandakwatuna.com - Hijrah adalah keniscayaan. Allah swt. membangun sistem di alam ini berdasarkan gerak. Pelanit bergerak, berjalan pada porosnya. Allah berfirman: "Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui." (QS. Yasin: 38). Imam Syafii'i menggambarkan dalam sya'irnya yang sangat indah bahwa air yang tergenang akan busuk dan air yang mengalir akan bening dan jernih. Seandainya matahari berhenti di ufuk timur terus menerus, niscaya manusia akan bosan dan stres.

Benar, hijrah sebuah keniscayaan. Karena dalam diam tersimpan segala macam keburukan. Mobil yang didiamkan berhari-hari akan karat dan hancur. Jasad yang didudukkan terus menerus akan mengidap banyak penyakit. Itulah rahasia mengapa harus olah raga. Syaikh Muhammad Al Ghazali berkata: "Bahwa orang-orang yang menganggur adalah manusia yang mati. Ibarat pohonan yang tanpa buah para penganggur itu adalah manusia-manusia yang wujudnya menghabiskan keberkahan."

Terbukanya kota Mekah adalah keberkahan hijrah. Seandainya Rasulullah saw. dan sahabat-sahabatnya tetap berdiam di kota Mekah, tidak pernah terbayang akan lahir sebuah kekuatan besar yang kemudian menyebarkan rahmat bagi seluruh alam. Sungguh berkat hijrah ke kota Madinah kekuatan baru umat Islam terbangun, yang darinya kepemimpinan Islam merambah jauh, tidak hanya melampaui kota Mekah, pun tidak hanya melampaui Jazirah Arabia, melainkan lebih dari itu melampaui Persia dan Romawi.

Ada beberapa dimensi hijrah yang harus kita wujudkan dalam hidup kita sehari-hari di era modern ini, agar kita medapatkan keberkahan:

Pertama, dimensi personal, bahwa setiap mukmin harus selalu lebih baik kwalitas keimannya dari hari kemarin. Karenanya dalam Al-Qur'an Allah swt. selalu menggunakan kata ahsanu amala (paling baiknya amal). Maksudnya bahwa tidak pantas seorang mukmin masuk di lubang yang sama dua kali. Itulah sebabnya mengapa sepertiga Al-Qur'an menggambarkan peristiwa sejarah. Itu untuk menekankan betapa pentingnya belajar dari sejarah dalam membangun ketaqwaan. Dari sini kita paham mengapa Allah swt. dalam surah Al Hasyr:18 menyandingkan perintah bertaqwa dengan perintah belajar dari sejarah: "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Kedua, dimensi sosial, bahwa seorang mukmin tidak pantas berbuat dzalim, mengambil penghasilan secara haram dan hidup bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Seorang mukmin harus segera hijrah dari situasi sosial semacam ini. Seorang mukmin harus segera membangun budaya takaful –saling menanggung-. Itulah rahasia disyari'atkannya zakat. Bahwa di dalam harta yang kita punya ada hak orang lain yang harus dipenuhi. Allah berfirman :"Walladziina fii amwaalihim haqqun ma'luum (dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu.") (QS. Al Maarij: 24).

Dan ini telah terbukti dalam sejarah bahwa membangun budaya takaful akan menyelesaikan banyak penyakit sosial yang akhir-akhir ini sangat mencekam. Terlalu tingginya angka kemiskinan dan pengangguran di tengah negeri yang kaya secara sumber alam, sungguh suatu pemandangan yang naif. Namun ini tentu ada sebabnya, di antaranya yang paling pokok adalah karena kedzaliman dan ketidak jujuran. Dari sini jelas bahwa hijrah yang harus dibuktikan saat ini adalah komitmen untuk tidak lagi mengulangi budaya korupsi. Sebab dari budaya inilah berbagai penyakit sosial lainnya tak terhindarkan.

Ketiga, dimensi dakwah, bahwa seorang mukmin tidak boleh berhenti pada titik sekedar mengaku sebagai seorang mukmin secara ritual saja, melainkan harus dibuktikan dengan mengajak orang lain kepada kebaikan. Ingat bahwa syetan siang dan malam selalu bekerja keras mengajak orang lain ke neraka. Syetan berkomitmen untuk tidak masuk neraka sendirian.

Dari sini saatnya seorang mukmin harus bersaing dengan syetan. Ia  harus hijrah dari sikap pasif  kepada sikap produktif. Produktif dalam arti bekerja keras mengajak orang lain ke jalan Allah. Sebab tidak pantas seorang mukmin bersikap pasif. Pasifnya seorang mukmin bukan saja akan membawa banyak bakteri pelemah iman, melainkan juga membawa bencana bagi kemanusiaan.

Itulah sebabnya mengapa seorang pemikir muslim abad ini dari India Syaikh Abul Hasan Ali An-Nadwi menulis sebuah buku yang sangat terkenal dan menomental: maadzaa khasiral aalam bin khithaathil muslimiin (betapa dahsyatnya kerugian yang dialami dunia ketika umat Islam tidak berdaya).

Ini benar, bahwa dunia ini memang membutuhkan umat Islam yang berdaya. Umat Islam yang produktif. Bukan umat Islam yang pasif. Dan kini kita menyaksikan dengan mata kepada betapa kerusakan merejalela melanda kemanusiaan akibat dari lemahnya umat Islam. Bandingkan dengan dulu ketika Umar Bin Khaththab dan Umar bin Abdul Aziz memimpin dunia. Inilah hijrah yang harus segara kita buktikan. Wallhu a'lam bishshawab.

http://www.dakwatuna.com/2009/rahasia-hijrah



Dec 13, 2009

Falsafah kebahagiaan, sukses, dan uang

...bukan hal baru, tapi yang mau tak mau masih terus terasa 'baru' karena kekeliruan yg sudah mendarah daging bahkan mungkin hingga sekarang... Semoga tidak kita tularkan ke generasi penerus yg akan datang.  (EJ)

TEROKA
Seberapa Bahagia Bangsa Kita?

Kompas, Sabtu, 12 Desember 2009

Handrawan Nadesul

Adrian White dari Universitas Leicester bikin survei belum lama ini, bangsa apa paling bahagia di dunia. Hasilnya bukan dari negara terkaya, melainkan bangsa Denmark. Bukti bahwa tidak semua bisa dibeli dengan uang. Indonesia termangu di urutan ke-64.

Survei lain satu dasawarsa lalu menyimpulkan pesan yang sama. Kebahagiaan orang di dunia tidak bertambah secara signifikan sejak tahun 1950. Kemajuan teknologi, ekonomi, dan fasilitas dunia ternyata tidak menambah kebahagiaan orang. Lalu apa?

Rasa bersyukur. Orang Denmark gampang bersyukur, menikmati hidup tanpa perlu berkelimpahan, hidup secukupnya (contentment), serta merasa tak perlu diperbudak kesuksesan. Kenapa Denmark bisa begitu?

Di Denmark pendidikan dan kesehatan gratis, hari tua terjamin, ditunjang filosofi hidup tak perlu ngoyo. Lain dari itu tingkat pengharapan (ekspektasi) orang Denmark rendah. Kesuksesan kecil saja sudah bikin mereka bahagia. Apabila gagal, mereka pun masih berbesar hati untuk bangkit lagi.

Itu berarti tingkat stres hidup orang Denmark minimal. Berbeda dengan seorang atlet nasional kita, yang kita kira sangat sehat, tercatat kena serangan jantung juga. Musababnya faktor stres. Pembuluh koroner jantung bisa saja menguncup (coronary spasm) kalau stres merundung.

Stres merusak badan, selain merongrong kebahagiaan. Sebagian besar penyakit orang sekarang, stres pemicunya. Jiwa yang gundah dihibahkan ke bentuk penderitaan badan (pscychosomatic). Hidup yang salah arah dan keliru pula menempuhnya menambah pikulan stres kebanyakan orang sekarang.

Paradoks "n-Ach"

Pada awal modernisasi kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh spirit need-for-achievement ("virus jiwa n-Ach"). Jiwa bangsa-bangsa yang tak pernah merasa puas lebih laju akselerasi pembangunannya. Semua bangsa berlomba ingin lebih maju. Bangsa Troya dulu, dan bangsa Jepang sekarang, contohnya. Spirit tak pernah puas tersebut pokok pesatnya lonjakan ekonomi bangsa.

Namun, kini terbukti, bangsa yang didikte oleh keinginan dan ambisi tinggi tidak lebih berbahagia dari bangsa yang mendahulukan rasa bersyukur dan hidup secukupnya. Hal itu karena betul tak ada batas tertinggi buat kepuasan. Sayang hanya seperempat responden dunia yang meniscayai itu.

Dengan mengukur satisfaction with life index, kebahagiaan bangsa Jepang hanya di urutan ke-90 dunia. Negara kecil dan tak terlalu kaya, seperti Bahama, Swedia, Malta, Kosta Rika, dan Bhutan, termasuk 20 besar dunia dalam kebahagiaan bangsanya. Hidup juga perlu enjoy.

Survei kebahagiaan yang memakai data WHO, UNESCO, CIA, dan New Economic Foundation tersebut diukur dari kepuasan subyektif bangsa terhadap kesehatan, pendidikan, dan kekayaan relatif, selain tingkat pengharapan terhadap hidup. Makin rendah ekspektasi suatu bangsa, makin gampang tumbuh rasa bersyukurnya dan terangkat rasa bahagianya. Sebaliknya, makin tinggi ekspektasi bangsa, makin sering tidak puas dan menjadi kurang bahagia.

Kita melihat bagaimana orang Jepang berjalan kaki seperti dikejar hantu. Mereka rata-rata gila kerja dan tinggi ekspektasi dalam hidupnya. Begitu juga orang Korsel, China, dan Thailand, yang derajat kebahagiaannya masing-masing di urutan ke-102, ke-82, dan ke-76 saja. Tingkat pengejaran prestasi tanpa henti bangsa berbanding terbalik dengan tingkat perolehan kebahagiaan hidup.

Banyak uang tak bahagia

Filosofi orang banyak yang salah kaprah. Rata-rata orangtua membawa anak bersekolah dengan tujuan menjadi mesin pencetak uang semata. Kesuksesan hidup dibahasakan dengan uang.

Sejatinya uang betul penting. Tapi, bukan uang yang menambah kebahagiaan. Orang Denmark melihat kesuksesan hidup penting. Tapi, menikmati hidup, guyub bersama keluarga, dan teman dijadikan nilai utama. Supaya lebih berbahagia, ke situ patutnya arah hidup perlu dibawa.

Karena kesuksesan kebanyakan orang ditakar dengan uang dan harta, orang terjebak banting tulang demi uang dan harta semata. Uang, harta, dan kuasa berlimpah, tapi merasa tidak bahagia sering karena tak menyukai bidang pekerjaan. Rata-rata orangtua dan universitas sekarang telanjur keliru mengantar anak memetik kebahagiaan.

Orang bisa membeli ranjang emas, bukan tidur. Bisa membeli seks, bukan cinta. Bisa membeli obat, bukan kesehatan. Jadi benar adanya paradigma pendidikan mesti diputar agar para lulusannya bekerja hanya di profesi yang betul dicintai. Itu juga sebabnya uji motivasi masuk universitas sekarang dipandang penting menyeleksi agar kelak calon profesional tidak meraih kesuksesan yang semu. Banyak duit, tetapi tidak berbahagia.

Universitas di negara maju sekarang menerima mahasiswa tidak semata melihat prestasi akademis. Calon mahasiswa pintar katanya banyak. Namun, yang bakal menjadi profesional sejati makin sedikit. Hanya karena bila mencintai bidang pekerjaan, kesuksesan sejati dan produktivitas buat negara akan terpetik.

Pintar saja tak cukup. Sekarang anak perlu pintar plus. Beberapa jenis kecerdasan belum tentu diperoleh di sekolah. Ada jenis kecerdasan yang tak bisa dipelajari tetapi berkembang sendirinya bila anak tidak kutu buku. Kelebihan tacit knowledge seperti itu yang tidak semua anak miliki. Menyimpan kecerdasan mampu meraih kebahagiaan, salah satunya.

Kekayaan negara bukan segalanya. Gandrung terhadap American Dreams konon yang bikin kebahagiaan bangsa Amerika yang kaya-raya cuma di urutan ke-23. Melihat hasil survei di atas tak susah bikin bangsa bahagia.

Buat kita, supaya bisa sebahagia orang Denmark, sekurang-kurangnya negara harus cukup memberi pendidikan dan kesehatan, selain jaminan hari tua. Sekolah wajib mendidik anak mudah merasa bersyukur dan meniscayai bahwa tidak ada batas tertinggi dalam hal kepuasan hidup, selain meniscayai bahwa uang tidak bisa membeli apa saja. Tidak juga mampu menebus kebahagiaan dalam hidup. ***

Handrawan Nadesul, Dokter, Pengasuh Rubrik Kesehatan, dan Penulis Buku