Oct 20, 2008

Kunci Menguasai Peradaban

"...Kang Abik tak lupa menanyakan berapa buku yang biasa dibaca para peserta ceramah setiap hari..."
 
 
Habiburrahman El Shirazy
Membaca Saat Pengajian
Selasa, 23 September 2008

Minimnya budaya membaca di Indonesia membuat novelis Habiburrahman El Shirazy (32) prihatin. Tak tinggal diam, Habiburrahman yang populer lewat novel Ayat-ayat Cinta ini, setengah kampanye, menyelipkan ajakan untuk membaca buku saat memberi ceramah di pengajian.

Saat didaulat memberi siraman rohani memperingati Nuzulul Quran di Masjid Al Amien, Blotongan, Kota Salatiga, Jawa Tengah, Jumat (19/9) malam, misalnya, Kang Abik, panggilannya, tak lupa menanyakan berapa buku yang biasa dibaca para peserta ceramah setiap hari.

"Kalau tidak buku, hayo siapa yang berlangganan koran, coba angkat tangan? Wah, sedikit sekali. Padahal, kunci menguasai peradaban itu ya membaca. Al Quran juga mengajarkan agar banyak membaca," katanya saat melihat hanya segelintir orang yang mengacungkan tangan.

Lulusan Universitas Al Azhar, Cairo, Mesir, ini lantas menggelitik peserta pengajian dengan mengisahkan pengalamannya menunggu pesawat yang penerbangannya tertunda sampai dua jam. Dari respons penumpang, bisa diketahui bagaimana etos membacanya.

"Begitu ada pengumuman pesawat ditunda, orang Indonesia langsung ramai ngobrol, jadi kayak pasar. Orang Jepang dan bule langsung mengambil buku dari tas dan asyik membaca," tuturnya berapi-api. (GAL)

Sumber: Kompas cetak, Nama & Peristiwa 23/9/08

Oct 7, 2008

Ketahanan Bhinneka Tunggal Ika

Pengantar

100 Tahun Kebangkitan Nasional
Bangsa yang "Tahan Banting"
Senin, 6 Oktober 2008 | 02:00 WIB

Oleh MYRNA RATNA

Empat puluh tahun lalu, ekonom Swedia yang juga pemenang Nobel, Gunnar Myrdal, menulis karya monumental, Asian Drama: An Inquiry into the Poverty of Nations, yang berisi kajian terhadap negara-negara Asia Selatan dan Tenggara (khususnya India, tetapi juga melebar ke Indonesia dan negara-negara lain). Myrdal menggambarkan, negara-negara di kawasan itu dirundung kemiskinan, dibayangi ledakan penduduk dan perekonomian yang suram.

Penyebab kondisi itu, menurut Myrdal, adalah "keterbelakangan" Asia dalam hal modal, sumber daya, dan tingkat pendidikan. Namun, karakter "khas" orang Asia juga berperan di situ, seperti disiplin kerja rendah, termasuk disiplin waktu dan ketertiban; kebencian terhadap kerja manual, suka hal- hal irasional, sulit beradaptasi dengan perubahan, kurang berambisi, gampang dieksploitasi, sulit bekerja sama.

Pemerintahan di negara-negara itu dinilainya "terlalu lembek" (ia menemukan istilah soft states), alias tidak mampu menerapkan disiplin sosial. Reformasi akan sulit diwujudkan karena korupsi dan inefisiensi merajalela. "Tanpa ada disiplin sosial, sulit bagi negara-negara itu untuk bisa berkembang cepat," katanya (Time, 15 Maret 1968).

Gunnar Myrdal tutup usia pada 17 Mei 1987 (88 tahun). Ketika itu, Jepang, Korsel (dan China) telah menjadi macan-macan ekonomi Asia. Bahkan, kontras dengan ramalan Myrdal, Indonesia pun melaju sebagai kekuatan ekonomi menengah di kawasan dengan PDB sekitar 3.080 dollar AS.

Namun, krisis ekonomi yang melanda Asia tahun 1997-1998 membuka mata tentang perlunya mempertimbangkan faktor kultural (nilai, sikap, keyakinan, dan tradisi) dalam membentuk bangunan ekonomi dan politik sebuah negara. Tentu saja kultur tidak bisa berdiri sendiri. Dibutuhkan faktor-faktor lain, seperti penegakan hukum, sistem pengadilan independen, transparansi, dan kepemimpinan, untuk mewujudkan sebuah tata kelola pemerintahan yang baik.

Dengan kata lain, mengutip Dwight H Perkins, seandainya saja ekonomi di Asia Timur dan Tenggara dikelola dalam jalur yang menjunjung penegakan hukum dan bukan jalur KKN (korupsi, kroniisme dan nepotisme, sebuah karakteristik khas hubungan pemerintah-pengusaha di Asia, termasuk Indonesia), krisis moneter diyakini tak akan terjadi di kawasan (Culture Matters, hal 233).

Optimisme

Dalam perjalanannya setelah 10 tahun reformasi yang diwarnai keprihatinan mendalam akan masa depan bangsa, tetap ada titik-titik yang membangkitkan optimisme. Salah satunya adalah karakteristik bangsa Indonesia yang "tahan banting". Bukankah negeri ini tak habis- habisnya didera masalah? Krisis ekonomi yang berkepanjangan, kerusuhan, bencana tsunami, gunung meletus, gempa bumi, banjir, serangan bom, serangan penyakit, dan konflik berdarah. Namun, bangsa ini tetap bangkit dan memulai lagi.

Mungkin pembaca masih ingat bagaimana warga Yogyakarta bahu-membahu membangun kehidupan mereka kembali hanya beberapa jam setelah gempa bumi meluluhlantakkan sebagian wilayah itu tahun 2006. Mereka memulai bekerja dengan tangannya sendiri sampai bantuan pemerintah datang kemudian. Kita juga semakin sering menyaksikan antrean panjang rakyat yang rela berdiri berjam-jam demi satu jeriken minyak tanah atau satu ember air bersih. Kalau bisa, mereka juga ingin menjerit menghadapi impitan hidup yang makin menyesakkan. Tapi, bukankah hidup harus terus berlanjut?

Sudah sepatutnya pemerintah berterima kasih kepada rakyat yang tetap bangkit meski harta benda lenyap ditelan bencana. Rakyat yang tetap berjuang meski kebijakan pemerintah membuat hidup semakin sulit. Penghargaan itu hanya sepadan bila diwujudkan melalui penyelenggaraan pemerintahan yang bersih, rancangan kebijakan yang betul-betul mengutamakan kepentingan rakyat, serta penegakan hukum yang tidak diskriminatif.

Mayoritas bangsa ini juga memiliki "nasionalisme" yang kental (terlepas bagaimana nasionalisme didefinisikan) dengan sejarah panjang yang melatarbelakanginya. Benedict Anderson menggambarkan betapa beda proses mewujudnya nasionalisme di Indonesia dibandingkan dengan di Indochina pada era kolonialisme. Di Indochina tak mencuat kesadaran bersama tentang "keindochinaan", sementara "keindonesiaan" terus bertahan di bumi Nusantara, bahkan mengakar dengan kuat, melintasi zaman (Imagined Community, hal 127).

Jauh sebelum gagasan Indonesia merdeka muncul, kelompok-kelompok yang menamakan diri Jong Ambon, Jong Java, dan lainnya, rela menomorduakan keterikatan etnis dengan tanah kelahiran mereka demi tujuan yang lebih besar, yaitu sebuah "negara yang belum terwujud" bernama Indonesia, dengan mengikrarkan Sumpah Pemuda sehingga ketika bahasa Indonesia tahun 1928 diadopsi sebagai bahasa nasional, demikian Anderson, bangsa Indonesia tak pernah lagi menoleh ke belakang.

Gagasan Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar slogan tak bermakna, tetapi harta yang harus dirawat bersama. Inilah inti demokrasi dalam sebuah bangsa yang heterogen. Bila "modal" bersama ini dipelihara baik dan dikelola oleh sebuah kepemimpinan yang bersih dan bijak, bangsa ini akan survive menghadapi tantangan apa pun.

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/06/02000831/bangsa.yang.tahan.banting


Sep 23, 2008

Berbuka Puasa di Rusia

Rusia: Salah satu mantan negara besar yang masih mempertahankan 'kebesaran'nya dan mampu meninggalkan kenangan tersendiri bagi pelancongnya. -- Emil Jayaputra 
 
Ramadhan
"Ngabuburit" di Lapangan Merah
KOMPAS/SUBHAN SD / Kompas Images
Suasana Lapangan Merah dengan Benteng Kremlin (kiri) dan Katedral St Basil di kota Moskwa, Rusia, Minggu (21/9).
Selasa, 23 September 2008

Subhan SD

Minggu (21/9) petang, udara Kota Moskwa, Rusia, terbalut mendung. Suhu udara sekitar 7 derajat Celsius. Siang itu angin yang bertiup di sekitar Lapangan Merah (Krasnaya Ploshchad) terasa menusuk-nusuk kulit walau tubuh sudah dibalut berlapis-lapis jaket.

Sinar matahari senja yang sempat muncul nyaris tak mampu meredam hawa dingin itu.

Memasuki paruh ketiga bulan Ramadhan, rasanya asyik juga ngabuburit di lapangan yang, antara lain, terkenal dengan peristiwa Revolusi Bolshevik tahun 1917 itu. Suasana lapangan yang berukuran 695 meter x 130 meter itu sibuk. Ribuan orang dari berbagai bangsa berlalu lalang. Maklumlah kawasan lapangan itu merupakan jantung Moskwa, yang antara lain dengan landmark kompleks Kremlin dan Katedral St Basil, selain Museum Sejarah dan pusat perbelanjaan Gum.

Jam besar di menara Spasskaya Kremlin menunjukkan pukul 14.00. Biasanya jam-jam sekitar itu, saat berpuasa, sungguh tak mengenakkan berjalan-jalan di jalan di Jakarta, misalnya. Tetapi, siang itu berjalan-jalan di Lapangan Merah sungguh tak terasa haus. Malah rasa dingin menyergap. Rasanya ngabuburit sekitar 3,5 jam cukuplah untuk menanti berbuka puasa. Tetapi, baru tersadar ternyata magrib di Moskwa baru pukul 19.34 nanti.

Lapangan Merah adalah ikon yang terkenal. Ia menjadi tempat parade militer unjuk kekuatan, terutama pada zaman Perang Dingin sejak Stalin hingga Gorbachev, serta perayaan besar lainnya.

Lapangan merah itu sendiri adalah sejarah. Karena itu, semua bangunan di areal lapangan punya sejarah masing-masing. Kremlin (artinya benteng pertahanan) boleh jadi bangunan yang mencolok dengan warna merahnya. Kremlin merupakan jantung sejarah, pemerintahan, dan spiritual. Di dalam areal Kremlin yang punya 18 menara itu terdapat museum, istana, dan katedral. Kompleks pada masa Tsar itu dibangun pada abad ke-12 hingga ke-15. Di bagian depan, ada Mausoleum Lenin. Di belakang Lenin ada makam pemimpin lainnya, yaitu Stalin, Brezhnev, Andropov, Chernenko, kecuali Khrushchev di pemakaman Novodevichy.

Lapangan Merah menjadi lokasi menarik bagi pasangan muda yang melangsungkan pernikahan. Sabtu sore sebanyak 7-8 mobil limusin parkir di sisi ujung jalan atau di jembatan di atas Sungai Moskwa. Pasangan muda itu mengabadikan momen indah mereka dengan latar belakang gedung-gedung tua nan bersejarah itu. Mobil-mobil pengiringnya pun tampak baru dan mewah. Ekonomi Rusia memang terus bertumbuh. Pendapatan per kapitanya kini 11.200 dollar AS.

Mereka berfoto di pinggir Katedral St Basil yang cungkup-cungkupnya seperti bawang. Tetapi, sebetulnya mirip kubah masjid, sebagaimana umumnya cungkup katedral di Moskwa. Bangunan unik itu merupakan simbol kemenangan Ivan the Terrible saat mengalahkan bangsa Mongol tahun 1552 di kota Kazan. Tak mengherankan jika keindahan dan keunikannya membuat Napoleon Bonaparte kepincut. Keunikan itu pula yang membuat arsiteknya, Postnik Yakovlev, menderita sepanjang hidupnya. Ivan the Terrible tak ingin ada bangunan lain seindah katedral itu. Karena itu, ia tak ingin Postnik merancang bangunan lain. Satu- satunya cara, Postnik pun dibutakan.

Berjam-jam rasanya telah berlalu. Jam di menara Spasskaya menunjukkan angka 19.34. Saatnya berbuka. Waktu berbuka di Rusia pasti tidaklah sama, karena negara terbesar seluas 17.075.200 kilometer persegi itu memiliki 11 daerah pembagian waktu.

Islam di Rusia—termasuk Moskwa—bukan hal baru di negeri yang 70 tahun mempraktikkan komunisme itu. Sejarah panjang Islam justru mewarnai perjalanan bangsa-bangsa di Rusia, setidaknya sejak abad ke-7, yaitu ke wilayah Dagestan dan Kaukasus Utara. Namun, Islam yang berkembang sekarang ini bermula pada abad ke-14. Banyak negara Islam yang berada di sekelilingnya bergabung dengan imperium Rusia antara abad ke-16 dan ke-19. Vladimir Putin pernah mengatakan, Muslim Rusia merupakan bagian tak terpisahkan dan aktif dalam susunan bangsa yang multietnik itu.

Namun, perubahan total terjadi saat era komunisme (Uni Soviet). Islam, termasuk juga agama lain, tidak bisa bergerak. Penduduk yang menjalankan agamanya dilarang. Selama 70 tahun komunisme berkuasa, praktik keagamaan nyaris tak terlihat.

Tetapi, setelah keruntuhan komunisme dua dekade silam, Islam di Rusia kembali menggeliat, seperti agama lainnya. "Ada fenomena anak muda Rusia yang masuk Islam. Islam sekarang berkembang seperti agama lainnya," kata Svet Sergeyeviv Zakharov (Zakaria), pengajar bahasa Indonesia di Akademi Diplomatik.

Kini Islam merupakan agama kedua dari sisi jumlah penganut setelah Kristen. Jumlahnya 25 juta orang atau 40 persen dari 143 juta penduduk Rusia. Bahkan, diprediksikan dalam 30 tahun ke depan, jumlah Muslim bisa lebih banyak daripada etnik Rusia. Diprediksi tahun 2020, satu dari lima warga Rusia adalah seorang Muslim. Moskwa bisa dikatakan sebagai kota berpenduduk Muslim terbesar dibandingkan kota Eropa lainnya.

Walau pemerintah keras terhadap kelompok radikal seperti di Chechnya, tetapi sejak Putin upaya merangkul kelompok moderat lebih intens. Tahun 2003, Putin berpartisipasi dalam pertemuan negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) di Malaysia. Kerja Sama dengan dunia Islam, termasuk Indonesia, terus dibangun Rusia, apalagi mereka menyadari, kerja sama itu amat penting bagi perdamaian Barat dan Timur. Kedamaian sepertinya menemukan ruangnya pada saat Ramadhan. ***

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/09/23/00145515/ngabuburit.di.lapangan.merah