Jul 23, 2007

Harry Potter & Pendidikan Anak

Refleksi

Harry Potter

Andar Ismail

Tidak! Saya tidak senang sihir! Saya tidak suka sihir! Apalagi percaya sihir! Uhhh, amit-amit! Boro-boro percaya, disuruh baca buku sihir pun, saya emoh banget!

Lho, kalau begitu kenapa ada buku tentang Harry Potter ini? Tenang, jangan buru-buru sewot. Jangan lihat buku ini langsung jadi sewot, "Murtad! Emangnya BPK Gunung Mulia itu penerbit sihir?"

Buku Injil menurut Harry Potter ini sama sekali tidak menggarisbawahi sihir. Sebaliknya, buku ini justru mengkonfrontasi praktik sihir dengan iman kristiani. Buku ini menyoroti praktik okultisme dalam terang Injil Kristus. Buku ini diterbitkan aslinya oleh penerbit milik Presbyterian Church USA, yaitu Westminster John Knox Press, yang sangat selektif dalam menerbitkan naskah. Pengarangnya pun mempunyai reputasi baik, yaitu Connie Neal, seorang pakar literatur Kristen.

Tetapi bukankah Harry Potter penuh sihir? Memang. Bahkan sihir dalam cerita Harry Potter banyak yang serupa dengan praktik dunia sihir sesungguhnya. Sampai-sampai ada tuduhan bahwa cerita Harry Potter secara terselubung bertujuan meracuni anak dengan ilmu sihir.

Jenis sastra cerita Harry Potter adalah fantasi dan berpanggung tentang sekawanan remaja yang berpetualang dengan berbekal kemampuan sihir.

***

Buku cerita fantasi memang merupakan wahana ampuh untuk mendidik anak. Jenisnya beraneka, tentang legenda dan fauna, peri dan kurcaci, epik dan profetik, pahlawan gagah berani melawan penjahat keji. Pokoknya seru! Belum lagi fiksi realistik, yang walaupun realistik namun tetap merupakan fantasi. Cerita fantasi berguna untuk mengembangkan imajinasi anak, sebab setiap orang perlu mengembangkan kemampuan berimajinasi.

Dengan membaca cerita fantasi, anak belajar membedakan antara khayalan dan kenyataan. Bisa jadi, setelah membaca cerita Harry Potter, anak ini meniru dan menyihir kucingnya, "Sim, sim salabim, kucing jadilah kau harimau!" Tetapi kucing itu malah lari ketakutan sambil mengeong. Tahulah anak ini bahwa khayalan bukan kenyataan.

Memang sejak dini anak memerlukan jenis-jenis bacaan fiksi atau non-fiksi yang beraneka ragam supaya ia mempunyai pilihan dalam mencari dan mengarahkan pembentukan jati dirinya. Kemajemukan jenis bacaan diperlukan untuk perkembangan kepribadian.

Semua itu hanya wahana. Yang penting lagi adalah tujuan, yaitu fungsi pedagogis di balik cerita. Apa nilai-nila hidup yang terkandung di dalamnya?

Cerita Harry Potter mengandung nilai-nilai pedagogis. Melalui alur yang padat rintangan dan solusi yang ditangani Harry Potter dan kawan-kawan, para pembaca melihat nilai-nilai seperti prakarsa, rasa ingin tahu, tekun, kreatif, inovatif, bersahabat, kerja sama, setia, jujur, mau berusaha dan berlelah, berani melawan yang jahat, dan banyak lainnya.

Dalam buku Injil menurut Harry Potter ini, Connie Neal mengajak kita melihat bahwa cerita Harry Potter menyiratkan banyak tema Injil Kristus yang dipraktikkan oleh para pelaku, misalnya mengampuni, mengasihi, merangkul yang tersisih, bertekun dalam derita, bermurah hati, menolong yang tidak berdaya, dan lainnya. Secara kasat mata Neal membandingkan berbagai adegan cerita Harry Potter dengan perikop-perikop dari keempat kitab Injil.

Tetapi bukankah perbuatan sihir Harry Potter berurusan dengan kuasa jahat? Memang! Justru karena itu kita diajak oleh Neal untuk menaati suruhan Kristus, yaitu menangkal kuasa jahat. Tulis Neal, "Therefore, although, they are real and dangerous, we need not cover in fear of evil spirits. Like Harry and friends, we can learn to practice Defense Against the Dark Arts, trusting that there is a greater power at work that we may not yet fully understand," Alkitab tidak menyangkal kuasa-kuasa sihir. Namun kuasa-kuasa itu dinilai tidak langgeng dan akan punah, sekalipun banyak sihirmu dan sangat kuat manteramu" (Yesaya 47:9).

Kuasa sihir sungguh ada, namun kita tidak percaya, dalam arti tidak mempercayai dan tidak mempercayakan diri kepadanya.

***

Sama seperti Harry Potter, kita pun hidup di tengah kuasa-kuasa kejahatan. Tetapi sumber pertolongan kita dalam menangkal kuasa-kuasa kejahatan itu berbeda dari Harry Potter, bahkan bertolak belakang. Justru cerita Harry Potter memawaskan kita pada sumber pertolongan kita, yaitu Kristus. Tulis Neal, "The Promised return of Jesus, the Prince of Peace, is bright opposite to the ominous expectation of the Dark Lord's return in Harry's world."

Tetapi apakah iman kristiani kita tidak jadi goyah jika membaca buku Harry Potter?

Ah, masakan! Masakan iman jadi goyah cuma gara-gara membaca dongeng? Tulis Neal, "Is our own faith so fragile that we dare not know what those of different sect of Christianity, or those of undisclosed religious persuasions, or those of different religious background are thinking?"

Cerita Harry Potter diminati dan dimusuhi. Yang suka cerita Harry Potter banyak, namun yang membencinya juga banyak. Bahkan ada gereja yang begitu sewot sehingga membakar buku Harry Potter.

Mendengar sewot-sewot itu, saya jadi berimajinasi. Apakah Tuhan juga ikut sewot? Maka saya pun mengetuk ruang belajar Tuhan. Ruangan itu penuh dengan buku. Sambil memperlihatkan buku Harry Potter, saya bertanya secara sopan, "Tuhan, maaf mengganggu sebentar. Buku Harry Potter ini menimbulkan heboh. Ada gereja yang memaki-maki pengarangnya dan membakar bukunya. Mereka sewot banget."

Kok, Tuhan tidak ikut sewot? Tuhan tersenyum, lalu Tuhan menoleh ke atas meja tulis-Nya. Astaga, ternyata di atas meja Tuhan pun ada buku Harry Potter. ***

(Penulis adalah pengarang buku-buku renungan "Seri Selamat" BPK Gunung Mulia)

Sumber: Suara Pembaruan, 21 Juli 2007

Jul 10, 2007

Anak-Anak Borobudur

Another movie worth watching: "Salahkah kita, kala berkata benar?" (EJ)

Gelitik dari Kaki Bukit Borobudur

Di sinilah dialog-dialog suara hati anak dari kaki bukit Borobudur itu diangkat oleh Arswendo. "Salahkah kita, kala berkata benar?" Itulah yang ingin disampaikan Arswendo.

AAFlm - Adegan dalam film �Anak-anak Borobudur� yang mengangkat kisah pemahat di sekitar Candi Borobudur.

Film: Anak-Anak Borobudur

Sutradara: Arswendo Atmowiloto

Pemain: Adadiri Tanpalang, Adi Kurdi, Djenar Maesa Ayu, Acintyaswasti Widianing, Lani Regina, Alexandra T Gottardo, Christine Hakim, Butet Kartaredjasa.

Skenario: Arswendo Atmowiloto

Produksi: aaFilm

Genre: Drama Keluarga

Candi Borobudur yang berada di atas sebuah bukit memang banyak menyimpan cerita. Masyarakat sekitar tentu saja punya banyak cerita soal candi nan agung itu.

Sepenggal kisah masyarakat sekitar Candi Borobudur diangkat oleh Arswendo Atmowiloto dalam film Anak-Anak Borobudur.

Seperti halnya film-film Indonesia yang mengangkat kekhasan sebuah tempat, Anak-Anak Borobudur ini pun mengangkat cerita tentang kehidupan para pemahat batu di sana. Cerita itu dibungkus dalam dialog anak-anak yang akan menghadapi tantangan zaman berikutnya.

Seperti saat menangani serial Keluarga Cemara, Arswendo masih menggunakan Adi Kurdi berperan dalam film itu. Namun masih ada nama besar lain yang ikut mendukung Anak-Anak Borobudur, seperti Christine Hakim dan Butet Kertaradjasa. Namun Arswendo juga mempercayakan pemain-pemain baru sebagai pemeran utamanya. Tersebutlah nama-nama seperti Adadiri Tanpalang, Acintyaswasti Widianing, dan Lani Regina yang menjadi pemeran utama dalam film.

Cerita skenario yang ditulis oleh Arswendo bercerita tentang sebuah kegelisahan anak-anak menyuarakan kicauan hati mereka yang sering kali mendapat tantangan orang tua. Dengan setingan lokasi sebuah desa yang dikelilingi tujuh gunung di sekitar Candi Borobudur, film ini berkisah tentang keluarga Pak Amat (Adi Kurdi) dan anaknya Amat (Adadiri Tanpalang).

Seperti masyarakat di desa itu, keluarga Pak Amat mendapat penghidupan dari keahliannya memahat dan mengukir batu. Amat seorang bocah kelas V SD memiliki kemampuan memahat turunan dari ayahnya. Bahkan kemampuan Amat ini kemudian menjadi harapan semua orang saat Amat diikutsertakan dalam sebuah lomba.

Karya patung-patung Amat diharapkan jadi pemenang dan bisa mengangkat citra sekolah, desa, kecamatan, bahkan kabupaten tempatnya tinggal. Tidak hanya teman-teman, guru, dan kepala sekolah, bahkan bupati pun memberikan perhatian khusus kepada Amat.

Tetapi Amat tidak hanya pintar menggunakan palu dan pahatnya, ia juga cerdas dan berani dengan keyakinannya. Sehingga ketika ia dinyatakan sebagai pemenang, ia menolak hadiah itu meskipun yang memberikan adalah bupatinya. Amat menolak karena ia merasa belum mengirimkan karyanya untuk diikutsertakan dalam lomba.

Patung yang disebutkan menjadi pemenang memang buatannya, tetapi ayahnya yang menyelesaikannya. Dan yang mengirimkan patung itu adalah sahabatnya yang bernama Siti (Acintyaswasti Widianing).

Sehingga ketika harus mengucapkan pidato terima kasih saat menerima hadiah, ia menyebutkan terima kasih kepada ayahnya yang telah menyelesaikan patungnya, terima kasih kepada Siti yang telah membawa patung itu kepada gurunya, dan kepada kepala sekolah yang telah mengirimnya kepada pantia perlombaan. Kontan semua yang hadir dalam acara pemberian penghargaan itu kaget dan memusuhi Amat.

Di sinilah dialog-dialog suara hati anak dari kaki bukit Borobudur itu diangkat oleh Arswendo. "Salahkah kita, kala berkata benar?" Itulah yang ingin disampaikan Arswendo dan menjadi tagline film itu.

Bagi seorang Amat, dialog-dialog yang dihadirkan dalam film itu mungkin akan terasa menggurui. Seperti misalnya ketika ia mendesak ayahnya untuk berbicara apa yang mereka rasakan sesungguhnya. Pikiran-pikiran dan keyakinan Amat serasa melebihi pandangan orang yang lebih tua darinya. Tetapi apakah salah jika Amat berlaku demikian.

Pemeran Amat, Adirda Tanpalang memang masih aktor baru, wajar saja dalam dialog-dialognya di film masih terkesan kaku. Tetapi setidaknya kehadiran Adirda dengan dialek bahasa Jawanya yang kental mampu menghidupkan karakter Amat, bocah dari Borobudur.

Sebagai bocah Borobudur, karakter Amat memang unik. Dengan supel ia mampu bermain dengan siapa saja, termasuk dengan Yoan (Lani Regina), yang sedang kesulitan beradaptasi setelah pindah dari Jakarta. Dengan wajah sumringahnya Amat mampu mendekati Yoan.

Selain itu kamera Arswendo pun menangkap potret keseharian masyarakat di sekitar Borobudur, baik kehidupan pemahat, petani, ataupun penggerak tarian. Dengan setingan pemandangan alam di sekitar Borobudur, film ini sebenarnya cocok untuk ditonton keluarga. Film yang hanya akan diputar di Jakarta, Bandung, Surabaya dan Yogyakarta itu memberikan darah baru di dunia film nasional. Kekuatan cerita. Akting pemainnya dan tentu saja teknik-teknik penggambarannya. [SP/Kurniadi]


Last modified: 9/7/07

Jul 6, 2007

Kata Serapan Yunani dalam Kamus Indonesia

Judul Buku : Kamus Kata-kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia
Penyusun : JS Badudu
Penerbit : Penerbit Buku Kompas, Cetakan I, Maret 2003
Tebal : xiv + 378 hlm

SEBAGAI profesor bahasa Dr JS Badudu berpengalaman menyusun kamus: Kamus Ungkapan Bahasa Indonesia, 1975; Kamus Umum Bahasa Indonesia, 2001; Kamus Kata-kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia (KKSADBI), 2003.

Maka, selain patut memuji dengan takzim akan pekerjaan beliau yang tak enteng itu, izinkan pula saya memberi sekelumit catatan untuk menunjukkan apresiasi bagi karya beliau yang terakhir, KKSADBI. Catatan ini khusus menyangkut kata-kata yang berhubungan dengan Yunani, bahasa yang melembaga dalam sejarah ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Menurut KKSADBI 'alokasi' berasal dari bahasa Yunani. Membaca keterangannya "penentuan banyaknya barang yang disediakan", maka sebetulnya makna itu dalam bahasa Yunani yang terpakai adalah 'anathese' atau katanome'.

Menurut KKSADBI 'asbes' dari bahasa Yunani. Keterangannya, "serat mineral dipakai dalam industri...". Jika asbes di sini sama dengan bahasa Inggris 'asbestos', maka bahasa Yunani yang terpakai adalah 'amiantos'. Sementara kata bahasa Yunani 'asbestes' artinya 'kapur'.

Menurut KKSADBI 'autopsi' dari bahasa Yunani. Padahal, bahasa Yunani untuk makna 'pemeriksaan mayat' yang sama dengan bahasa Inggris 'autopsy' sebetulnya 'nekrotome'.

Menurut KKSADBI 'dialog' berasal dari bahasa Latin. Akan tetapi, sebenarnya kata ini berasal dari bahasa Yunani 'dialogos', kalimat percakapan dalam sastra drama, juga judul karya Plato.

Menurut KKSADBI 'teater' dari bahasa Latin. Yang benar dari bahasa Yunani, 'theatron' artinya 'tempat di mana drama dipentaskan', turun dari kata 'theaomai' artinya 'berkunjung untuk menyaksikan'.

Menurut KKSADBI 'teater' dari bahasa Latin. Yang benar Yunani, dari 'thetron' artinya 'tempat di mana drama dipentaskan', turun dari kata 'theaomai' artinya 'berkunjung untuk menyaksikan'.

Menurut KKSADBI 'ekumene' dari bahasa Latin. Yang betul Yunani, dari kata 'oikoumene' artinya 'segenap wilayah bumi yang ada manusianya'. Mulanya terbatas 'dunia hellenenisme' seperti diacu Aristoteles dalam Meteorlogica (362 b 26).

Menurut KKSDBI 'evengeli' dari bahasa Latin. Yang benar Yunani, dari 'euaggelion' artinya tak lebih 'kabar baik'. Aristophanes mengacunya dalam drama komedinya Plutus (765). Selain itu, banyak pula lema yang seharusnya Yunani tetapi dalam KKSADBI disebut Belanda. Misalnya 'hierarki', 'magi', 'misteri', 'paradigma'. Yunaninya 'ierarkhia', 'magoi', 'mysterio', 'paradeigma'.

Malahan ada lema dari bahasa Yunani dalam KKSADBI disebut Perancis, khususnya 'paradiso'. Dalam bahasa Yunani 'paradeisos' artinya 'surga', diambil dari bahasa Persia 'pairi daeza' artinya 'kebun taman'. Sejarah masuknya kata bahasa Persia ini ke Yunani melalui penerjemahan filologi Ibrani LXX atau Septuaginta atas titah Raja Mesir Ptolemy II (309-247 SM).

KKSADBI mengatakan 'idola' adalah "orang atau tokoh yang dijadikan pujaan". Dalam bahasa Yunani, aslinya 'eidolon' berarti 'dewa kafir' (pagan dei). Muasalnya di abad pertama Masehi orang Yahudi yang berbahasa Yunani menyejajarkan kata ini dengan kata-kata Ibrani 'gilullim', 'terafim', 'asabh', kemudian dibuat muradif dengan 'mifletseth', 'semel', 'otseb'.

Adapun 'pornografi' dari 'porno' aslinya bahasa Yunani 'porne' berarti pelacur, 'porneia' berarti 'pelacuran', 'porneuo' berarti 'praktik sundal'. Sumber tulis Yunani sebelum Masehi tentang kata ini tersua pertama dalam karya Lucian, Alexander (5). Setelah tarikh Masehi, di abad pertama, kata ini mengacu pada persundalan di Roma dan Yerusalem, tersua dalam karya Ioanes, Apocalypsis ( 17.1).

PATUT diketahui, dalam studi teologi, bahasa Yunani dibagi dua, yaitu Yunani Sekular (untuk semua karya filologi sebelum Masehi) dan Yunani Eklesia (untuk bahasa Yunani setelah Masehi sekitar pustaka gerejawi). Banyak lema dari Yunani Sekular yang berubah makna saat ini melalui Yunani Eklesia.

Salah satu kata paling menarik dari pergantian Yunani Sekular ke Yunani Eklesia adalah 'hipokrit'. Dalam KKSADBI 'hipokrit' diartikan 'munafik'. Yang diacu KKSADBI ini adalah Yunani Eklesia. Sebelumnya, dalam Yunani Sekular, 'hipokrit', atau aslinya 'hypokrites' berarti 'aktor', pelakon drama atau penafsir peran di atas teater. Plato mengartikannya demikian dalam Republik (373 B), Sokrates menyebutnya dalam Symposium (194 B), Xenofon menyebutnya dalam Memorabilia(II 2.9).

Berubahnya 'hypokrites' menjadi 'munafik' sebab penulis evangeli dari latar Yahudi yang tak punya tradisi teater, memandang aktor dalam kesimpulan: laki-laki yang jadi perempuan, bertopeng, menangis pura-pura. Ini dihubungkan dengan kata bahasa Ibrani 'hanef' artinya 'pelaku jahat'. Sumber pertama yang mengalihkan 'hypokrites' dari aktor menjadi 'munafik' adalah sastra Yunani yang ditulis Yahudi, Maththaion( 7.5). Kini, setelah 'hypokrites' berarti 'munafik', maka sebutan untuk aktor dalam bahasa Yunani sekarang adalah 'ethopoios'.

Terakhir 'psalm'. KKSADBI benar, lema ini berasal dari bahasa Yunani. Akan tetapi, keterangannya tak tepat: "nyanyian pemujaan terhadap Tuhan dalam Injil". Yang benar, 'psalm' tidak ada hubungannya dengan Injil. Psalm, dari 'psalmos' adalah terjemahan Yunani atas kitab Ibrani, Sepher Tehillim-Klinkert menerjemahkannya sebagai 'zabur tahlil'-dan umumnya dianggap sebagai puisi-puisi tembang Daud. Sedang Injil aslinya berbahasa Yunani dan tersua dalam kitab E Kaine Diatheke. Psalm sudah ditulis seribu tahun sebelum Injil ditulis. Seharusnya yang sudah lazim, 'psalm' cukup disebut 'mazmur'.

Saya memang hanya membatas diri untuk menyimak lema-lema yang berhubungan dengan bahasa Yunani. Ini tidak berarti saya alpa memberikan apresiasi terhadap keterangan-keterangan yang diacu pada sejumlah lema yang lain. Dan, meskipun catatan-catatan saya ini menunjukkan adanya kekurangan, percayalah ini tidak mengurangi takzim saya tersebut. Seperti kata penerbitnya, "Kamus ini bukan kamus istilah, bukan juga buku yang berisi pedoman untuk mengistilahkan kosakata asing dalam Bahasa Indonesia." Jadi, ya, syabaslah. Dari situ pula kiranya apresiasi ini bertolak.

Remy Sylado - Pemerhati bahasa