Nov 29, 2010

Kolektor Pantun & Peribahasa

Muhammad Haji Salleh
Menjejaki Kekayaan Sastra Nusantara
Senin, 29 November 2010 | 03:27 WIB
KOMPAS/KHAERUDIN

KHAERUDIN

Jika ingin melihat betapa bijaknya orang-orang yang tinggal di Nusantara ini memandang alam dan kehidupan, bacalah ribuan pantun dan peribahasa yang tersebar mulai dari semenanjung di Malaysia hingga perairan Laut Sulawesi yang menjadi rumah suku Bajo. Bagi ahli perbandingan sastra Indonesia-Malaysia, Muhammad Haji Salleh, pantun dan peribahasa merupakan khazanah sastra yang tak ada bandingannya di dunia.

Haiku dari Jepang boleh dibilang canggih, tetapi tak seindah dan sekaya pantun. Dalam pantun, ada ajaran agama, filosofi, lagu, ada juga mainannya. Pantun ada dalam banyak suku di Nusantara Raya," ujar Muhammad. Dia mengabdikan hampir separuh hidupnya dalam pencarian berbagai jenis pantun dan peribahasa pada suku bangsa di Malaysia dan Indonesia.

Sesungguhnya, dasar pendidikan kesarjanaan Muhammad adalah Sastra Inggris. Ketika menempuh gelar master dan doktoralnya di University of Michigan, Amerika Serikat, selama kurun 1970-1973, Muhammad merasakan kerinduan kampung halaman setelah meresapi berbagai bentuk pantun dan peribahasa. "Saya ini awalnya sarjana Sastra Inggris, tetapi ketika berada jauh dari kampung halaman, saya merasakan betul betapa eksotisnya sastra negeri sendiri," ujarnya.

Dia sempat mengenyam pendidikan singkat kesusastraan Indonesia di Universitas Indonesia begitu tamat dari Universiti Malaya. Di AS pun Muhammad mengonsentrasikan studi doktoral dalam perbandingan puisi Indonesia-Malaysia. Kecintaan akan segala bentuk karya sastra Nusantara, khususnya puisi, pantun, dan peribahasa, membuat dia bersahabat dengan banyak sastrawan Indonesia. "Saya pernah bertandang ke rumah Rendra saat masih di Solo. Rumahnya ketika itu hanya beralas tanah," kenangnya.

Pemersatu serumpun

Sastra bagi Muhammad menjadi pemersatu Malaysia dan Indonesia sebagai bangsa serumpun di gugusan Nusantara. Meski Malaysia seolah berada terpisah karena terletak di semenanjung, bagian paling tenggara dari daratan Benua Asia, menurut Muhammad, tak ada sempadan atau batas dalam khazanah sastra kedua negara.

Dia mencontohkan, babad atau hikayat Melayu, Sulalat al-Salatin karangan Tun Seri Lanang. Tun sebenarnya adalah bendahara Kesultanan Pahang. Namun, saat Pahang diserang Kesultanan Samudra Pasai, hampir semua bangsawan Melayu Pahang—termasuk Tun—dibawa ke Aceh. Karena kecerdikan Tun, penguasa Aceh menjadikannya penasihat dan diberi wilayah kuasa di Samalanga. "Separuh masa Tun Seri Lanang mengarang Sulalat al Salatin dilakukannya ketika di Samalanga. Jadi, karya itu tak bisa diklaim milik Malaysia semata. Itu karya besar dua bangsa serumpun ini," katanya.

Itulah yang mendorong Muhammad selama 25 tahun lebih mengumpulkan sedikit demi sedikit pantun dan peribahasa yang terserak pada banyak suku bangsa di kepulauan Nusantara. Dia mau bersusah payah datang berkunjung ke Bali hingga Nusa Tenggara Timur. Muhammad rela menyusuri perairan Sulawesi Tenggara untuk mengoleksi pantun suku Bajo hingga mengumpulkan pantun yang ada pada suku Minahasa di Sulawesi Utara.

Koleksi pantun yang dikumpulkan Muhammad meretas dari Pulau Adang di Thailand hingga Bunaken di Sulawesi Utara. Hasil koleksinya sebagian telah dibukukan.

"Ada tiga buah buku yang telah terbit. Satu buku kira-kira berisi 1.000 pantun. Akan ada empat buku pantun lagi yang menyusul terbit," ujarnya. Dia mengumpulkan semua jenis pantun, dari pantun peranakan hingga pantun orang asli (suku asli di Malaysia). Dia juga mengoleksi pantun dari Pulau Adang hingga Bunaken. Ada sekitar 30 ragam daerah Nusantara yang memiliki koleksi pantun.

Muhammad juga tekun mengumpulkan peribahasa, bentuk sastra Nusantara lain yang tak kalah elok dan kaya akan ilmu kehidupan. Muhammad memilah peribahasa dalam 21 kategori yang berhubungan dengan ilmu dan pekerjaan, sikap manusia terhadap ilmu, hingga fungsi ilmu dalam masyarakat. Satu kesimpulan Muhammad setelah mengoleksi tak kurang dari 8.000 peribahasa adalah orang Melayu, dan banyak suku bangsa lain di Nusantara, tidak hanya menjadikan ilmu dan pekerjaan sebagai pusat hidup, tetapi juga merenungkan bagaimana ilmu dan pekerjaan dibuat sebagai solusi menyelesaikan masalah.

Muhammad mencontohkan peribahasa dari Brunei yang mengajarkan betapa manusia harus cukup ilmu jika ingin berhasil, "mun (jikalau) rotan panjang sejengkal, jangan mendaluh (menduga) lautan dalam".

Peribahasa pula yang menurut Muhammad membuat orang di Nusantara sangat demokratis dalam belajar dan berani berargumentasi meski dengan gurunya sekalipun. Dia mencontohkan peribahasa dari Sumatera Barat, "melawan guru dengan kajinya, melawan mamak dengan adatnya".

Kepandaian suku bangsa di Nusantara ini dalam merangkai kata hingga menjadi karya sastra indah penuh ilmu, menurut Muhammad, karena alamlah yang dijadikan guru. Dia mencontohkan peribahasa Melayu, "kais pagi, makan pagi", yang menggunakan kata untuk binatang (ayam), tetapi dipakai untuk menggambarkan nasib manusia. "Kata kais kan semestinya untuk ayam yang mencari makanan, tetapi itu yang orang lihat setiap hari sehingga dipakai juga untuk manusia," ujarnya.

Pada intinya, lanjut Muhammad, kepandaian berbahasa adalah elemen penting bagi banyak suku bangsa di Nusantara. Pada kasus orang Melayu, kata dia, suasana kosmopolitan di hampir semua bandar Melayu sejak dulu menjadikan orang-orangnya pandai berbahasa.

Meski tak berhubungan secara langsung, ketekunan Muhammad mengoleksi pantun dan peribahasa di Nusantara, baik yang terserak di Malaysia maupun di kepulauan Indonesia, sedikit banyak dipengaruhi oleh keyakinannya bahwa adalah sastra yang mempersatukan dua jiran yang kadang suka "berkelahi" ini. Dan tentu saja, meski berkewarganegaraan Malaysia, Muhammad pun tak lupa kampung sebenarnya nenek moyangnya di Bandar Khalipah, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara.

"Ayah saya merantau dari Bandar Khalipah ke Pulau Pinang tahun 1920-an. Pada banyak orang yang tinggal di Semenanjung (Malaysia) ataupun di Sumatera, ulang alik seperti yang dilakukan ayah saya lazim adanya," kata Muhammad.

Sumber: Kompas, 29/11/10

Nov 21, 2010

Momen Keajaiban


Dan Tuhan Pun Mendongeng
Minggu, 21 November 2010 

Clara Ng 

Tuhan menciptakan manusia sebab Dia senang mendongeng.

Mendongeng adalah bentuk paling awal dari tradisi oral. Kebanyakan dimulai dari kisah yang dipresentasikan dengan kombinasi gerakan tubuh dan ekspresi wajah. Mendongeng menjadi bagian penting di sebuah masyarakat, bentuk hiburan rakyat yang bisa digabungkan dengan puisi, musik, dan tari-tarian. Dalam perkembangannya, cerita-cerita zaman kuno tersebut diukir, dilukis, disimpan—diharapkan dapat abadi—di batu, tulang, gading, bambu, daun, dan lain-lain. Di zaman sekarang, mendongeng disimpan dalam bentuk kertas dan digital. 

Manusia terlahir untuk menyenangi dongeng, terlebih-lebih anak-anak. "Ceritakan padaku satu kisah" adalah permintaan yang sering diucap oleh siapa saja. Mendongeng adalah bagian yang tak terpisahkan dengan diri manusia sejak masih kecil sampai menjadi besar. Dongeng dapat dengan mudah menerjemahkan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat, seperti moral, budaya, dan tingkah laku. 

Di tengah kesibukan kaum urban yang semakin tinggi, kehadiran televisi dan benda-benda elektronik lainnya seperti game, handphone, dan iPod dapat menggeser kegiatan mendongeng orangtua kepada anak. Padahal, kemampuan benda-benda tersebut tidak akan berhasil menggantikan kehebatan mendongeng sebagai bagian dari komunikasi antarmanusia yang hangat dan mesra. Ini menjadi hal yang memprihatinkan. Bayangkan bagaimana televisi dapat membuat anak-anak terpaku pada televisi sehingga makan ditelan secepat-cepatnya. Atau meja makan menjadi senyap sebab setiap anak menikmati permainan di game-nya.

Kegiatan "nun jauh di sana..." sepantasnya dijadikan pengikat kuat relasi antar-anggota keluarga untuk melawan hantaman teknologi yang bersifat individual. Anak-anak yang sakit dan harus tinggal di ranjang dapat dihibur dengan didongengkan, bukan diberikan iPad dan dinyalakan televisi. Keluarga berkumpul di meja makan untuk saling bercerita, bukan di depan televisi. 

Mendongeng di Festival Bercerita

Festival Bercerita yang diadakan di Bentara Budaya Jakarta (BBJ) tanggal 11-14 November menjadi oase kesegaran di antara ratusan keping iklan di mal, koran, dan billboard tentang penjualan barang-barang elektronik yang mempromosikan hiburan bagi manusia-manusia yang kesepian. Festival ini sudah yang kesembilan kalinya diadakan, digagas dan dirintis oleh Dr Murti Bunanta, sosok teguh di balik Kelompok Pencinta Bacaan Anak.

Festival Bercerita IX berlangsung selama lima hari. Program acara diisi penuh dengan agenda mendongeng. Menyaksikan cerita demi cerita yang dipersembahkan oleh anak-anak dan orang dewasa, penonton terpikat. Perhelatan langsung ditujukan pada pokok dan praktiknya, yakni mendongeng, sehingga para peserta bisa merasakan manfaat bagaimana mendongeng dapat menyatukan banyak hati. Lihatlah bagaimana dongeng dapat disampaikan dengan berbagai cara; ada anak usia dua belas tahun yang mendongeng sambil menari dan menyanyi, ada sekelompok anak yang mendongeng dengan berteater, ada Pak Raden yang mendongeng sambil menggambar. 

Kelompok Pencinta Bacaan Anak, sebagai salah satu sponsor dan pendukung utama Festival Bercerita, adalah organisasi nirlaba independen, didirikan pada tahun 1987. Sekarang kiprahnya bukan saja sudah menembus dunia internasional, tetapi juga tetap menjadi pemerhati buku cerita anak-anak serta bekerja untuk menyebarkan kerinduan akan dongeng di semua kota terpencil di Indonesia. 

Teknik mendongeng 

Pada usia berapa kanak-kanak dapat mulai didongengkan? Begitulah pertanyaan yang sering diajukan oleh para orangtua. Jawabannya adalah, "Sesegera mungkin! Semakin cepat semakin baik." Bahkan, orangtua sudah dapat mulai membacakan cerita kepada bayi berusia enam bulan. Tentu saja cerita yang dipilih tidak usah terlalu panjang dan penuh dengan kata yang sulit.

Memilih dongeng adalah faktor terpenting bagi orangtua dan pendidik. Memilih dongeng yang tepat bergantung pada usia anak secara umum. Penting bagi orangtua untuk mencari cerita yang dapat dimengerti anaknya serta sesuai dengan tingkat emosi dan spektrum pengalaman si anak yang bersangkutan.

 Mendongeng dapat dilakukan dengan menggunakan alat bantuan atau tidak perlu sama sekali. Karena kegiatan bercerita adalah komunikasi dua arah, kontak mata menjadi jembatan penting bagi si pencerita dan yang mendengarkan cerita. Melatih vokalisasi adalah hal prinsipiil agar suara terdengar jernih dan berjiwa. Tetapi, yang terpenting dari semuanya, seorang pendongeng haruslah memiliki rasa percaya diri ketika membawakan kisah. Sebab menjadi pendongeng adalah momen keajaiban—bahkan ketika seorang pendongeng baru saja memulai kalimatnya dengan "Once upon a time...".

 Mungkin Tuhan juga seperti itu ketika Dia menciptakan manusia. 

Clara Ng, Novelis dan Penulis Cerita Anak

Sumber: Kompas, 21/11/2010

Nov 10, 2010

dari burger menuju bakso & nasi goreng

baru tahu ada istilah "leyeh-leyeh"... terdengar lumayan pas dengan artinya. 


continuallyabsorbingnewwords,
EJ


PESAWAT
Obama "Leyeh-leyeh" di Air Force One
Selasa, 9 November 2010 | 15:54 WIB
Wikimedia
Pesawat Boeing VC-25 yang menjadi pesawat resmi Presiden AS.

KOMPAS.com - Tinggal hitungan menit, Air Force One bakal mendarat di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, sore ini, Selasa (9/11/2011). Si Tambun yang boleh dibilang masuk dalam kategori gaek ini terbang tiada henti dari India, mengangkut Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan isterinya berikut para staf terkait. 

Sejatinya, Air Force One adalah call sign atawa tanda panggil pengaturan lalu-lintas udara bagi pesawat pengangkut Presiden AS. Jenis pesawatnya bisa bermacam-macam. Sebut saja DC3 buatan McDonald Douglas, Special Air Mission (SAM) 26000, sampai dengan Boeing 747-200B dan VC-25 dengan Special Air Mission 28000 dan 29000. Nah, seri Boeing ini mulai dipakai pada 1990. Makanya, Air Force One sudah layak dikatakan masuk dalam hitungan uzur. Pesawat ini memiliki kecepatan 630 mil atau 1013 km dan mampu menempuh jarak 7.800 mil atau 12.000 km nonstop. 

Catatan dari berbagai sumber yang dikumpulkan kompas.com menunjukkan Air Force One sendiri bisa dibilang sebagai moda transportasi paling megah, aman, komplit, dan canggih. Pesawat ini adalah ujung tombak simbol kedigdayaan AS di udara. Soalnya, di dalam pesawat ini, Presiden AS dan segenap stafnya masih bisa menjalankan tugas sehari-hari. Berbagai piranti di dalamnya bahkan memungkinkan mereka mengendalikan pemerintahan dalam keadaan dunia tengah diguncang perang nuklir. 

Tugas keseharian yang biasa dilakukan di Ruang Oval, Gedung Putih, dikerjakan di Ruang Utama Presidential Suite. Ruangan ini terletak di bagian depan pesawat. Di belakang ruangan ini, ada ruangan yang lebih besar tempat Presiden AS dan para stafnya bisa melakukan rapat. Juga, di pesawat ini, Gedung Putih memperkenankan setiap staf senior presiden memiliki ruang kerja sendiri-sendiri. 

Nah, layaknya kantor kepresidenan, fasilitas kerjanya pun telah disesuaikan dengan bobot dan skala kepentingan para pejabat yang berada di dalamnya.Makanya, Air Force One telah dilengkapi 85 saluran sambungan telepon, radio dua-arah, mesin faksimili, dan jaringan komputer. Sistem telepon yang antisadap dan antijamming, telah diset untuk berhubungan langsung dengan jaringan terestrial. Dengan sistem telekomunikasi yang terhubung satelit ini, presiden dan staf bisa mengontak semua orang di segala penjuru dunia meski pesawat sedang mengawang-awang di ketinggian puluhan ribu kaki. 

Untuk mengetahui perkembangan terkini, Air Force One juga telah dipasangi 19 televisi yang bisa menyiarkan hampir semua kanal televisi dunia. Boleh jadi karena begitu komplitnya peralatan elektronik yang terpasang, sebagian dari berat pesawat adalah berupa kabel. Jeroan pesawat ini terlilit kabel sepanjang 238 mil, dua kali lebih panjang dari kabel yang melilit B747-200 - anjungan standar Air Force One. Begitu pun kabel sepanjang itu bukanlah kabel biasa. Kabel ini telah diberi pelapis khusus sehingga aman dari serangan pulsa elektromagnet (EMP/Electro Magnet Pulse) dan gelombang kejut yang dipancarkan ledakan nuklir. 

Selain itu, di dalamnya juga masih ada ruangan lain yang disediakan khusus untuk para wartawan kepresidenan. Namun, mungkin demi menghindari penyusupan, kelompok yang terakhir ini belakangan sering diterbangkan terpisah. Singkat kata, Air Force One bisa menjadi tempat kerja yang layak bagi 70 pejabat negara berikut ke-26 awak pesawatnya. 

Air Force One, pada dasarnya adalah pesawat tiga tingkat B747-200B yang telah dimodifikasi dengan ruangan seluas total 4.000 kaki persegi. Ruang kerja presiden dan stafnya mendominasi dek tingkat dua. Dek tingkat pertama atau bagian bawah pesawat menjadi ruang kargo dan bagasi. Sementara dek tingkat ketiga atau bagian paling atas, hanya dikhususkan untuk kokpit, lounge, dan ruang komunikasi. 

Mewah 

Sembari "membunuh" waktu demi tiba di tanah air masa kanak-kanaknya, Presiden Obama bisa melakukan banyak hal di dalam Air Force One mulai dari membaca koran atau majalah hingga memberi arahan kepada anak buahnya. 

Di dalam pesawat Air Force One memang tersedia perpustakaan kecil yang menyediakan beberapa film baru. Sambil menanti waktu mendarat tiba, Obama bisa bermain kartu, permainan kesukaannya. 

Banyak kalanga mafhum, Air Force One adalah pesawat mewah seperti hotel bintang lima. Setiap sudut lantai penumpang didesain bak hotel mewah. Ruang khusus presiden, seperti tempat tidur, kamar mandi, dan ruang kerja, didesain dari kayu luks. Tersedia pula beberapa ruang untuk staf dan dua dapur yang melayani kebutuhan 100 penumpang. Pesawat ini juga dilengkapi ruang medis lengkap dengan meja operasi. 

Lalu, kalau pembaca berangkat dari tayangan Youtube tatkala kali pertama naik pesawat ini Februari setahun silam, nyatanya Obama memilih memesan burger. Racikannya adalah, burger yang tidak terlalu matang, berikut keju cheddar, dijon mustard, lettuce, dan tomat. Mungkin, sambil leyeh-leyeh alias bersantai, makan burger, Obama tengah menanti saat menjejakkan kakinya di negeri yang membuatnya "tergila-gila" pada nasi goreng, bakso, dan rambutan.

Sumber: Kompas, 9 Nov 10